| PBH/PBA LAI Bintuni |
|
|
|
| Thursday, 04 February 2010 | |
|
“Saya Ingin Bisa Baca Alkitab”
Apa yang diungkapkan oleh Ibu Hermina ini, juga merupakan harapan
dari para peserta belajar Program PBH/PBA LAI lainnya di Teluk
Bintuni. Tahun 2010 ini, Teluk Bintuni dipilih oleh LAI sebagai tempat
pelaksanaan Program Pemberantasan Buta Huruf/Pembaca Baru Alkitab
(PBH/PBA) karena menurut data statistik penduduk di tempat ini masih
banyak yang belum mengenal huruf dan aksara termasuk warga gereja. Survey awal telah dilakukan bulan Juli 2009 dan sosialisasi ke gereja-gereja dilanjutkan dengan pendataan warga belajar. Program ini akan dimulai sejak tanggal 17 Januari 2010, dengan menempatkan sdri. Ratna Sari Harefa, S.Th., sebagai Pimpinan Lapangan PBH/PBA LAI Bintuni. Secara resmi Program PBH/PBA LAI 2010 ini akan dimulai 22 Februari 2010 dan berakhir di bulan November 2010. Bekerja sama dengan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua Klasis Teluk Bintuni dan juga beberapa denominasi gereja yang lain baik Katolik maupun Protestan, LAI terpanggil untuk membantu mendukung program pemerintah mengatasi buta huruf di daerah ini. Program ini dirancang untuk membantu umat Kristen yang buta huruf agar mereka dapat mengenal aksara dan angka dan pada akhirnya dapat membaca dan memahami Firman Tuhan. Progam ini akan berlangsung selama 9 bulan (Februari-November 2010). Untuk memudahkan peserta dalam mengikuti proses belajar, LAI menyediakan bagi tiap peserta buku berseri (seri 1-3 mengenal huruf, seri 4-2 memahami Firman Tuhan) yang isinya dibuat dengn bahasa yang sederhan dan ilustrasi yng menolong mereka untuk memahami materi yang diajarkan.[HJL] |
| < Prev | Next > |
|---|



Itulah ungkapan hati Ibu Hermina Kamanggiwang Masubau
(41 tahun), warga belajar dari Gereja Kristen Injili di Tanah Papua,
Jemaat Efata, Korano Jaya, Manimere – Teluk Bintuni. Sebelumnya ia
pernah sekolah hanya sampai kelas 1 SD. Ibu empat orang anak ini sadar
membaca itu penting, maka dia selalu mendorong anak-anaknya untuk giat
belajar agar tidak seperti dirinya. “Saya rindu untuk bisa membaca
Firman Tuhan sendiri, selama ini saya hanya mendengar. Kalau di rumah
anak-anak dan bapa (suami) yang baca. Kalau di gereja dengar dari
Pendeta dan teman-teman di kebaktian wanita” lanjut Ibu Hermina. Dia
sangat berharap agar setelah bisa membaca nanti, dia akan membaca
Alkitab sendiri, dan belajar untuk membawakan Firman Tuhan di kebaktian
wanita seperti teman-temannya yang lain.