Berteologi bagi sebagian orang awam adalah hal yang sangat membosankan. Mengingat jika kita sudah bicara teologi, otomatis akan berkaitan dengan urusan keagamaan, keyakinan dan ke-Tuhan-an. Biasanya para teolog menganalis dan berargumen untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajarkan hal yang berkaitan dengan tradisi keyakinan, keagamaan dan keTuhanan. Meskipun teologi dapat dipelajari, namun tidak banyak orang tertarik untuk menekuninya.
Di zaman dahulu, orang Yahudi bersama orang bukan Yahudi yang takut kepada Tuhan, tiap tahun berkumpul di Pulau Faros di Laut Tengah guna mengadakan perayaan syukur atas tersedianya Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti. Demikian catatan Philo, sejarawan Yahudi kenamaan dari Aleksandria yang hidup pada abad pertama Masehi. Alkitab yang dimaksud adalah Alkitab Septuaginta, yakni Alkitab bahasa Yunani yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani.
Orang-orang Yahudi di perantauan, di wilayah-wilayah sekeliling Laut Tengah, sudah tidak mengerti lagi bahasa Ibrani dan sudah memakai bahasa Yunani, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam komunikasi tertulis. Pembacaan Alkitab di rumah-rumah ibadah Yahudi dilakukan dalam bahasa Ibrani, namun diterjemahkan secara lisan oleh seorang turgeman (band. kata “terjemah”) agar dimengerti jemaat. Terjemahannya pada mulanya dilakukan dalam bahasa Aram, seperti dapat kita baca dalam Nehemia 8:8 BIMK (pada Alkitab TB Neh. 8: 9), tetapi di kemudian hari juga ke dalam bahasa Yunani.
Tak heran, bahwa Alkitab yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani tersebut disambut begitu meriah, sebab umat Allah sekarang dapat membaca dan mendengar Firman Allah dalam bahasa yang dimengerti. Alkitab Septuaginta ini menurut legenda diterjemahkan atas perintah Raja Ptolomeus II pada abad ketiga sebelum Masehi untuk memperkaya khasanah perpustakaan Aleksandria yang termasyur di dunia purba. Tujuh puluh penerjemah dikucilkan selama 70 hari, masing-masing dalam kamarnya sendiri, sehingga tidak dapat saling berkomunikasi.
PENGUMUMAN PEMENANG
LOMBA MENGARANG ANAK-ANAK SE-JABODETABEK
DALAM RANGKA HARI DOA ALKITAB SE-DUNIA
PERPUSTAKAAN & MUSEUM BIBLIKA
LEMBAGA ALKITAB INDONESIA 2009
SELAMAT KEPADA:
JUARA 1 TRICIA WIBISANA
KELAS 5 - SD KESATUAN – BOGOR
Judul Karangan: “Jesus Has Saved My Life”
JUARA 2 CARISSA AURELIA
KELAS 5 MALINO - SD MARSUDIRINI – BOGOR
Judul Karangan: “Nehemia Inspirasiku”
JUARA 3 BERNADETTE CATHERINE HAMDANI
KELAS 5-B SD SANTA URSULA – JAKARTA PUSAT
Judul karangan: “Ia Yang Telah Merubah Hidupku”
Pemenang dengan apresiasi khusus:
JANE LYDIA SIANTURI
KELAS 5 - SD PSKD MANDIRI – JAKARTA PUSAT
Judul Karangan: “Yusuf”
PENYERAHAN HADIAH:
Kamis, 15 Oktober 2009 Pkl. 12.00-13.30 WIB
Bertempat di Perpustakaan & Museum Biblika LAI
Jl. Ahmad Yani No.90 Bogor
Informasi lebih lanjut silakan hubungi:
Telp. 0251-8319708
Email:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Kami menyampaikan terima kasih atas pasrtisipasi seluruh peserta, para guru dan orang tua yang turut mendukung suksesnya program ini.
Bagi adik-adik yang belum berhasil dalam lomba ini tetap semangat untuk mengasihi Tuhan. Tuhan memberkati!
Perpustakaan & Museum Biblika
Lembaga Alkitab Indonesia
Presbiopi merupakan kelainan pada mata yang kita kenal dengan sebutan mata tua, di mana si penderita tidak dapat meliha benda dari jarak dekat dan dari jarak jauh maupun membaca tulisan dengan ukuran yang agak kecil seperti tulisan yang terdapat dalam koran atau majalah dengan jelas. Hal ini disebabkan karena elastisitas lensa mata berkurang karena usia tua, yang pada umumnya diderita oleh orang-orang yang sudah mulai memasuki usia 45 tahun sampai dengan usia 50 tahun. Dan sekalipun telah menggunakan bantuan kaca mata, namun bagaimanapun juga tetap saja akan merasa kurang nyaman, jika harus membaca tulisan sekecil itu.
Dan rupanya masalah senada juga dapat kita temukan dalam ukuran huruf/tulisan yang tercetak dalam Alkitab yang dimiliki oleh sebagian besar dari kita. Dengan ukuran huruf/tulisan yang relatif kecil dan terlihat padat, yakni jarak yang sempit antara kata yang satu dengan kata yang lain tersebut tentunya juga akan membuat para lansia merasa tidak nyaman ketika sedang membaca Alkitab. Padahal kita tahu, saat ini justru semakin banyak orang-orang lansia yang memiliki ketertarikan, minat dan niat yang tinggi untuk membaca firman Tuhan.
Bagi sebagian orang, khususnya kalangan muda, mulai merasa enggan dengan hal-hal yang berkaitan dengan ketidaksederhanaan, tidak simple atau rumit. Dan ternyata hal serupa juga berdampak pada salah satu hal yang berkaitan dengan kehidupan rohani kita. Mungkin kita sering menemukan beberapa jemaat yang tidak membawa Alkitab saat datang untuk ibadah di gereja maupun dalam ibadah-ibadah persekutuan atau acara pemahaman Alkitab yang sering kita adakan. Atau mungkin keluarga, kerabat, teman bahkan mungkin kita sendiri. Entah karena lupa atau dengan alasan tidak mau repot dengan menenteng-nenteng Alkitab yang tidak cukup bila dimasukkan dalam tas, dan lainnya, dan beralasan toh pembacaan firman juga akan dibacakan oleh pendeta atau majelis yang bertugas.
Menjawab permasalahan di atas, kini Lembaga Alkitab Indonesia menghadirkan sebuah Alkitab dwibahasa dengan satu lajur berbahasa Indonesia, sedangkan lajur lainnya ditulis dalam bahasa Inggris. Alkitab Terjemahan Baru New International Version yang dalam kesempatan kali ini sengaja dibuat dengan edisi eksklusif, dengan ukuran yang relatif lebih kecil dari edisi TB NIV yang telah hadir sebelumnya.