Sejak diresmikan 9 Mei 2007, setiap tahunnya pengunjung Perpustakaan & Museum Biblika LAI semakin bertambah. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, anak dan pengasuh sekolah minggu sampai warga gereja. Yang menjadi alasan mereka berkunjung hanyalah untuk memperoleh informasi mengenai proses penerjemahan dan penerbitan Alkitab, pengetahuan biblika dan berbagai informasi dan benda yang berkaitan dengan sejarah Alkitab. Pertanyaan yang biasa ditanyakan para pengunjung saat berkunjung ke Perpustakaan & Museum Biblika LAI, diantaranya:
1. Seberapa besar Biji Sesawi itu sebenarnya?
2. Seperti apa bentuk Pohon Ara itu?
3. Di mana saja Tuhan Yesus melakukan pengajaranNYA ?
4. Apakah tempat-tempat dan informasi yang ada di Alkitab masih ada di zaman ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul berkaitan dengan sejarah Alkitab.
Agak berbeda dari biasanya, di mana LAI memusatkan perayaan ulang tahunnya di Jakarta. Kali ini LAI menjadikan kota Solo sebagai pusat perayaan Hari Ulang Tahun ke-55 LAI se-Indonesia. Secara tersirat, dengan pemilihan kota Solo ini LAI ingin memperluas dan mempererat jaringan kerjasamanya dengan mitra-mitranya, yaitu gereja-gereja dan umat Kristen di Indonesia. Ketua Panitia Perayaan HUT ke-55 LAI, Dr. Wenas Kalangit menyatakan fakta menunjukkan bahwa gereja dan LAI tidaklah berjalan sendiri-sendiri. Untuk ibadahnya, untuk pelayanannya, untuk pewartaan Kabar Baik gereja-gereja di Indonesia membutuhkan Alkitab, dan LAI menyediakan kebutuhan akan Alkitab tersebut. Namun kerjasama gereja dan LAI tersebut diharapkan tidak berhenti pada menggunakan dan memanfaatkan Alkitab terbitan LAI. Di masa mendatang, LAI ingin adanya persekutuan yang akrab antara LAI dan gereja-gereja di Indonesia. Ada perjumpaan bersama yang bukan hanya diwujudkan lewat tulisan-tulisan, namun ada pertemuan langsung yang terjadi antara LAI dan para mitranya. Melalui kebersamaan secara langsung ini diharapkan terjalin kerjasama yang lebih erat dalam pewartaan Kabar Baik.
Pada tanggal 9 Februari 2009, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) genap berusia 55 tahun. Sebuah usia yang tidak muda lagi. Pertambahan usia ini menjadi lebih istimewa, karena tahun 2009 ini bertepatan dengan 380 tahun penerjemahan Alkitab di Nusantara. Tiga ratus delapan puluh tahun yang lampau, pada tahun 1629, Penerbit Jan Jacobiz Palenstein di Enkhuizhein, Belanda menerbitkan Injil Matius berbahasa Melayu hasil karya Albert Corneliz Ruyl. Injil Matius terjemahan Ruyl ini merupakan terjemahan pertama dalam bahasa di Nusantara, bahkan merupakan terbitan bagian Alkitab yang pertama dalam bahasa non-Eropa. Jadi, penerjemahan Alkitab di luar bahasa Eropa diawali di Indonesia.
Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, di tahun 2009 ini LAI merayakan 35 tahun penggunaan Alkitab Terjemahan Baru yang bersifat interkonfensional, yaitu terjemahan bersama yang diakui dan dipakai di seluruh gereja-gereja Indonesia, baik Protestan maupun Katolik.
PENANDATANGANAN KESEPAKATAN KERJA SAMA LEMBAGA ALKITAB INDONESIA DENGAN GEREJA KRISTEN PROTESTAN INDONESIA
Jumat, 5 Desember 2008 pukul 12.00 WIB merupakan hari yang bersejarah bagi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI). Mengapa? Karena hari itu Ketua Umum LAI, Pdt. Prof. Dr. Liem Khiem Yang, dan Bishop GKPI, Pdt. M.S.E. Simorangkir, D.Th., menandatangani kesepakatan kerja sama dalam berbagai lingkup kegiatan.
PERCETAKAN LAI - SUKSES MERAIH SERTIFIKAT ISO 9000:2001
Bertepatan dengan perayaan Hari Doa Alkitab 2008, pada akhir September 2008 di GKI Kwitang, Jakarta Pusat. Unit Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) berhasil meraih sertifikat ISO 9000 versi 2001 dari PT SAI Global, salah satu lembaga sertifikasi standardisasi internasional.Adapun latar belakang dan proses panjang di balik proses sertifikasi tersebut adalah untuk mengikuti perkembangan tuntutan ekonomi global, bahwa setiap pabrik pada masa kini mesti mempunyai sistem manajemen mutu ISO versi 9000:2001. Alasan lain adalah supaya semua proses kegiatan di percetakan dapat terdokumentasi sistem dan prosedurnya dengan tertib, sehingga diharapkan dapat meningkatkan konsistensi kinerja, ungkap Kepala Percetakan LAI, Antonius Siahaan, M.M