PROFIL “MENGIKUTI JEJAK LEIJDECKER”
“Mengikuti Jejak Leijdecker” diterjemahkan dari “In Leijdeckers Voetspoor” yang ditulis oleh J.L. Swellengrebel dalam 2 jilid dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda dalam dua seri (78/1974 dan 82/1978) dari Verhandelingen yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).
Jilid pertama (1820-1900) berisi informasi tentang upaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang diawali dengan penerbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu pada tahun 1629 dan terus berlanjut hingga abad ke-20. Masing-masing bab memberi perhatian khusus pada suatu bahasa, yaitu bahasa Jawa, Dayak Ngaju, Batak, Makassar dan Bugis, Melayu, Sunda, dan Nias.
Dari uraian menegai penerjemahan dalam bahasa-bahasa tersebut tampak ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan terjemahan Alkitab dan perkembangan umat. Selain itu, sejarah memperlihatkan bagaimana upaya penerjemahan Alkitab ternyata juga memberi kontribusi pada pengembangan bahasa ke tataran ilmiah dengan penerbitan kamus dan buku tata bahasa.
Jilid kedua (1900-1970) berisi berisi informasi penerjemahan Alkitab tahun 1900-1970, suatu periode yang ditandai dengan kemandirian beberapa gereja lokal, perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, dan semakin berperannya orang Indonesia dalam proses penerjemahan. Dalam periode ini, beberapa terjemahan mengalami revisi yang kini melibatkan sinode gereja setempat.
Jika dalam jilid 1, bab-bab berkonsentrasi pada penerjemahan bahasa daerah, maka dalam jilid kedua fokus bab terletak pada orang-orang tertentu yang dianggap memainkan peranan penting dalam penerjemahan Alkitab, a.l. N. Adriani, S.J. Esser, H. Kraemer, dll.
Dalam periode ini, yaitu ada tahun 1954, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) berdiri dan secara bertahap mengambil alih tugas Lembaga Alkitab Belanda di Indonesia. Penerjemahan pertama lembaga yang baru ini adalah Alkitab Terjemahan Baru bahasa Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1974. Dalam proses pengerjaannya, terjemahan ini kemudian menjadi upaya kerja sama dengan Gereja Katolik sehingga Alkitab Terjemahan Baru menjadi satu dari sedikit terjemahan yang berstatus interkonfesional. Selain itu, Terjemahan Baru ini juga menjadi sarana penting sebagai bagi hubungan dan kerja sama ekumenis gereja-gereja yang dalam lingkungannya sendiri banyak menggunakan bahasa daerah.
Penulis buku, J.L. Swellengrebel, adalah konsultan penerjemahan pada Lembaga Alkitab Belanda. Disertasinya tentang bahasa Jawa kuno. Ia tinggal hampir 20 tahun di Bali dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Bali. Selain itu, ia juga terlibat dalam komisi penerjemahan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (1974). Swellengrebel adalah salah satu penulis buku-buku pedoman bagi penerjemahan (A Translator’s Handbook) yang diterbitkan UBS
Edisi dalam bahasa Indonesia melibatkan Ahli sejarah gereja Dr. Th. Van den End, A. Hadiwiyata (LBI), Marie Hummel-Parera, dan P.G. Katoppo.
