Salah satu peran bahasa adalah merupakan alat komunikasi, sehingga dengan bahasa bisa terjalinnya komunikasi dan kerjasama di antara bangsa-bangsa di dunia. Ada pepatah yang menyebut, bahasa adalah jendela dunia. Apabila kita menguasai sebuah bahasa berarti kita tidak saja melibatkan diri dengan dengan budaya bahasa tersebut, tetapi juga membuka pintu-pintu ke dunia lain yang selama ini mungkin tidak kita pahami.
Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa pergaulan internasional. Tidak hanya dalam masyarakat dunia, dalam bidang pelayanan firman Tuhan pun ternyata bahasa Inggris masih banyak digunakan oleh para misionaris yang bertugas melakukan pelayanan di tanah air kita. Keterbatasan bahasa sering menjadi faktor penghambat dalam berkomunikasi.
Banyak yang menarik dalam Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab kita. Bahasanya bahasa simbolik dan topik yang diangkat terkait dengan ‘dunia akhir zaman’, dunia yang tentu saja mendorong banyak orang untuk mau tahu lebih banyak. Konon, isu peka seputar ‘hari kiamat’ yang sering menjadi polemik kontroversial di dunia ini, termasuk di Indonesia, terkait dengan pola yang dipakai seseorang dalam memahami teks kitab yang juga dikenal dengan nama ‘Apokaliptik’ ini.
Bagaimana semestinya kitab menarik ini mau dipahami? Sama seperti dengan semua kitab di dalam Alkitab, kitab Wahyu ini juga lahir dalam konteks historis umat beriman. Bagaimana mereka harus bersikap di tengah-tengah situasi yang tidak bersahabat dan mengancam? Bagaimana seharusnya mereka memandang kerasnya situasi hidup mereka? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya mau diberikan oleh kitab ini.
Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini.
Dalam kehidupan orang beriman, doa adalah nafasnya. Doa juga merupakan bentuk komunikasi manusia kepada Tuhannya. Dalam doa hubungan manusia dengan Sang Khaliknya terasa dekat. Syair lagu pop rohani mengatakan bahwa: “Dia hanya sejauh doa”.
Namun demikian, untuk sebagian orang berdoa bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi ketika diucapkan dalam ibadah jemaat. Sering seseorang kesulitan dan merasa kurang percaya diri ketika diminta untuk berdoa. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, LAI menerbitkan sebuah buku “Kidung Doa Mazmur”. Buku tersebut berisi berbagai bentuk doa yang dipilih dari kitab Mazmur.
Bahasa Ibrani diketahui sebagai cikal bakal dan sumber dari berbagai terjemahan bahasa Alkitab ke dalam berbagai bahasa yang ada di dunia. Oleh karena itulah, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mempunyai misi untuk menyebarkan Alkitab dan bagian-bagiannya seluas mungkin, dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat dalam berbagai jenis, bentuk dan format yang disesuaikan dengan kelompok sasaran pembaca.