Konsultasi Regional Revisi Perjanjian Lama Terjemahan Baru di Yogyakarta

“Tidak ada terjemahan Kitab Suci yang dipandang final, sebab Alkitab harus menyapa setiap generasi dengan kejelasan yang tidak luntur oleh zaman”. Demikian ditegaskan dalam pedoman bagi para penerjemah dan perevisi Kitab Suci yang dikeluarkan oleh Lembaga Alkitab Amerika (ABS) pada tahun 1961. Hal ini pula yang dipahami oleh Lembaga Alkitab Indonesia ketika hendak merevisi Alkitab Terjemahan Baru yang pertama kali terbit tahun 1974. Dalam buklet yang dikeluarkan oleh LAI (1967) dikemukakan empat alasan pokok mengapa diperlukan suatu terjemahan baru:

  1. Perkembangan Bahasa penerima
  2. Perkembangan penelitian teks sumber
  3. Perkembangan ilmu tafsir (eksegese)
  4. Perkembangan ilmu penerjemahan

Revisi Alkitab Terjemahan Baru(TB1), baik Perjanjian Lama maupun Deuterokanonika, memperhitungkan berbagai perkembangan itu dengan tetap mempertimbangkan sejarah kerja sama lintas konfesi. Proses revisi Alkitab Terjemahan Baru (TB1), seperti diungkapkan Pdt. Anwar Tjen, Ph. D, Kepala Departemen Penerjemahan LAI, memang berjalan pelan dan menuntut komitmen jangka panjang baik dari segi daya maupun dana. Kini prosesnya sudah mendekati tahap final. Proses pemeriksaan konsep revisi Perjanjian Lama TB2 saat ini sudah mencapai 90 % dan diperkirakanakan selesai seluruhnya sekitar tiga tahun lagi. Bersamaan dengan itu, konsep revisi Deuterokanonika telah selesai diperiksa seluruhnya bersama konsultan LAI bulan Februari 2015 kendati masih memerlukan penyempurnaan bahasa dan kelengkapan teks (seperti referensi dan catatan kaki).

Seperti pada peristiwa lima puluh tahun lalu, di tahun 1968, menjelang konsep terjemahan Alkitab Terjemahan Baru selesai dikerjakan oleh tim, Badan Pengurus LAI memandang perlu untuk melakukan konsultasi denga gereja-gereja, lembaga-lembaga Kristiani, seminari/ sekolah tinggi teologi, para pemerhati bahasa, dan berbagai kalangan pengguna Alkitab. Tujuan utamanya adalah untuk menampung kritik dan saran dari umat pengguna Alkitab. Agar Alkitab yang dihasilkan betul-betul berterima di tengah-tengah umat Tuhan pengguna Alkitab. Melanjutkan tradisi kebersamaan yang telah dirintis oleh generasi pendahulu, LAI kembali mengundang para mitranya baik dari kalangan Protestan maupun Katolik, untuk duduk bersama mencermati dan memberi masukan terkait konsep revisi Terjemahan Baru yang telah dikerjakan oleh tim. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi pertama, dari tiga kota yang ditetapkan sebagai lokasi konsultasi regional untuk tahun 2017. Selama empat hari dari 19-22 Juli 2017, 30 utusan yang terdiri dari para pakar Biblika, pakar Bahasa Indonesia, mahasiswa-mahasiswa teologi dan utusan-utusan gereja hadir di Pusat Pendidikan Profesional dan Pengembangan Spiritualitas, Universitas Kristen Duta Wacana,Yogyakarta untuk menghadiri Konsultasi dan Lokakarya Revisi Alkitab Terjemahan Baru. Pdt. Dr. Daniel K. Listyabudi, pelayan firman dalam Ibadah Pembukaan, mendasarkan dari Yohanes 17, bahwa tanggung jawab setiap umat adalah menjadi saksi pemberitaan dari Kabar Sukacita dalam Yesus Kristus. Dalam doanya Kristus berharap agar umat Tuhan satu, tujuannya jelas agar dunia tahu, bahwa Bapa yang mengutus Kristus. Konsultasi ini menurut Pdt. Daniel memiliki tiga tolak. Pertama, misiologi, di mana Alkitab hasil dari revisi ini nantinya menjadi dasar pemberitaan Kabar Sukacita kepada semua orang. Titik tolak kedua, eklesiologi, di mana semua utusan gereja dan lembaga dari berbagai latar belakang, bersatu untuk memberikan masukan, tanggapan bahkan kritikan agar revisi ini nantinya mengeluarkan hasil yang terbaik untuk kebutuhan umat. Yang ketiga, kasih. Penerjemahan Alkitab pada dasarnya adalah wujud pernyataan kasih Allah akan dunia. Kasih Allah untuk semua tersebut dibuktikan dengan Allah yang bersedia menyapa manusia dalam berbagai bahasa yang digunakan manusia di seluruh penjuru dunia. Semua bahasa suci di mata Tuhan.

Rm. Indra Sanjaya salah satu pembicara kunci menyatakan, pertemuan seperti konsultasi regional ini sebenarnya sesuatu yang boleh dikatakan mengasyikan karena jarang terjadi. Karena terakhir kali ada konsultasi terkait terjemahan Kitab Suci terjadi pada 1968 di Cipayung. Berlangsungnya mungkin 50 tahun sekali. Maka forum pertemuan harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Rm. Indra memandang pertemuan seperti ini merupakan bukti penyelenggaraan Ilahi dan menegaskan pernyataan Pdt. Daniel Listyabudi, alangkah indahnya ketika semua perwakilan gereja-gereja hadir dan menjadi satu (Ut Omnes Unum Sint). Dan forum yang menyatukan adalah Firman Allah. Sepanjang empat hari peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk membahas dan menanggapi beberapa bagian naskah Perjanjian Lama maupun Deuterokanonika hasil pekerjaan tim perevisi. Diskusinya sering kali alot, keras dalam menanggapi ayat-ayat hasil terjemahan. Tampaknya semua yang hadir sangat berharap, Alkitab hasil revisi ini nantinya akan memiliki mutu yang lebih baik dari edisi sebelumnya. Saat diskusi menemui jalan buntu, tak jarang Pdt. Anwar Tjen, yang berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya, mengingatkan bahwa Alkitab ini nantinya Alkitab ini digunakan ditengah-tengah umat, yang sebagian besar merupakan kaum awam(bukan teolog). Sehingga bahasanya sekiranya memungkinkan harus bisa dipahami oleh umat.

Mewakili Pengurus Lembaga Alkitab Indonesia, Pdt. Dr. Robinson Rajaguguk mengucapkan terima kasih atas kehadiran para mitra dari berbagai latar belakang keilmuan dan gereja. Melalui Konsultasi Regional ini LAI dengan terbuka menerima semua masukan, kritikan dan antusiasme dari para pakar dalam menanggapi konsep terjemahan yang telah dikerjakan tim revisi. Pdt. Robinson juga menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2016, telah diselenggarakan tiga kali konsultasi regional, di Manado, Maumere dan Medan. Pada tahun 2017, LAI kembali menyelenggarakan konsultasi di tiga lokasi, yaitu: di Yogyakarta, Pontianak dan Jayapura. Puncaknya pada awal 2018 nanti akan diselenggarakan Konsultasi Nasional di Cipayung, Jawa Barat. Konsultasi nasional nantinya akan menampung saran-saran dari pimpinan-pimpinan gereja dalam finalisasi serta persiapan penerbitan Alkitab TB2. Semoga Tuhan terus menyertai dan memberkati pekerjaan besar ini, dan agar lewat terjemahan ini umat Tuhan di Indonesia menjadi satu dan agar semakin banyak orang yang memperoleh hidup baru di dalam Kristus.[keb]