Langit yang Baru dan Bumi yang Baru:

Menyongsong Masa Depan Bersama [1]

Joas Adiprasetya

Sedikit Catatan Pengantar

  1. Menyongsong Masa Depan Bersama. Tema konven ini tentu ber­awal dari kesadaran bahwa sejarah berlanjut dan berjalan terus. Setiap hari, bahkan setiap detik, kita menyongsong masa de­pan yang memasuki hidup kita. Jadi, benar yang dikatakan van der Meulen bahwa masa depan adalah ke­nya­taan yang paling sejati, karena masa lalu telah tiada dan masa seka­rang hanya tampil sekilas dan segera menjadi masa lalu. Masa depan dengan demikian bukan suatu masa yang sama sekali asing. Ia hadir terus menerus mengganti­kan masa se­ka­rang yang hanya sekilas lewat dalam hidup. Saat saya meng­ucapkan s-e-k-a-r-a-n-g, huruf s telah pudar ketika saya menyongsong huruf e.
  2. Karena itu, saya lebih senang memakai kata ”menyong­song” tinimbang ”memasuki,” karena masa depan memang selalu menghujami kita dari saat ke saat. Masa depanlah yang aktif memasuki kita dan bukan kita yang memasuki masa depan. Ini menjadi penting ketika dikaitkan dan di­ikatkan dengan kesadaran bahwa gerakan silam-kini-esok adalah karya Allah sendiri. Allah yang membuat waktu ini berjalan terus-menerus. Dan dalam arus sejarah inilah Ia menyediakan masa depan yang senantiasa baru, secara terus-menerus.
  3. Dengan kesadaran ini, maka kairos adalah moment dan kesempatan untuk hidup secara aktual dalam kilatan ”seka­rang” yang segera hilang dan akan muncul kilatan ”seka­rang” berikutnya. Dan semua ”sekarang” ini disuplai oleh ”esok” yang belum ada, namun segera ada dan segera pula tidak ada lagi. Maka percumalah bagi kita untuk melarikan diri ke masa depan, karena masa depanlah yang akan berlari ke dalam hidup kita. Yang kita perlukan adalah berlari ”sekarang” – menentang kilatan arus sejarah menuju masa lalu – agar kita tidak terseret ke dalam ”sekarang” yang seki­las segera menjadi ”masa lalu”, sembari mengarahkan hidup ke masa depan yang segera datang.
  4. Kita tak dapat mempercepat waktu agar masa depan lebih cepat datang. Ia datang terlalu cepat. Kita tak dapat pula membuat kembaran keadaan masa depan di masa kini, karena segera ia akan menjadi masa lalu. Satu-satunya cara adalah menanti secara aktif – melakukan antisipasi! –masa depan itu muncul dan dialami.

Hanya saja memang dalam perspektif iman, ketika kita membaca Kitab Wahyu, kita mendapati satu kenyataan bahwa si pelihat (Yoha­nes) diizinkan oleh Pemilik masa depan untuk menengok sedikit potret masa depan. Potret masa depan itu disingkapkan (disclosed) agar ia bisa membagikan kepada pemba­ca­nya, persiapan apa yang mus­ti dikerjakan ketika masa depan akhirnya tiba. Itu sebabnya kitab ini menjadi sebuah kitab apokaliptis (yang berarti: penyingkapan). Se­sua­tu yang belum terjadi di masa depan disingkapkan, bukan agar kita menuju ke sana, melainkan agar kita mempersiapkan diri ketika ia ha­dir. Hanya saja, keunikan apokaliptisme kristiani adalah bahwa masa depan indah itu akan hadir terus-menerus, bukan hadir sekali untuk selamanya (epafax). Ia akan selalu menjadi kenya­taan kini (hic et nunc).

Dalam perspektif ini juga kita bisa mulai memahami ucapan Allah kepada si pelihat dalam Wahyu 1:19, ”Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.” Apa yang disingkapkan itu telah menjadi menjadi kenyataan sekarang dan akan terjadi terus-menerus, secara baru se­nan­tiasa.

Ayat 1-2: Kenyataan Baru

  1. Pada ayat 1 dengan jelas dinyatakan bahwa si pelihat me­nyaksikan langit yang baru dan bumi yang baru. ”langit dan bumi” memang se­la­lu menjadi ungkapan biblis untuk me­nun­juk keseluruhan kenyataan semesta ciptaan Allah (Kej. 1:1). Kini, apa yang telah diciptakan Allah itu akan dijadikan baru. Kata ”baru” (kainos) tidak mengandung pengertian ”sesuatu yang lain”, tetapi ”sesuatu yang menjadi baru.” Atau, dengan kata lain, terdapat sekali­gus kontinuitas dan diskonti­nuitas. Langit dan bumi baru adalah langit dan bu­mi yang sama yang diciptakan Allah (konti­nuitas), na­mun ia dicipta ulang, diperbarui (dis­kontinuitas). Konti­nuitas dan diskontinuitas ini diteguhkan kem­bali dengan kata-kata ”la­ngit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.” Langit dan bumi yang telah ter­cip­ta itu tetap ada, namun dengan wajah yang sama sekali baru. Di dalam­nya terjadi proses re-kreasi.
  2. Ketika penciptaan awal samudera atau laut sebagai simbol kaos (chaos) dikalah­kan ketika ”Roh Allah melayang-layang di atas permu­kaan air” (Kej. 1:2), kini laut pun secara total lenyap. Laut sebagai kuasa jahat yang berbahaya amat kerap muncul sepanjang Alkitab (Ayb. 38:8-11; Mzm. 89:10; Yes. 57:20; Mrk. 4:35-41).
  3. Pembaruan dan penciptaan-ulang itu tidak saja berlaku bagi semesta ini namun juga bagi setiap manusia di dalamnya. Pada ayat 2 si pe­lihat menyatakan bahwa ”kota yang ku­dus, Yerusalem yang baru, tu­run dari surga, dari Allah …” Kota (Yun. polis) dalam teologi Wahyu selalu berarti orang­nya, komunitas manusiawi, bu­kan wila­yah dan bangunan­nya. Akan muncul kemanusiaan yang baru, ”yang turun dari surga, dari Allah”, artinya, akan muncul kemanusiaan yang hi­dupnya secara mutlak bergantung dan berasal dari Allah sendiri.

Di sini si pelihat meneruskan tradisi yang telah muncul dalam nubuat­ nabi Yesaya mengenai langit-bumi-baru, yang selalu dikaitkan dengan kota Yerusalem baru (Yes. 65:17-18; Why. 21). Langit-bumi-baru bukanlah semesta hampa tanpa penghuni. Ia amat konkret dan manusiawi, karena dibarengi dengan hadirnya kota manusiawi ”Ye­ru­­salem.”

Pemahaman bahwa kota itu adalah orangnya ditekankan kembali dengan simbolisasi ”pengantin perempuan yang berdandan untuk sua­­minya. ”Simbol­isasi ini ingin menekankan bahwa Allahlah ”sua­mi” yang sah dari umat baru itu (Yes. 61:10). Ungkapan ”turun dari surga” me­nyiratkan bahwa kenyataan baru itu teralami di bawah sini. Maka manusia masa kini diajak untuk menga­rahkan hidup ke masa depan itu, namun tetap di bawah sini, bukan untuk berpindah ”ke atas,” karena yang di atas pun turun ke bawah. Tujuan akhir manusia bukanlah surga di atas, melainkan langit-bumi-baru di bawah, karena Dia Yang Di Surga rela turun ke bawah, bahkan berkemah di antara kita (ay. 3).

Dalam diskusi eskatologi, pemahaman akan datangnya langit-bumi-baru yang transendental – di luar dan di atas manusia – ini diwakili misalnya oleh Karl Barth muda, Paul Althaus, dan Paul Tillich. Gagasan ini ditolak oleh Jürgen Moltmann (yang saya sepakati) yang bercorak imanen-historis. Langit-bumi-baru tidak berada di luar atau di atas manusia, namun di depan manusia, terjadi di bumi yang telah Allah ciptakan ini. Pengha­rap­an kristi­ani harus setia terhadap bumi di mana salib Kristus tertancap dan kubur Kristus terkuak. Ia tidak menanti suatu dunia lain di angan-angan, tetapi ia berada dalam sejarah. Allah membangunnya de­ngan ”batu-batu” dari dunia kita ini.

Ayat 3-4: Ibu bagi Anak-anaknya

  1. Kemudian kita membaca dalam ayat 3-4 bahwa si pelihat mende­ngar­kan suara nyaring dari tahta itu, ”sebuah nya­nyian  kecil” dari malaikat (E. Lohmeyer). Isi nyanyian kecil hampir seluruhnya adalah kutipan nubuat para nabi Perjan­jian Lama; semuanya dikomposisi menjadi sebuah nyanyian yang indah. Di sini semua kerinduan manusia beriman sepanjang masa terang­kum. Yesus tidak meniada­kan Perjan­jian Lama, justru sebaliknya Ia memungkinkan semua yang didengungkan para nabi itu terwujud.

Wahyu 21:3-4

Perjanjian Lama

"Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Me­re­ka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka …

Tempat kediaman-Kupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan men­jadi umat-Ku. (Yeh. 37:27)

… Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata m­ereka, dan maut tidak akan ada lagi …

Ia akan meniadakan maut untuk se­te­rusnya; dan Tuhan Allah akan meng­hapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauh­kan-Nya dari seluruh bumi, sebab Tuhan telah mengatakannya. (Yes. 25:8)

… tidak akan ada lagi per­kabungan, atau ratap tangis, atau dukacita …

Aku akan bersorak-sorak karena Ye­ru­salem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengar­an lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak. (Yes. 65:19)

… sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! (Yes. 43:18)

  1. ”Kemah Allah” di sini harus dikaitkan dengan Wahyu 21:22, yang menyatakan tidak ada lagi Bait Suci, karena Allah sen­diri menjadi Bait-Nya. Ia berdiam bersama manusia dalam relasi yang begitu akrab dan mesra (”Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka”). Terjemahan yang terbaik untuk kalimat ”Mereka akan menjadi umat-Nya” mungkin adalah, ”Mereka akan menjadi umat-umat-Nya” (kata yang dipakai di sini berbentuk jamak, yaitu laoi dan bukan laos). Dalam Perjanjian Lama kita melihat bagai­mana Allah berjanji untuk menjadikan Israel sebagai umat-Nya, namun kini janji itu diperluas kepada segala bang­sa, Yahudi maupun bukan Yahudi. Muncul kemanusia­an baru yang sekalipun berbeda namun bersatu.

    When Christianity talks about hope, it is talking about the future of the world, mankind and nature, in whose history it is, in practical terms, involved. Living hope is always connected with relationship. Even where hope is understood purely personally, it is connected with man’s rela­tionship to himself and in this way with his relationship to God. Escha­tology is always only specific as relational eschatology. (Moltmann: 19, 134)

  2. Banyak penafsir melihat bahwa kata ”kemah” di sini menyi­ratkan pengertian kesementaraan, menunjuk pada kemah yang mudah dibongkar dan dipasang. Tetapi, sebenarnya kata ”kemah” ini merupakan ingatan akan ”masa bulan ma­du” (von Rad) Israel dan Allah di padang gurun. Di ”ke­mah” itulah kemuliaan Allah ditinggikan. Itu sebabnya kata ”kemah” (skene) sering diasosiasikan dengan kata ”kemu­lia­an Allah” (syekinah).
  3. (d)        Sungguh luar biasa kemudian muncul sosok Penghibur yang ”menghapus segala air mata dari mata mereka” (ay. 4a). Di tengah budaya religius yang menekankan fungsi dewi kesuburan, maka Israel menekankan kebapaan Allah. Namun dalam kasus dan kesempatan khusus, simbolisasi Allah selaku Ibu muncul dan tradisi ini diulangi lagi dalam penglihatan Wahyu ini. Ungkapan ”Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka” jelas menggaungkan feminisitas Allah yang dinyatakan dalam Yesaya 66:13, ”13  Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem” (bnd. Yes. 25:8).

Ayat 5-6: Segalanya Baru di dalam Dia

  1. Kini fokus beralih pada Allah Raja yang ”duduk di atas tahta” (ay. 5) yang menyatakan firman-Nya, ”Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Si pelihat diminta untuk meyakini bahwa Allah yang sanggup menciptakan semesta dari ketiadaan (creatio ex nihillo) itu kini sanggup memper­barui ciptaan-Nya (creatio ex creationis). Kenyataan pemba­ruan itu sedang terjadi. Kata ”menjadikan” di sini secara gramatis menunjukkan sebuah proses ”menjadikan” yang berlangsung terus-menerus, sedang dan akan terus terjadi.

                               ”I am making everything new!” (NIV)

                               ”See, I am making all things new.” (NRSV)

    Namun kemudian di ayat 6a kita mendapati pernyataan bahwa semua proses pembaruan itu sudah terjadi. Kenyataan baru itu adalah sebuah proses dialektis antara sudah dan sedang … akan tentu akan terus berlangsung.

    Dialektika sebelumnya tampak pada undangan Tuhan, ”Lihat­lah!” (ay. 3). Betapa dialektisnya ucapan Allah itu … Sementara da­lam keseharian kita ”melihat” kengerian dan kekacauan langit-bumi-lama, kini Allah mengundang kita, ”Lihatlah!” (ay. 3) … Lihatlah langit-bumi-baru itu. Dalam perspektif masa kini kita diperhadapkan pada tata hidup lama yang menyedihkan, sekaligus diminta untuk melihat tata hidup baru yang Tuhan janjikan.

    Apa yang sudah mulai dialami ini memberi dasar bagi kita untuk tetap percaya pada janji masa depan itu. Di sini saya sepakat dengan Moltmann yang menegaskan bahwa janji Allah itu harus punya dua pusat. Pertama, janji masa depan adalah ”adventus” (menanti yang akan datang), sehingga kita perlu melakukan anti­si­pasi. Kedua, janji masa depan menjadi ”futurum” (menggapai yang akan jadi), sehingga kita perlu melakukan perencanaan. Peren­canaan membatasi diri pada yang dapat diperhitung­kan/di­ramalkan, sedangkan antisipasi adalah sikap sedia menerima apa yang belum mungkin dipikirkan.

  2. Kemudian pada ayat 6 Allah mengulangi perkataan dalam 1:8, ”Aku adalah Alfa dan Omega – huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani –, Yang Awal dan Yang Akhir.” Dengan ini Allah menyatakan diri sebagai penguasa Pemesta dan sejarah dunia. Ia adalah sumber arkeologi iman (awal, arche) sekaligus dasar teleologi pengharapan (tujuan, telos). Ia adalah sumber dan tujuan segala kenyataan. Kali­mat ini kemudian memberi makna pada apa yang dituliskan oleh Paulus sebagai statement imannya, ”Sebab segala sesua­tu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia” (Rm. 11:36; bnd. 1 Kor. 15:28). Justru karena itulah setiap orang dimungkinkan untuk hidup dari-Nya, ”Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehi­dupan” (ay. 6b).

Ayat 7-8: Dua Pilihan

Kini dua pilihan disodorkan. Akankah kita menjadi orang-orang yang ”menang” (ay. 7) atau orang-orang yang men­dapat bagian dalam kematian (ay. 8). Sekalipun langit-bu­mi-baru itu adalah prakarsa Allah sepenuhnya, manusia diberi kemungkinan untuk memilih dan menentukan ya-tidaknya. Kata ”menang” di sini mengandaikan bahwa ma­nu­sia – si pemenang itu! – berjuang dan berusaha. Mereka menang karena menolak hidup dalam tata nilai lama (ay. 8) yang berlawanan dengan langit-bumi-baru; sekaligus mere­ka menang karena ikut berperan dalam proses pembaruan langit-bumi-baru ini.

Kemenangan itu adalah upaya dan perjuangan manusia untuk ikut serta dalam karya Allah menghadirkan langit-bumi-baru. Dalam kerangka inilah promissio (janji) Allah mengandung suruhan missio (misi, tugas) manusia.

Refleksi dan Kesimpulan Akhir

Ia memberikan janji sekaligus suruhan misi.


[1] Tulisan ini mula-mula berupa makalah yang disampaikan dalam dua kesempatan, yaitu konven pendeta-pendeta GKI Jawa Tengah 1999 dan Pertemuan Wanita Pra Sidang Raya PGI 1999.