Home | Program | Publikasi | Tulisan | Galeri |About Us

 

Mengikuti Jejak Leijdecker ( In Leijdecker's Voetspoor)

Selama satu dasawarsa terakhir terasa bahwa telah terjadi semacam kebangkitan rasa keber”agama”an di Indonesia, secara khusus tampak melalui kedekatan pada Kitab Suci. Kedekatan tersebut tergambar a.l. dari pertanyaan dan pernyataan kritis seputar Alkitab yang disampaikan dalam berbagai kesempatan dan media kepada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Spektrum pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan melebar mulai dari sekadar salah cetak, keliru terjemahan, sampai kepada masalah substansial penerjemahan itu sendiri, misalnya makna sebenarnya suatu kata dalam bahasa sumber maupun bahasa sasaran, perbedaan terjemahan dalam berbagai versi Alkitab yang terjadi karena perbedaan tafsiran bahka ideologi, dll. Secara positif paling tidak dapat disimpulkan bahwa Alkitab telah semakin dibaca dan dengan cara yang kritis pula. Sambil menanggapi pertanyaan dan pernyataan di atas, boleh dikatakan bahwa secara internal berkembang wacana tentang paradigma baru bagi pelayanan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), dari lembaga yang menerjemahkan, menerbitkan, dan mendistribusikan Alkitab, menuju kepada fungsi-fungsi tambahan sebagai lembaga yang melaksanakan tugas pencerahan atas terjemahan Alkitab dan Biblika. Wacana tersebut di atas lalu bermuara pada pendirian Pusat Pengkajian Biblika (PPB) pada 1 September 2003. Pengurus Yayasan LAI melihat pendirian PPB sebagai wujud komitmen LAI dalam membantu dan memperlengkapi Gereja dan umat Kristiani dari berbagai denominasi dalam tidak saja memiliki Alkitab tetapi juga memahami apa yang tertulis di dalamnya.

PROFIL “MENGIKUTI JEJAK LEIJDECKER”

“Mengikuti Jejak Leijdecker” diterjemahkan dari “In Leijdeckers Voetspoor” yang ditulis oleh J.L. Swellengrebel dalam 2 jilid dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Belanda dalam dua seri (78/1974 dan 82/1978) dari Verhandelingen yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).

Jilid pertama (1820-1900) berisi informasi tentang upaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang diawali dengan penerbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu pada tahun 1629 dan terus berlanjut hingga abad ke-20. Masing-masing bab memberi perhatian khusus pada suatu bahasa, yaitu bahasa Jawa, Dayak Ngaju, Batak, Makassar dan Bugis, Melayu, Sunda, dan Nias.

Dari uraian menegai penerjemahan dalam bahasa-bahasa tersebut tampak ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan terjemahan Alkitab dan perkembangan umat. Selain itu, sejarah memperlihatkan bagaimana upaya penerjemahan Alkitab ternyata juga memberi kontribusi pada pengembangan bahasa ke tataran ilmiah dengan penerbitan kamus dan buku tata bahasa.

Jilid kedua (1900-1970) berisi berisi informasi penerjemahan Alkitab tahun 1900-1970, suatu periode yang ditandai dengan kemandirian beberapa gereja lokal, perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, dan semakin berperannya orang Indonesia dalam proses penerjemahan. Dalam periode ini, beberapa terjemahan mengalami revisi yang kini melibatkan sinode gereja setempat.

Jika dalam jilid 1, bab-bab berkonsentrasi pada penerjemahan bahasa daerah, maka dalam jilid kedua fokus bab terletak pada orang-orang tertentu yang dianggap memainkan peranan penting dalam penerjemahan Alkitab, a.l. N. Adriani, S.J. Esser, H. Kraemer, dll.

Dalam periode ini, yaitu ada tahun 1954, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) berdiri dan secara bertahap mengambil alih tugas Lembaga Alkitab Belanda di Indonesia. Penerjemahan pertama lembaga yang baru ini adalah Alkitab Terjemahan Baru bahasa Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1974. Dalam proses pengerjaannya, terjemahan ini kemudian menjadi upaya kerja sama dengan Gereja Katolik sehingga Alkitab Terjemahan Baru menjadi satu dari sedikit terjemahan yang berstatus interkonfesional. Selain itu, Terjemahan Baru ini juga menjadi sarana penting sebagai bagi hubungan dan kerja sama ekumenis gereja-gereja yang dalam lingkungannya sendiri banyak menggunakan bahasa daerah.

Penulis buku, J.L. Swellengrebel, adalah konsultan penerjemahan pada Lembaga Alkitab Belanda. Disertasinya tentang bahasa Jawa kuno. Ia tinggal hampir 20 tahun di Bali dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Bali. Selain itu, ia juga terlibat dalam komisi penerjemahan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (1974). Swellengrebel adalah salah satu penulis buku-buku pedoman bagi penerjemahan (A Translator’s Handbook) yang diterbitkan UBS

Edisi dalam bahasa Indonesia melibatkan Ahli sejarah gereja Dr. Th. Van den End, A. Hadiwiyata (LBI), Marie Hummel-Parera, dan P.G. Katoppo.

About Us | Site Map | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 Lembaga Alkitab Indonesia