| Hari Doa Alkitab 2009 |
|
|
|
| Wednesday, 14 October 2009 | |
|
Di zaman dahulu, orang Yahudi bersama orang bukan Yahudi yang takut kepada Tuhan, tiap tahun berkumpul di Pulau Faros di Laut Tengah guna mengadakan perayaan syukur atas tersedianya Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti. Demikian catatan Philo, sejarawan Yahudi kenamaan dari Aleksandria yang hidup pada abad pertama Masehi. Alkitab yang dimaksud adalah Alkitab Septuaginta, yakni Alkitab bahasa Yunani yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani.
Setelah 70 hari mereka diperbolehkan keluar sebab mereka semua telah menyelesaikan seluruh Alkitab Ibrani, yakni kitab-kitab Perjanjian Lama, dan ternyata semua terjemahan yang dihasilkan sama persis isinya satu sama lain. Ini bukti, kata legenda, bahwa pekerjaan mereka diilhami Allah. Alkitab Septuaginta ini pun menjadi Alkitab orang –oran Kristen yang pertama. Mereka lebih menyukainya daripada Alkitab bahasa Ibrani. Dan kitab-kitab Perjanjian Baru, yang ditulis pada paruh kedua abad pertama dalam bahasa Yunani, sering mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama bukan dari Alkitab Ibrani melainkan dari Septuaginta. Sejak usaha penerjemahan di masa purba itu, Alkitab telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Seirama dengan menyebarnya agama Kristen, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Siria, Koptik, Latin, Armenia, Arab dan bahasa-bahasa Eropa. Salah satu terjemahan Alkitab yang terkenal dan sangat berpengaruh adalah Vulgata, sebuah terjemahan bahasa Latin yang dikerjakan oleh Hieronimus (331-420 M). Berabad-abad lamanya terjemahan ini di kalangan Katolik diterima sebagai satu-satunya versi yang otentik dan hal ini baru diubah pada tahun 1943 oleh Paus Pius XII. Begitu besar pengaruh Hieronimus sehingga Federasi Internasional Penerjemah tiap tahun memperingati Hari Penerjemahan Internasional pada tanggal 30 September, bertepatan dengan Hari Raya Santo Hieronimus. Ketika pada abad-abad yang lampau terjadi gerakan misioner yang besar, Injil tersebar ke seluruh penjuru bumi dan Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dewasa ini Alkitab telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 2400 bahasa di seluruh dunia. Hari Doa Alkitab 2009 Melanjutkan tradisi yang telah dimulai di Faros berabad-abad lalu, Jumat siang 2 Oktober 2009 yang lalu, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mengadakan ibadah syukur memperingati Hari Doa Alkitab, sebagai ucapan syukur atas tersedianya Alkitab dalam bahasa yang kita mengerti. Ibadah yang dihadiri karyawan, mitra dan pensiunan LAI ini berlangsung dalam suasana sederhana namun khidmat. Dalam sambutannya Sekretaris Umum LAI mengajak segenap karyawan maupun mitra kerja LAI untuk senantiasa mengucap syukur atas penyertaan Tuhan kepada LAI hingga hari ini yang memampukan LAI untuk terus berkarya menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dan bagian-bagiannya dalam bahasa yang mudah dimengerti umat Kristen di berbagai pelosok tanah air.
Pelayan Firman Tuhan Pdt. Yoel M. Indrasmoro menegaskan dalam renungan yang disampaikannya, Lembaga Alkitab Indonesia, dalam usianya ke-55 tahun, tentulah tak lepas dari masalah; bisa jadi sampai saat ini pun LAI masih dirundung berbagai masalah. Namun, janganlah kita lupa bahwa masalah merupakan merupakan wahana di mana kita dapat sungguh-sungguh memahami apa sesunggguhnya kehendak Tuhan itu. Pdt. Yoel menegaskan, berkait dengan tugas LAI dalam menyebarkan Firman Allah, baiklah LAI mengingat para pembaca Alkitab yang menjadi sasaran pelayanannya. Pernahkah kita menghitung, berapa jumlah orang Indonesia yang menggunakan Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia hingga hari ini? Betapa banyak umat Tuhan yang hidupnya telah diubahkan lewat Alkitab terbitan LAI tersebut. Itu semua tentu membuat kita menaikkan syukur kepada Allah. Di Indonesia sendiri, hingga Januari 2009, Alkitab lengkap telah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa (termasuk bahasa Indonesia), Perjanjian Baru dalam 88 bahasa (72 bahasa di antaranya diterjemahkan LAI). Dan hingga saat ini, pekerjaan penerjemahan terus berlangsung dalam puluhan bahasa daerah, sesuai dengan tujuan LAI agar semakin banyak orang dapat membaca serta mendengar Firman Allah dalam bahasa yang dimengertinya. Sejak berdiri pada tahun 1954 hingga saat ini, LAI telah menyebarkan lebih dari 462 juta Alkitab dan bagian-bagiannya, termasuk di antaranya 19 juta Alkitab lengkap ke seluruh pelosok Nusantara, malahan hingga luar negeri. Sepanjang bulan September ini, gereja-gereja di Indonesia diajak untuk mengadakan ibadah syukur karena Alkitab telah tersedia dalam berbagai bahasa Nusantara yang membuat umat mengerti isi Firman Allah. Namun masih banyak umat Tuhan di berbagai tempat yang merindukan hadirnya Alkitab dalam bahasa ibu mereka.Melalui doa dan kerja keras kita bersama, diharapkan semakin banyak orang diberi kesempatan untuk membaca dan mendengar Firman Allah dalam bahasa yang mereka mengerti. |
| < Prev | Next > |
|---|



Orang-orang Yahudi di perantauan, di wilayah-wilayah sekeliling Laut Tengah, sudah tidak mengerti lagi bahasa Ibrani dan sudah memakai bahasa Yunani, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam komunikasi tertulis. Pembacaan Alkitab di rumah-rumah ibadah Yahudi dilakukan dalam bahasa Ibrani, namun diterjemahkan secara lisan oleh seorang turgeman (band. kata “terjemah”) agar dimengerti jemaat. Terjemahannya pada mulanya dilakukan dalam bahasa Aram, seperti dapat kita baca dalam Nehemia 8:8 BIMK (pada Alkitab TB Neh. 8: 9), tetapi di kemudian hari juga ke dalam bahasa Yunani.