STUDI SINGKAT

ALTERNATIF PENERJEMAHAN
FILIPI 1:3-5 [1]

Kuo-Wei Peng 

Tulisan ini berawal dari permintaan seorang mahasiswa teologi di Taiwan pada penulis untuk mengklarifikasi struktur gramatikal ayat-ayat di atas.  Penulis menganalisisnya dan  hasilnya diberikan ke­pa­danya. Tapi, penulis lalu sadar bahwa hasil analisis tersebut ber­beda dengan semua terjemahan yang ada.

NRSV (1989) menerjemahkannya demikian:

3I thank my God every time I remember you, 4constantly praying with joy in every one of my prayers for all of you, 5 because of your sharing in the gospel from the first day until now.

TEV (1994) memberikan terjemahan:

3I thank my God for you every time I think of you; 4and every time I pray for you all, I pray with joy 5because of the way in which you have helped me in the work of the gospel from the very first day until now.

Terjemahan CEV adalah:

3I thank my God for you every time I think of you; 4and every time I pray for you all, I pray with joy 5because of the way in which you have helped me in the work of the gospel from the very first day until now.

Terjemahan penulis sendiri adalah sebagai berikut:

I thank my God because of your every remembrance [of me].  In every prayer of mine on behalf of you all, always I prayed with joy.  [I thank my God also] because of your sharing for the Gospel cause from the first day until now. (= Aku bersyukur kepada Allah karena kamu selalu mengingat [akan aku]. Dalam setiap doaku atas nama kamu, aku selalu berdoa dengan sukacita. [Aku juga bersyukur kepada Allahku] karena kamu mengambil bagian dalam  [Berita] Injil sejak hari pertama sampai sekarang).

Dalam teks aslinya, ada dua klausa ‘¯p°’ (epi) di sini, yakni dalam ay. 3 (‘¯p± p€sŪ mne°‹ Ćmņn’ – epi pasee tee mneeia humoon) dan dalam ay. 5 (‘¯p± koinwn°‹ Ćmņn . . .’ --  epi tee koinoonia humoon). Menurut hemat penulis, kedua klausa itu memang ditempatkan dengan sengaja seperti itu untuk menjadi dasar atau alasan bagi frasa ‘caristņ tž qež mou’ (eukaristoo too teoo mou = Aku mengucap syukur kepada Allahku’,  TB-1, red) dalam awal ayat 3. Sementara itu, banyak terjemahan tampaknya mempunyai alasan tertentu untuk tidak memandang penempatan klausa itu seperti demikian. Handbook untuk penerjemahan Alkitab yang diterbitkan oleh UBS (sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh LAI, red) untuk surat Filipi memberikan dua alasan mengapa tidak menerjemahkan  ‘¯p± p€sŪ mne°‹ Ćmņn’  (epi pasee tee mneeia humoon) dengan ‘karena kamu selalu mengingat [aku]’. Pertama, perkataan of me (‘akan aku’) tidak ditemu­kan dalam teks Yunani. Kedua, kata remembrance (meng­ingat) muncul berulang kali dalam ayat-ayat pembukaan surat-surat Paulus (Rm. 1:9; Ef. 1:16; Flm. 4). Dalam ayat-ayat tersebut, kata itu berhu­bungan erat dengan ‘ucapan syukur’ dan digunakan dalam arti ‘me­nyebut dalam doa’ atau ‘mengingat dalam doa’.

Pendapat yang sama ditemukan juga dalam komentar Gerald F. Hawthorne terhadap surat Filipi dalam seri WBC (Word Book Com­mentary).  Ia  menekankan bahwa kalau melihat  penggunaan Paulus akan kata mne°a (mneeia) dengan kasus genitif yang ditemukan di mana-mana dalam surat-suratnya, jelas sekali bahwa dia sendirilah (atau dia dan teman-temannya) yang mengingat atau menyebut orang lain, dan bukan sebaliknya (Rm. 1:9; Ef. 1:16; 1Tes. 1:2; Flm. 4). Selain itu, Hawthorne juga memberikan semacam Sitz im Leben bahwa Paulus bisa jadi mencermati praktik di dalam PL di mana orang-orang saleh berdoa pada serangkaian waktu  (bnd. Mzm. 5:3; Ezr. 9:5; Mzm. 55:17; Dan. 6:10; 1Taw. 23:30). Dan, bahwa ‘¯p± p€sŪ’ (epi pasee)  ke­mung­kinan menunjuk kepada  semua yang  dikatakan Paulus di da­lam doanya setiap kali ia berdoa. Karena itu, meskipun Hawthorne mengakui kemungkinan penerjemahan ‘karena kamu mengingat (akan aku)’, namun ia merasa bahwa data yang ada tam­pak­nya tidak mendukung penafsiran demikian.

Bisa jadi memang ada alasannya mengapa penafsiran ‘karena ka­mu mengingat (akan aku)’ belum dipakai oleh banyak penerjemah Alkitab pada masa silam. Akan tetapi, cukup kuatkah pertimbangan-pertimbangan ini dipergunakan untuk mengesampingkan kemung­kin­an bahwa frasa ini dapat dipahami sebagai ‘karena kamu meng­ingat (akan aku)’? Penulis kira tidak begitu. Sebaiknya, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, kita dapat mengatakan bahwa makna klausa tersebut sepertinya adalah ‘ketika setiap kali aku mengingat kamu’. Meskipun demikian, itu tidak harus mendorong kita menarik kesimpulan bahwa penafsiran ‘karena kamu mengingat (akan aku)’ seluruhnya menjadi tidak mungkin.

Pandangan Alternatif dan Argumen

Berikut ini saya menawarkan beberapa argumen balik mengenai hal itu. Pertama, alasan bahwa perkataan ‘akan aku’ tidak ditemukan dalam naskah Yunani, barangkali tidak dapat dikatakan sebagai argumen yang kuat. Dikatakan demikian karena tata basa Yunani tidak membolehkan penggunaan subjektif dari kasus genitif untuk menaruh objek dalam susunan kalimat itu, kecuali kalau nominalnya adalah sebuah partikel. Dalam hubungan dengan persoalan di atas, yang digunakan adalah kata benda ‘mne°’ (mneeia) dan bukan partikel ‘mnjmoneĄonti’(mneemoneuonti). Karena itu, tidak ditemukan­nya ungkapan ‘akan aku’ tampaknya tidak dapat dihindarkan jika klausa ini menjadi sebuah kasus genitif subjektif. Kedua, meskipun penggunaan kata ‘mne°a’ (mneeia) dan kasus genitif yang dikaitkan dengan yang ada dalam Roma 1:9; Efesus 1:16; dan Filemon 4 dimaksudkan untuk dipahami sebagai peng­gunaan genitif objektif, namun perlu dicermati bahwa tidak satu pun yang muncul sesudah kata depan ‘¯p±’ (epi).  Dengan demikian, argumen ini tidak menentukan karena konteksnya bisa jadi mempunyai kontribusinya bagi semantik genitif.

Sesungguhnya, jika kita meneliti semua penggunaan rumusan ‘eĒcaristņ tž qež mou’ (eukaristoo too teoo mou) dalam surat-surat Paulus (Rm. 1:8; 1Kor. 1:4; 14:18; Flp. 1:3; Flm. 4),maka hanya yang ada dalam 1 Korintus 1:4 dan Filipi 1:3 yang diikuti oleh ‘¯p±’ (epi) dengan sebuah kasus datif yang dimodifikasi  oleh sebuah genitif. Yang menarik lagi adalah bahwa dalam 1 Korintus 1:4, ‘¯p±’ (epi) bisa saja mengandung makna ‘karena’ dan kasus genitifnya harus dime­ngerti sebagai genitif subjektif (yakni: ‘karena karunia Allah yang diberikan-Nya kepada kamu’). Tentu saja, hanya dengan satu contoh  (1Kor. 1:4), kita tidak bisa mengatakan bahwa kasus genitif dalam Filipi 1:3 seharusnya dipahami sebagai kasus genitif subjektif. Bagi penulis, adanya kasus ini membuat keadaannya semakin tidak dapat dipastikan.

Perlu juga diperhatikan di sini bahwa Nigel Turner, dalam bu­kunya yang berjudul A Grammar of New Testament Greek: Vol. III Syntax menggunakan Filipi 1:3 sebagai contoh untuk memperlihatkan ambi­guitas kasus genitif dalam bahasa Yunani. Menurutnya, Filipi 1:3 bisa dikatakan agak ambigu. Klausa ¯p± p€sŪ mne°‹ Ćmņn (epi pasee tee mneeia humoon) bisa saja dikategorikan bersifat (a) subjektif: ‘kapan pun kamu mengingat aku’, atau objektif: ‘kapan pun aku memikirkan kamu’. Kalau begitu, tanpa argumen  yang benar-benar kuat, tidaklah bijaksana kalau kita mengabaikan salah satu dari penafsiran ini.

Tampaknya sulit bagi kita untuk memilih salah satu dari dua kemungkinan terjemahan ini hanya berdasarkan pada hasil studi linguistik semata. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau klausa ini dipahami dalam terang konteks historisnya. Sebenarnya inilah yang coba diupa­ya­kan oleh Hawthorne ketika ia berbicara dari sudut pandang doa-doa dalam serangkaian kesempatan. Masalah dalam hubungan dengan pendekatan ini adalah apakah pandangan tentang ‘doa-doa da­lam serangkaian  kesempatan’ memang merupakan faktor historis penting yang harus dipertimbangkan.

Bagi penulis, konteks langsung surat Filipi ini lebih relevan untuk digunakan dalam memahami klausa ini. Jika kita memandang bahwa surat Filipi merupakan satu-satunya surat Paulus yang ditulis setelah ia menerima sesuatu dari umat yang menjadi alamat suratnya,  adalah mungkin bahwa klausa ‘¯p± p€sŪ mne°‹ Ćmņn’ (epi pasee tee mneeia humoon) ini terhubung dengan apa yang diberikan oleh orang-orang Filipi kepada Paulus yang disebut dalam 4:10, atau se­mua yang telah mereka berikan sebelumnya (bnd. 4:15-18). Dengan be­gi­tu, Filipi adalah surat yang diantarai oleh rasa terima kasih Paulus karena ketulusan hati orang-orang Filipi (1:3; juga 4:10-11, 15-18).

Alur penafsiran ini diikuti oleh sejumlah kecil pakar pada tahun-tahun terakhir ini. Peter O’Brien, misalnya, memandang bahwa dalam bagian ucapan syukur awal ini, frasa adverbial ay. 3 (‘¯p± p€sŪ mne°‹ Ćmņn’ [epi pasee tee mneeia humoon] dengan penafsiran ‘kare­na kamu mengingat [akan aku]’) dan ay. 5 (‘¯p± koinwn°‹ Ćmņn eøv tč eĒagglion’ [epi tee koinoonia humoon eis euaggelion] dengan penafsiran ‘karena persekutuanmu dalam Berita Injil’) adalah dua dari tiga alasan mengucap syukur. Ben Witherington III menerje­mah­kan ay. 3 dengan “Aku bersyukur kepada Allahku karena kamu sela­lu mengingat akan aku”, lalu memberi komentar bahwa ‘Paulus di sini berpikir tentang ketulusan hati orang-orang Filipi, karena mereka berulang kali mengambil bagian dalam pemberitaan Injil dengan membantu Paulus dalam bidang keuangan’ (lih. 1Tes. 4:16; 2Kor. 11:19), dan karena itu Paulus menyinggung apa yang akan ia katakan secara lebih terbuka dalam 4:10ii.

Terjemahan Filipi 1:3

Rasanya pembahasan di atas sudah cukup bagi kita untuk mem­per­­timbangkan kembali cara menerjemahkan ayat ini. Pertama, dibutuhkan catatan kaki untuk terjemahan alternatif, jika kita masih ingin menaruh terjemahan ‘setiap kali aku mengingat kamu’ dalam  teks utama. Berdasarkan argumen tadi, saya  condong mengusulkan agar terjemahan ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam teks utama dan menaruh ‘setiap kali aku mengingat kamu’ sebagai terje­mahan alternatif dalam catatan kaki. Saya belum cukup berani meng­usulkan untuk mempergunakan terjemahan ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam teks utama tanpa terjemahan alternatif,  karena di kalangan pakar sekarang ini masih ada yang lebih menyukai pandangan tradisional terhadap ayat ini. Oleh karena belum ada kesepakatan di kalangan para pakar, sifat konser­vatif penerjemahan Alkitab memang harus mencegah kita dari keber­pihakan kepada salah satu dari dua kemungkinan ini.

Kedua, jika kita menerima ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam teks utama,  kita dapat melihat kesejajaran antara dua klausa ‘¯p±’ (epi) dalam ayat 3 dan ayat 5 sebagai sejenis paralelisme retorikal untuk menandai dua alasan -- yang berbeda namun saling terhubung -- bagi Paulus untuk mengucap syukur untuk orang-orang Filipi. Pada tingkatan permukaan, alasan yang pertama adalah menyangkut pemberian orang-orang Filipi (barangkali bantuan keuangan) kepada Paulus, sedangkan yang lainnya adalah mengenai persekutuan mere­ka atau kebersamaan mereka dalam hal pemberitaan Injil. Kedua alasan ini, pada tingkat yang lebih dalam, sesungguhnya saling terhu­bung karena pemberian kepada Paulus dimaksudkan untuk meno­long Paulus menyebarluaskan Injil, dan pada pihak lain, persekutuan dan kebersamaan dengan Paulus mendorong orang-orang Filipi mengi­rim atau menyediakan bantuan keuangan untuk mendukung Paulus. Karena itu, kesejajaran ini sebaiknya diberi penekanan dalam terjemahan.

Tetapi, paralelisme ini barangkali tidak bisa direfleksi­kan dengan mudah dalam terjemahan, karena ayat 5 tidak mengikuti langsung klausa utama ayat 3 (Aku bersyukur kepada Allahku). Di antara dua klausa ‘¯p±’ (epi), ada sisipan ay. 4, sebuah frasa partikel yang memo­difikasi klausa utama dalam ayat 3: Aku bersyukur kepa­da Allahku. Pemecahan yang mungkin dalam hal ini adalah dengan mengulangi klausa utama pada awal ayat 5, jika memang prinsip penerjemahan mengizinkannya. Solusi lainnya bisa jadi adalah de­ngan menaruh ayat 4 dalam tanda kurung, sehingga pembaca dapat diingatkan pada hubungan yang erat antara ayat 3 dan ayat 5.

[1]   Tulisan ini dibacakan oleh Kuo-Wei Peng, seorang konsultan United Bible Societies di Taiwan, pada pertemuan ASPRETCON (Asia Pacific Region Translation Consultation) di Kinabalu, Malaysia, Juni 2001. Penerjemahannya dilakukan oleh Pdt. Dr. Wenas Kalangit, konsultan penerjemahan LAI.