NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Live Support
LAI Info

Product Info

Product Info






Lost Password?
No account yet? Register
Memahami Kitab-Kitab Makabe Print E-mail
Friday, 13 November 2009

 MEMAHAMI KITAB-KITAB MAKABE

Oleh: Dr. Martin Harun, OFM

       Kitab I dan II Makabe yang menceriterakan sepenggal sejarah bangsa Yahudi pada abad kedua sM, umumnya diabaikan dalam studi dan kursus tentang Alkitab, juga di kalangan Katolik yang menerima kedua kitab ini sebagai kanonik. Ahli-ahli PL menganggapnya terlalu kemudian, dan ahli-ahli PB terlalu dini untuk perlu diperhatikan.

        Kedua kitab juga tidak mudah dibaca, karena mengandung suatu kisah mendetail tentang orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang sangat kurang dikenal. Tentu ada bagian-bagian kisah yang segera memikat. Tetapi ada pula laporan penunjang tentang aneka ragam pertempuran dengan kekerasan yang membingungkan pembaca  Kristen. Kendatipun demikian, kedua kitab ini menceriterakan suatu kisah sejarah yang amat  penting karena revolusi Makabe yang mulai sekitar tahun 165 sM itu mengubah jalan sejarah bangsa Yahudi secara dramatis. Setelah berabad-abad lamanya secara silih berganti hidup ditaklukkan oleh Babel, Persia, Mesir dan Siria, tiba-tiba bangsa yang kecil itu tampil kembali sebagai bangsa yang merdeka dengan dinastinya sendiri. Kemerdekaan itu dapat dipertahankan hampir seabad lamanya, sampai Pompeius menaklukkan mereka ke bawah kekuasaan Romawi dalam tahun 63 sM. Agar isi dan visi kedua kitab itu lebih mudah ditangkap, perlulah disajikan lebih dahulu beberapa data sejarah.

A. Latar Belakang Sejarah  

       Sumber utama untuk mempelajari sejarah masa revolusi Makabe tentu tidak lain dari kedua kitab Makabe itu sendiri.1) Dalam hal itu I Makabe dulu sering dinilai sebagai karangan sejarah yang dapat diandalkan, sedangkan II Makabe dipandang sebagai karangan retorik yang nilai sejarahnya kurang. Tetapi penggambaran itu terlalu sederhana. Juga I Makabe yang tampak melaporkan empat puluh tahun sejarah Makabe itu seadanya (175-134 sM), sesungguhnya menuliskannya dari sudut pandangan dan dengan tujuan tersendiri, seperti yang akan kita lihat. Dan kendatipun II Makabe lebih bersifat karangan sastra yang mau membina dan menghibur, namun tentang kelimabelas tahun yang diliput oleh kitab ini (176-161) kita memperoleh informasi yang sangat melengkapi informasi dari I Makabe.2) Bukannya kisah bersambung (seperti I & II Samuell atau I & II Raja-raja) kedua kitab ini merupakan dua karangan yang independen yang isinya sebagian tumpang tindih namun ditulis dari sudut pandang yang agak berlainan. 

            Baiklah mulai sama seperti I Makabe dengan mengingat Aleksander Agung, raja Makedonia (Yunani) yang pada akhir abad ke-4 sM dalam waktu yang sangat singkat menaklukkan seluruh Kerajaan Persia, termasuk bangsa Yehuda. Setelah kematian Aleksander pada tahun 323 sM terjadi perselisihan politis dan militer antara jenderal-jenderalnya. Menjelang tahun 300 sM masalah pergantian Aleksander sudah cukup jelas, setidak-tidaknya sejauh menyangkut bangsa Yehuda. Mereka terjepit di antara dua dinasti yang kuat: Wangsa Ptoleme di sebelah selatan (Mesir) dan Wangsa Seleusid di sebelah utara (Siria). Dari tahun 300-200 daerah Palestina praktis di bawah kekuasaan dinasti Ptoleme di Mesir. Tetapi pada tahun 200 raja Siria, Atiokhus III, mengalahkan kaum Ptoleme, lalu memasukan Palestina ke dalam kerajaan Seleusid. Anaknya, Antiokhus IV Epifanes, naik tahta seperempat abad kemudian (175-163 sM). Dialah yang memancing revolusi Makabe.

            Pada tahun-tahun pertama pemerintahan Antiokhus IV, imamat agung dalam Bait Allah di Yerusalem menjadi buah rebutan. Imam Besar yang sah, Onias III, digeserkan  oleh saudaranya Yason (175-172 sM) yang memperoleh jabatan Imam Besar itu secara curang dengan menjanjikan upeti yang lebih besar kepada Raja Antiokhus. Serentak Raja Antiokhus memberikan ijin kepada Yason untuk membangun di Yerusalem sebuah gelanggang olahraga, lambang kebudayaan Helenis (kebudayaan campuran Yunani dan Timur Tengah). Hasrat raja untuk menyatukan kerajaannya dengan memajukan kebudayaan Helenis, membonceng pada pertentangan  intern dalam bangsa Yahudi. Sebagian dari mereka (kalangan atas?) tertarik kepada kebudayaan itu dan sebagian besar menolaknya dan berpegang teguh pada tradisi Yahudi sendiri. Kalau raja mula-mula tampak berhasil untuk mengubah Yerusalem menjadi kota Helenis, maka itu hanya mungkin karena kerja sama dengan segolongan orang Yahudi yang menginginkan hal yang sama.

Tiga tahun kemudian ketegangan dalam bangsa Yahudi meningkat, ketika Yason disingkirkan oleh Menelaus yang bukan keturunan Imam. Ketika ia membawa upeti Yason kepada Raja Antiokhus, ia memfaatkan kesempatan itu untuk menawarkan upeti yang lebih tinggi kepada raja. Menelaus memegang jabatan Imam Besar itu selama sembilan tahun (172-163 sM), didukung oleh raja tetapi ditentang oleh kebanyakan orang Yahudi.

Pada tahun 169 sM, pada perjalanan pulang dari peperangan di Mesir, Raja Antiokhus masuk Yerusalem dan merampok perbendaharaan Bait Allah. Hal ini terulang pada tahun berikut setelah raja gagal di Mesir. Lalu mulailah periode yang paling berat bagi bangsa Yahudi. Sebuah benteng (Akra) dengan pasukan yang setia kepada wangsa Seleusid didirikan di Yerusalem, tidak jauh dari Bait Allah. Bait Allah sendiri dinajiskan dengan memulai ibadat baru yang ada kalanya disebut sebagai ibadat Yunani kepada Dewa Zeus. Tetapi barangkali ibadat kepada Tuhan, Allah Israel, disesuaikan dengan ibadat bangsa-bangsa Semit sekitarnya!3) Bait Allah diubah menjadi mirip dengan kuil-kuil Siro-Kanaan untuk Baal-Syamin.

Pada saat yang sama seluruh cara hidup Yahudi yang tradisional dilarang. Hukum Taurat yang sudah berabad-abad diperbolehkan untuk mengatur kehidupan bangsa Yahudi di bawah kekuasaan bangsa asing, tiba-tiba diberangus, barangkali bukan langsung oleh raja, tetapi karena dorongan dan dukungan dari partai Yahudi yang cenderung kepada kebudayaan Helenis dan melihat bahwa hukum Taurat itu adalah rintangan utama untuk mencapai tujuan mereka. Masyarakat Yahudi sendirilah yang terpecah. Lalu berkobarlah penganiayaan terhadap orang Yahudi yang hidup tetap setia kepada Taurat.

Kejadian-kejadian itu menyakiti hati mayoritas bangsa Yahudi dan pada tahun 165 sM menimbulkan suatu revolusi, yang dipimpin oleh Yudas Makabe.4) Pada awalnya Yudas dan pasukannya dengan cepat memperoleh hasil yang besar. Dalam tahun 164 sM kota Yerusalem direbut, penganiayaan dihentikan, dan pada bulan Desember 164 sM Bait Allah ditahirkan dan mezbah ditahbiskan kembali. Dapat timbul kesan seolah-olah revolusi Makabe telah mencapai tujuan serta penyelesaiannya.

Kesan itu dapat diperkuat karena pada waktu yang kurang lebih bersamaan Raja Antiokhus meninggal dunia ketika berusaha merampok suatu kuil di Persia (demikianlah menurut sejarawan Yunani Polibius 13:9). Kematiannya itu oleh I Makabe ditempatkan sedikit sesudah pentahiran Bait Allah (Maret 163 sM), sedangkan II Makabe menempatkannya sebelum (Oktober 163 sM). Perbedaan itu barangkali disebabkan karena pemakaian dua penanggalan yang sedikit berlainan (penanggalan masa Seleusid versi Makedonia dan versi Babel yang  selisihnya setengah tahun.5) Sekarang umumnya diterima bahwa II Makabe adalah tepat dalam menempatkan kematian raja pada bulan Oktober 164 sM, sebelum pentahiran Bait Allah, sedangkan berita tentang kematian itu kiranya baru sampai ke Yerusalem sesudah pentahiran itu.

Tetapi ternyata revolusi Makabe tidak berjalan semulus seperti tampak pada awalnya. Ada Imam Besar baru, Alkimus (162-159 sM) yang terus menghasut melawan Yudas Makabe.  Ada serangan-serangan baru dari Siria terhadap Yudas dan Yerusalem; diderita kekalahan dan kematian. Ketika Yudas sendiri tewas dalam tahun 160 sM, revolusinya tampak kandas. Tetapi setahun kemudian juga musuhnya Imam Besar Alkimus mati. Lalu jabatan Imam Besar dibiarkan tidak terisi selama tujuh tahun (intersacerdotium, 159-152 sM). Pada masa lowongan itu tampilah Yonatan (160-142 sM), saudara Yudas, sebagai orang yang paling berwibawa di Yehuda. Ia menjadi juru bicara bangsa Yahudi dalam perundingan dengan Siria. Ia menghidupkan kembali gerakan revolusi dengan cara baru.

Cara kerja Yonatan agak berbeda dengan cara Yudas. Ia memperjuangkan kepentingan bangsanya tidak pertama-tama dengan aksi-aksi militer, melainkan lewat kelihaian perundingan politis dengan bangsa Seleusid. Wangsa yang sedang pecah dalam dua cabang yang saling berebut kekuasaan, selalu mencari sekutu. Yonatan dengan pandai setiap kali memihak pada cabang yang sedang kuat, sambil memperoleh kemudah-kemudahan khusus untuk bangsa dan dirinya.  Peranannya begitu penting dan menguntungkan bagi bangsa Yahudi, sehingga pada tahun 152 sM mereka tanpa kesulitan dapat menerima dia sebagai Imam Besar (kendatipun ia bukan keturunan Imam Besar, Onias III, melainkan dari keluarga imam biasa). Ia pun diangkat menjadi panglima untuk wilayah Yehuda.

Ketika Yonatan dikhianati, ditangkap dan kemudian dibunuh oleh panglima Siria, Trifon, kepemimpinan diambil alih oleh satu-satunya saudara yang masih tersisa, Simon (142-134 sM). Ia melanjutkan garis  kebijaksanan Yonatan. Ia tidak hanya menjadi Imam Besar dan Panglima, tetapi juga diakui sebagai penguasa bangsa Yahudi. Boleh dikatakan bahwa ia akhirnya menyelesaikan masa revolusi dalam tahun 141 sM. Simon bersama dua putranya dibunuh oleh menantunya sendiri di Yerikho. Seorang putra yang luput dari pembantaian, Yohanes Hirkanus (143-104 sM), mengambil alih jabatan-jabatan Simon.

Gambaran ringkas sejarah di atas ini mudah-mudahan akan membantu untuk melihat dengan cara manakah sejarah tersebut disajikan dalam masing-masing kitab Makabe.

B. Kitab Makabe Pertama

        1. Kisah Tentang Dinasti Allah  

Garis besar serta susunan kitab I Makabe cukup jelas. Setelah menceriterakan krisis yang ditimbulkan oleh Antiokhus Epifanes (bab 1) dan perlawanan pertama yang dikobarkan oleh Imam Matatias (bab 2), kitab ini menggambarkan secara berturut-turut tindakan-tindakan kepahlawanan dari putra-putra Matatias, yaitu Yudas Makabe (3:1-- 9:21), Yonatan (9:23--12:53) dan Simon (13--15), dan berakhir dengan menyebut cucunya, Yohanes Hirkanus (16). Inilah riwayat tentang tiga generasi sebuah dinasti, permulaan wangsa Hasmone.6)

Krisis dan perlawanan pertama. Setelah secara singkat menyebut Aleksander Agung dan orang-orang yang menggantikannya (1:1-9), kisah langsung mengarahkan perhatian kepada raja yang menjadi musuh utama, Antiokhus Epifanes. Golongan Yahudi yang menjadi kaki tangan Antiokhus dalam memajukan kebudayaan Yunani, hanya disebut dengan singkat saja (ay. 11-15), sebab pengarang ini melihat sejarah masa itu pertama-tama sebagai pertentangan antara penguasa Siria dan keluarga Makabe. Yang lain-lain agak diabaikan. Kejahatan-kejahatan Antiokhus terhadap bangsa Yahudi diuraikan satu demi satu. Kembali dari kemenangannya di Mesir, ia merampas perkakas dan harta Bait Allah (ay. 16-24). Dua tahun kemudian kepala pemungut pajak raja dengan tipu daya menyergap Yerusalem dan mendirikan di tengah kota sebuah benteng yang puluhan tahun lamanya akan menjadi basis kekuatan Siria (ay. 29-35). Lalu raja mengeluarkan surat perintah yang melarang ciri-ciri khas kehidupan Yahudi: ibadat Bait Allah, Sabat, sunat, hukum ketahiran, dan lain-lain (ay. 41-51). Puncak dramatis dalam pelaksanaan surat perintah itu (ay. 52-64) adalah penegakkan "kekejian yang membinasakan di atas mezbah korban bakaran" (ay. 54). Pengarang mengartikan tindakan raja itu sebagai semacam ekumenisme kebudayaan dan agama guna menyatukan segala bangsa dalam kerajaannya.

Beberapa reaksi orang Yahudi sudah disebut dalam bab 1: banyak yang meninggalkan Taurat, tetapi ada juga yang mengungsi (ay. 52-53), dan ada banyak yang memilih mati daripada melanggar hukum (ay. 62-64). Tetapi para martir ini tidak menjadi perhatian utama pengarang (seperti dalam II Makabe). Ia lebih meminati perlawanan yang akan diberikan oleh Matatias dan kelima putranya (Yohanes, Simon, Yudas, Eleazar dan Yonatan, 2:2-3). Sebagai permulaan perlawanan itu diceriterakan dengan panjang lebar suatu peristiwa yang sama sekali tidak dikenal dari sumber lain, juga tidak dari II Makabe. Ketika pegawai raja datang ke kota kecil Modein untuk memaksa orang Yahudi mengadakan pengorbanan menurut  cara raja, Imam Matatias membunuh seorang Yahudi yang melakukannya dan juga pegawai raja, lalu mengajak orang Yahudi yang setia untuk mengikutinya dalam gerilya melawan raja (2:15-28).

Sebuah kisah tentang banyak orang Yahudi yang memilih mati daripada bertempur pada hari Sabat (ay. 29-41), hanya diceriterakan untuk menekankan bahwa rombongan Matatias akan mengikuti strategi lain: bertempur pada hari Sabat daripada mati konyol. Sikap bebas kaum Makabe terhadap kaum ini tentu dapat menjauhkan orang-orang saleh dari mereka. Di kemudian hari - pada masa pengarang sendiri - kalangan yang saleh sangat bertegang dengan penguasa-penguasa keturunan Makabe. Kendatipun demikian - atau mungkin justru karena itu - pengarang di sini justru menekankan bahwa kaum mursid bergabung dengan gerakan Matatias (ay. 42). Ia dan keluarganya memimpin seluruh Israel dalam aksi melawan penguasa Siria. Puncak dari tahap pertama perlawanan itu adalah kematian Matatias yang diawali kata-kata wasiatnya. Ia akhirnya mengangkat Simon  sebagai Bapa (penasehat), tetapi Yudas sebagai pemimpin perang (ay. 49-70).

Yudas Makabe. Bab 3-9 menggambarkan pahlawan ini sebagai seorang pemimpin militer yang gagah berani, tetapi yang juga mampu memberi ilham kepada orang-orangnya melalui seruan dan doa yang saleh. Serangkaian kemenangan atas sejumlah panglima Siria (3:10-4:35) membuka jalan untuk puncak pertama dalam kisah Yudas, yaitu pentahiran dan pentahbisan Bait Allah. Peristiwa penting itu menjadi alasan bagi Yudas dan kawan-kawan untuk menetapkan pesta peringatan tahunan, yang kini dikenal sebagai Hanuka, dan dirayakan oleh segenap umat Yahudi pada setiap bulan Desember (kadangkala dijuluki Natal Yahudi).

Sesudah itu Yudas dan kawan-kawannya digambarkan memperluas aksi mereka ke segala penjuru angin (bab 5): selatan (Idumea), timur (Amon), utara (Gilead dan Galilea) dan barat (Filistea). Segala aksi berhasil, kecuali kalau ada orang yang bertindak lepas dari kepemimpinan Makabe (5:55-62, 67). Baru di sini diceriterakan kematian Raja Antiokhus yang setelah berangkat ke Persia untuk memungut pajak (3:31), jatuh sakit serta meninggal ketika gagal merampas sebuah kuil di negeri itu. Tetapi pengarang I Makabe menghubungkan penyakit dan kematian itu dengan berita-berita buruk yang sampai kepada raja tentang kekalahan-kekalahan pasukannya di Yehuda dan tentang pentahiran Bait Allah. Raja bahkan dikatakan menyadari bahwa malapetaka itu menimpa dirinya karena kejahatannya terhadap Bait Allah dan bangsa Yahudi (6:1-17).

Kematian Antiokhus IV tidak mengakhiri kesulitan bagi Yehuda. Keberanian Yudas untuk mengepung benteng Siria di Yerusalem (6:18-29), mengundang ekspedisi militer baru dari Raja Antiokhus V dan panglima Lisias. Salah seorang dari kelima saudara, Eleazar, tewas (6:46). Yerusalem kembali dikuasai pasukan raja (6:60-63). Setelah Raja Demetrius I merebut kekuasaan di Siria, ia mengangkat seorang Imam Besar baru, Alkimus, yang bersama Bakhides diutus oleh raja untuk membalas dendam kepada banagsa Yahudi (7:1-25). Atas permintaan Alkimus, raja kemudian mengutus panglima Nikanor yang mengancam akan membakar Bait Allah. Akan tetapi dalam pertempuran melawan Yudas, Nikanor akhirnya tewas. Peristiwa itu menjadi alasan untuk menetapkan suatu pesta peringatan lagi, tanggal tiga belas bulan Adar (7:26-50).

Sementara II Makabe berhenti di sini, I Makabe melanjutkan kisahnya tentang dinasti yang dikaguminya. Yudas masih sempat mengadakan persekutuan dengan Roma, kekuatan besar dan sangat terpuji di ujung barat (bab 8; pengarang kitab jelas belum tahu bahwa Roma yang sama itu seabad kemudian menumpas kemerdekaan yang diperjuangkan oleh wangsa Makabe). Dalam suatu pertempuran yang sama sekali tidak berimbang antara 3.000 pasukan Yudas dan 22.000 pasukan Alkimus dan Bakhides, Yudas akhirnya tewas (9:1-22).

Yonatan. Dalam masa penganiayaan dan pembelotan, Yonatan dipilih sebagai pengganti Yudas untuk memimpin gerakan melawan Bakhides (9:23-73). Mula-mula sibuk dengan peperangan seperti Yudas, Yonatan kemudian berkembang sebagai politikus yang cakap. Dengan pandai ia mengambil untung dari perselisihan antara kedua cabang dinasti Seleusid yang bersaing dan masing-masing mencari dukungan Yonatan. Dari raja Demetrius I ia mendapat wewenang untuk menghimpun pasukan dan membuat perlengkapan senjata (10:6). Tetapi kemudian ia memihak kepada Raja Aleksander Balas yang menawarkan kepadanya jabatan Imam Besar (yang sudah tujuh tahun tidak terisi) dan mengangkatnya pula menjadi panglima (10:23, 65).

Ketika beberapa tahun kemudian Demetrius II menggeser Aleksander Balas, Yonatan mencari persahabatannya, dikokohkan sebagai Imam Besar dan memperoleh sejumlah keinginan untuk bangsanya (11:20-37). Tidak lama kemudian Antiokhus VI, putra Aleksander Balas, mengambil alih kekuasaan, dan segera meneguhkan segala kemudahan Yonatan (11:57). Semuanya itu tidak menghalangi Yonatan untuk sekaligus membaharui persekutuan dengan Roma, dan  mengadakan persekutuan pula dengan Sparta (12:1-23). Setelah terseret lagi dalam beberapa aksi militer Yonatan akhirnya secara curang ditangkap oleh panglima Trifon yang berusaha merampas mahkota kerajaan dari Antiokhus VI (12:39-53). Di situ berakhirlah karier politik Yonatan yang menyumbangkan banyak kepada kemerdekaan bangsanya.

      Simon dan Yohanes Hirkanus. Sebelum Yonatan dibunuh oleh Trifon, ia sudah diganti oleh satu-satunya dari lima bersaudara yang masih tersisa, Simon (13:1-11). Ia sempat memperoleh kebebasan pajak dari Demetrius II (13:31-42), dan - lebih penting - berhasil merebut benteng (Akra) di Yerusalem (13:43-53). Dengan demikian revolusi Makabe boleh dikatakan mencapai penyelesaiannya. Bangsa mengakui Simon sebagai pemimpin religius (Imam Besar), militer (panglima) dan politik (penguasa, 13:42; 14:25-49). Ia dipuji sebagai pemimpin yang mengusahakan kesejahteraan bangsanya dan membela yang lemah (14:4-15). Juga raja Seleusid yang baru, Antiokhus VII, sejenak mengakuinya (15:1-4); tetapi kemudian setelah memutuskan perjanjiannya, toh tidak dapat juga mematahkan kekuasaan Simon (15:25-16:10). Kisah tiba-tiba berakhir dengan pembunuhan Simon oleh menantunya. Putranya, Yohanes Hirkanus, yang sudah diperkenalkan lebih dahulu sebagai pemimpin angkatan perang (13:53) dan pemenang dalam peperangan (16:1-10), luput dari pembunuhan itu, dan mengganti ayahnya (16:11-24). Pemerintahan dinasti berlanjut terus.

       2. Tujuan Kitab Dan Pandangan Teologis  

       Garis besar kisah I Makabe dengan cukup jelas menyatakan tujuannya. "Pengarang ingin menjelaskan bagaimana Allah memakai Yudas dan saudara-saudaranya untuk menghentikan penindasan raja-raja Seleusid, dan bagaimana jabatan Imam Besar jatuh ke keluarga itu".7) Atau lebih tajam pengarang mau "memuliakan wangsa Hasmone dan barangkali membela keabsahan dinasti itu terhadap kalangan orang-orang saleh yang menentangnya".8) Dalam IMak. 5:62 mereka diperkenalkan sebagai "orang-orang yang tangannya diserahi penyelamatan Israel".

       Untuk mencapai tujuan itu pengarang menulis sejarah dengan gaya biblis. Kaum Makabe diperkenalkan sebagai utusan Allah yang digambarkan menurut pola tradisional para imam, hakim dan raja Israel. Aksi-aksi mereka selaras dengan tindakan dan perkataan para pimpinan dahulu dalam Kitab Ibrani (2:51-60). Misalnya, kerajinan Matatias untuk hukum dibandingkan dengan apa yang dilakukan Pinehas terhadap Zimri (2:26, Bil. 25:7-15). Doa Yudas sebelum pertempuran melawan Nikanor mengingatkan malapetaka yang menimpa tentara Asyur yang mengepung Yerusalem (7:14, 2Raja. 19:35; Yes. 37:35). Pemakamannya diceriterakan dengan gaya kitab Raja-raja dan disertai kata-kata ratapan Daud atas Saul dan Yonatan (9:19ii, 2Sam. 1:19). Yonatan berperan seperti para hakim di Israel Kuno (9:73). Pujian bagi Simon (14:4-15) memakai kiasan-kiasan tradisional dari PL (mis. ay. 12; Mi. 4:4). Singkatnya, pemerintahan dinasti Makabe sungguh-sungguh memenuhi harapan tradisional Israel.

         Kunci keberhasilan mereka adalah kepercayaan kepada Allah dan kesetiaan kepada hukum Taurat, sebagaimana sudah dipesan terlebih dahulu oleh Matatias: "Belum pernahlah lemah barangsiapa percaya kepada Tuhan. ... Anak-anakku, hendaklah tetap bersifat jantan dan gagah berani untuk hukum Taurat" (2:61, 64). Untuk membela hukum itu orang harus mengangkat senjata, bahkan pada hari Sabat (2:27, 40-41: tetapi selebihnya Yudas digambarkan dalam peperangan secara teliti mengikuti peraturan hukum Musa, 3:56, Ul. 20:5-8). Tanpa kepercayaan teguh akan perutusan ilahi mereka, kaum Makabe tidak akan kuat menghadapi dan mengubah jalannya sejarah. Sesuai dengan tradisi Alkitab (1Sam. 14:6), Yudas yakin bahwa kemenangan dalam peperangan tidak terletak dalam banyaknya pasukan melainkan dari Sorgalah datang kekuatan (3:19). Allahlah yang menentukan nasib bangsanya. Namun demikian, pengarang tidak menyelingi kisah sejarahnya dengan kisah-kisah mujizat atau legenda-legenda penuh keajaiban (seperti dalam II Makabe). Pertolongan Allah yang diminta dalam doa-doa, terwujud dalam peredaran sejarah sendiri dan khususnya dalam tindakan kepahlawanan kaum Makabe yang percaya dan setia.

          I Makabe telah menjanjikan model bagi pemberontak-pemberontak terhadap pemerintahan yang tidak sah, dan bagi gerilyawan-gerilyawan yang memperjuangkan kemerdekaan nasional, keadilan sosial atau kebebasan agama. Khususnya pada abad ini, dengan munculnya negara Israel dan gerakan pembebasan di belahan selatan, kaum Makabe dimunculkan kembali sebagai pahlawan-pahlawan  yang aktual dan menawan. Suatu masalah yang timbul dalam hubungan dengan ini adalah pembenaran agama atas pemakaian kekerasan. Di satu pihak misi kekerasan mereka memang menyumbang banyak pada pemulihan identitas nasional Yahudi pada masa itu. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa kecerdasan politis Yonatan dan Yudas akhirnya menyumbang lebih banyak dan mungkin bahkan menyelamatkan perjuangan keras Yudas dari kegagalan total. Dua abad kemudian kaum Zelot akan mencoba mengulangi perjuangan Yudas, kali itu melawan penindasan Romawi, tetapi mereka gagal total. Model lama dapat memberi ilham untuk situasi baru, tetapi tidak dapat begitu saja diulang, apalagi tidak secara simplistic.

          3. Penyusunan Kitab  

          I Makabe yang hanya tersimpan bagi kita dalam bahasa Yunani, jelas merupakan terjemahan yang agak kaku dari suatu teks yang aslinya dalam bahasa Ibrani.9)  Pengarangnya yang tidak memperkenanlkan diri, mesti seorang Yahudi yang mengagumi wangsa Makabe/Hasmone, mengenal dengan baik sekali geografi Palestina, menguasai gaya penulisan sejarah biblis, dan mempunyai akses kepada sumber-sumber resmi.

         Mengenai waktunya, kitab pasti disusun sesudah tahun 134 sM (tahun pergantian Simon oleh Yohanes Hirkanus) dan sebelum 63 sM (Ketika Yehuda ditaklukkan Roma); barangkali tidak lama setelah kematian Yohanes Hirkanus dalam tahun 104 sM, karena kitab berakhir dengan rumusan tradisional: "Lain-lain dari kisah Yohanes ... semuanya itu tertulis dalam kitab Tawarikh keimamanbesarnya ..." (16:23i).

          Sebagai sumber pengarang memakai arsip-arsip seperti yang disebut dalam14:49. Ia barangkali memakai kronik resmi dinasti Seleusid. Semua riwayat Yudas, kronik Imam Besar Yonatan dan Simon, dan lain-lain. Tetapi mengenai hal itu para peneliti tidak sependapat.10) juga tidak dapat dipastikan apakah selingan-selingan poetis yang cukup indah berasal dari pengarang sendiri yang umumnya menulis seadanya saja, ataukah sudah beredar sebelumnya.

C. Kitab Makabe Kedua

          1. Kisah tentang Bait Allah  

          Kitab ini berbeda dengan I Makabe bukan hanya karena menceriterakan periode yang jauh lebih singkat (hanya sampai kemenangan Yudas atas Nikanor dalam tahun 161 sM) tetapi juga karena menceriterakannya agak lain. Misalnya, permulaan perlawanan oleh Matatias, ayah Yudas (IMak. 2), sama sekali tidak disinggung oleh pengarang ini yang tampak tidak berminat akan dinasti Makabe. Di lain pihak, ketegangan intern dalam bangsa Yahudi yang mengantar kepada masa krisis dan yang hanya disinggung sepintas saja dalam IMak. 1:11-15, diuraikan panjang lebar dalam IIMak. 3-4. Juga para martir yang kurang dihargai dalam I Makabe, menjadi salah satu perhatian utama IIMak. 6-7.

            Susunan kitab dapat dilihat sebagai berikut. Kisal diawali oleh dua surat yang mengajak orang Yahudi di Mesir untuk merayakan pentahiran Bait Allah (bab 1-2). Lalu kisah sendiri secara garis besar menceriterakan tiga serangan utama terhadap Bait Allah: oleh Heliodorus, oleh Raja Antiokhus Epifanes, dan oleh Nikanor (IIMak. 3, 4:1-10:8, 10:9-15:39). Semua serangan itu akhirnya digagalkan oleh Allah; kedua yang terakhir melalui tindakan Yudas, yang menjadi dasar dua perayaan tahunan. Dari susunan ini jelaslah bahwa Bait Allah  menjadi perhatian sentral pengarang ini.

            Kedua surat dan kata pendahuluan. Surat pertama (1:1-9) dari orang-orang Yahudi di Yerusalem kepada orang-orang Yahudi di Mesir mengajak mereka untuk setiap tahun turut merayakan pentahiran Bait Allah dalam tahun 164 sM (pesta Hanuka). Surat ini ditanggalkan pada tahun 124 sM. Ajakan tersebut diperkuat dan diberi alasan tambahan dalam surat kedua dari penduduk Yerusalem kepada Aristobulus dan orang-orang Yahudi lainnya di Mesir (1:10-2:18; tanpa tanggal). Surat-surat ini memberi kesan bahwa kisah yang menyusul dikarang untuk Hanuka, untuk memberi makna kepada perayaan pentahiran Bait Suci.

            Minat besar akan pentahiran Bait Suci juga langsung tampak dari kata pendahuluan penyadur kitab (2:19-32), yang selanjutnya menjelaskan bagaimana ia meringkas sebuah karya dari Yason yang terdiri dari lima jilid (lihat di bawah).

            Heliodorus. Karena ulah Simon, seorang suku Benyamin, yang tidak berhasil menggeserkan Imam Besar Onias, lalu berbohong kepada pihak raja tentang besarnya harta Bait Suci, maka Raja Seleukus IV mengirim Heliodorus untuk menyita harta tersebut. Tetapi ketika masuk Bait Allah, Heliodorus diserbu oleh kuda dan dua pemuda sorgawi sehingga Bait Allah tidak jadi dinajiskan (IIMak. 3). Kisah mujizat ini menyajikan semacam pertunjukan pendahuluan (preview) tentang kedua serangan terhadap Bait Allah yang akan menyusul. Akarnya adalah ketegangan di dalam bangsa Yahudi sendiri; salah satu pihak mencari dukungan raja Seleusid, yang lantas melibatkan diri sehingga timbul bahaya Bait Suci dinajiskan. Tetapi penajisan itu dicegah oleh intervensi ilahi. Namun intervensi ilahi pada dua serangan berikut bukanlah melalui peristiwa adikodrati seperti di sini, melainkan melalui aksi Yudas Makabe dan kawan-kawan.

            Antiokhus IV Epifanes. II Makabe 4 amat melengkapi I Makabe dalam menggambarkan secara rinci ketegangan intern dalam bangsa Yahudi, khususnya yang berkaitan dengan perebutan jabatan Imam Besar. Sementara Simon terus berkomplot melawan Imam Besar Onias, Yason, seorang saudara Onias, sempat merebut jabatan itu dengan menjanjikan banyak uang kepada raja dan menjalankan suatu program Helenisasi di Yerusalem (4:1-20). Perkembangan yang sangat buruk di mata pengarang itu lagi meningkat ketika beberapa tahun kemudian seorang saudara dari Simon, yaitu Menelaus, yang bukan keturunan imam (!), mendapat jabatan Imam Besar dengan menjanjikan lebih banyak uang lagi kepada raja, dan akhirnya harus memenuhi janjinya itu dengan menjual perkakas Bait Suci (4:23-50). Serangan balasan dari Yason dapat ditangkis oleh Menelaus (5:1-10).

            Kembali dari Mesir, raja Antiokhus dengan kejam menaklukkan segala perlawanan di Yerusalem, menajiskan Bait Suci dengan diantar keliling oleh Menelaus sendiri, dan merampas perabot suci (5:11-20). Pengarang menjelaskan bahwa kali ini Allah belum menghalangi penajisan itu oleh karena banyaknya dosa penduduk Yerusalem (5:17-18). Tetapi sebagai tanda pengharapan, untuk pertama kali nama Yudas disebut (5:27).

            Penajisan Bait Suci mencapai puncak baru dalam 6:1-9. Raja Antiokhus memaksa Yahudi untuk mengingkari hukum Taurat, dan dikatakan mengalihkan ibadat dalam Bait Allah kepada dewa Yunani Zeus. Pada puncak penajisan ini perhatian kisah secara mengesankan ditujukan kepada para martir: dua ibu yang menyunatkan anak-anaknya, banyak orang yang merayakan hari Sabat, dan Eleazar dan tujuh orang bersaudara serta ibunya yang menolak makanan yang haram, semuanya dibunuh secara kejam (6:10-7:42). Malapetaka itu di satu pihak dipandang oleh pengarang sebagai hukuman dari Allah untuk memperbaiki bangsanya (6:12-17), tetapi di lain pihak juga digambarkan sebagai jalan menuju kebangkitan bagi para martir sendiri (bab 7).

            Di tengah siksaan ini muncullah Yudas yang dengan enam ribu pasukannya segera mengalahkan Nikanor dan beberapa panglima lainnya (IIMak. 8). Penjelasan mengapa Allah ini membela bangsanya oleh pangarang diletakkan dalam mulut Nikanor yang melarikan diri: "sebab mereka menuruti segala hukum" yang ditetapkan Allah (8:36).

            Penyakit yang akan membawa kematian raja sebelum pentahiran Bait Suci (berbeda dengan IMak. 6), menurut interpretasi IIMak. 9 oleh raja disadari sebagai cambuk ilahi (ay. 11), ia dikatakan bahkan mau menyatakan Yerusalem merdeka (ay. 14), mau masuk agama Yahudi (ay. 17); dan menulis sebuah surat kepada orang-orang Yahudi (ay. 18-29).

            Puncak kisah Antiokhus adalah pentahiran Bait Allah, dan penetapan pesta Hanuka. Perayaan selama delapan hari itu dilukiskan agak rinci agar dapat dirayakan demikian juga oleh seluruh bangsa Yahudi setip tahun (10:1-9).

            Nikanor. Kisah tentang serangan utama yang ketiga terhadap Bait Allah, oleh Nikanor, didahului oleh laporan panjang tentang sejumlah kemenangan Yudas atas musuh (IIMak. 10:14-11:13) yang dalam urutan yang berbeda kebanyakan juga terdapat dalam I Makabe. Kendatipun empat pucuk surat dari pihak Lisias, Raja Antiokhus V dan Roma menegaskan bahwa bangsa Yahudi jangan diganggu dan boleh hidup menurut hukumnya sendiri (11:16-32), namun ternyata mereka tidak dibiarkan hidup dengan tenteram, sehingga Yudas harus bertindak terus terhadap berbagai musuh (bab 12-13).

            Tiga tahun kemudian keadaan berubah. Ada raja baru, Demetrius I (14:1-2), ada Imam Besar baru, Alkimus, ia menuduh Yudas di hadapan raja (14:3-11), dan ada ancaman baru, panglima Nikanor. Meskipun Nikanor mula-mula bersahabat dengan Yudas, namun karena hasutan Alkimus dan desakan Raja Demetrius , Nikanor akhirnya menuntut supaya Yudas diserahkan kepadanya, dengan ancaman: "Bait Allah ini akan kuratakan dengan tanah dan ... di tempatnya akan kudirikan sebuah kuil yang elok untuk Dionisius" (14:33). Ancaman yang paling berat terhadap Bait Allah ini dicegah oleh "Dia yang memelihara kesucian Tempat-Nya sendiri" (15:34) melalui kemenangan mutlak Yudas atas Nikanor yang tewas (15:1-36). Juga kemenangan ini dilestarikan dalam penegakan sebuah pesta tahunan, tiga belas bulan Adar. Di sinilah pengarang mengakhiri kisahnya dengan sebuah kata penutup yang menyenangkan.

                2. Tujuan Kitab Dan Pandangan Teologis  

Dari susunan kisah dan dua surat yang mendahauluinya cukup jelas bahwa perhatian utama II Makabe bukanlah dinasti Makabe (I Makabe), melainkan nasib Bait Allah di Yerusalem.11) Allah berada bersama umat-Nya dan Bait-Nya itu; dan berulangkali melindungi Bait itu terhadap ancaman dari luar. Ada kemungkinan bahwa kitab ini berpolemik melawan sebuah Bait Allah tandingan di Leontopolis di Mesir. Orang Yahudi di Mesir diajak untuk mengakui satu-satunya Bait Allah yang sah di Yerusalem, dan setiap tahun merayakan pentahirannya.

Akan tetapi Bait Allah itu ada demi bangsa, dan bukan sebaliknyha (5:19). Bait yang melambangkan bahwa Allah secara khusus memilih bangsa Yahudi, mengambil bagian dalam nasib baik dan buruk bangsa. Dan nasib bangsa itu terutama dikaitkan dengan sikap bangsa terhadap hukum Taurat. Bait dilindungi terhadap serangan Heliodorus ketika "hukum Taurat ditepati dengan sebaik-baiknya berkat Imam Besar Onias yang bertakwa ..." (3:1). Tetapi ketika penduduk Yeerusalem "terseret oleh banyak dosa", Allah membiarkan saja Antiokhus menajiskan Bait-Nya (5:18; bdk. 4:17, 7:18, 10:4, 12:40). Malapetaka dan siksaan pada waktu itu bertujuan untuk segera memperbaiki bangsa (6:2, 7:33). Kalau nasib Bait Allah kemudian berbalik, anugerah Allah itu sebagiannya dikaitkan dengan tindakan keberanian Yudas (yang digambarkan sebagai pemimpin golongan yang saleh dan setia, 5:27, 14:6), tetapi juga tidak lepas dari doa, tobat dan kesetiaan bangsa (3:22, 8:2-5, 36, 15:1-5), dan dari darah para martir yang dengan ketaatannya melunakkan murka Tuhan (7:38; 8:4). Allah bahkan lagi mengirim bala tentara sorgawi untuk membantu orang-orangnya (10:29-31, 11:6-11; seperti dalam 3:23-30). Dalam pandangan teologis ini II Makabe mengambil posisi tengah di antara I Makabe yang begitu menekankan penyelamatan Allah melalui tindakan kepahlawanan orang-orang pilihan-Nya, wangsa Makabe, dan di lain pihak kitab Daniel yang sama sekali mengabaikan perjuangan manusia dengan senjata dan semata-mata mengharapkan intervensi Allah untuk umat-Nya yang setia.

Dalam II Makabe terdapat beberapa pokok pandangan teologis khusus yang akan berpengaruh besar dalam perkembangan teologi di kemudian hari. Misalnya, Allah yang begitu berkuasa sehingga menciptakan dunia dan manusia dari yang belum ada (7:28; creatio ex nihilo). Dalam bab 6-7 mati syahid demi kesetiaan kepada Allah dinilai positif, baik demi kebaikan bangsa (6:12-17), kota dan Bait Allah maupun demi sang martir yang akan dibangkitkan Allah.

Khususnya kepercayaan akan kebangkitan ini yang sudah terdapat pula dalam Dan. 12:1-3, terungkap secara sangat mengesankan dalam kisah termasyhur tentang seorang ibu dan ketujuh anaknya yang menyerahkan hidup mereka untuk hukum Tuhan dalam keyakinan akan menerimanya kembali dari Dia (7:9, 11, 14, 29; bdk. juga 14:46).

Suatu pokok pandangan yang akan berpengaruh banyak dalam kehidupan doa gereja-gereja Timur dan gereja Katolik adalah doa perantaraan yang melampaui batas kematian. Nabi Yeremia dan almarhum Imam Besar Onias menampakkan diri sambil berdoa dan bersembahyang untuk masyarakat Yahudi yang masih berjuang di bumi (15:12-14). Dan sebaliknya, doa perantaraan disertai korban penebus dosa diadakan pula oleh umat di bumi untuk keselamatan saudara-saudara mereka yang telah meninggal dalam dosanya (12:40-45). Doa perantaraan para kudus dan doa untuk arwah merupakan hal biblis untuk gereja-gereja yang menerima II Makabe sebagai kitab kanonik.

3. Penyusunan Kitab  

II Makabe disusun langsung dalam bahasa Yunani, sebagai ringkasan sebuah karya berjilid-lima karangan Yason dari Kirene (2:23). Karya besar Yason yang tidak tersimpan bagi kita, menurut kebanyakan peneliti ditulis tidak lama setelah aksi-aksi Yudas Makabe. Tetapi kapan sang penyadur menyusun ringkasannya II Makabe, kurang dapat dipastikan. Tanpa adanya kesepakatan, penting dicatat bahwa sebagian peneliti mengaitkan peringkasan itu dengan surat pertama yang mengawali kitab dan yang ditanggalkan pada tahun 124 sM (1:9). Peringkas itu agaknya seorang Yahudi di Mesir (Aleksandria) yang kelihatan dekat dengan semangat kaum Mursit (Hasidim, kemudian Farisi dan Eseni), tetapi juga menguasai gaya sastra Yunani klasik.12) Surat yang kedua (1:10-2:18) menurut kebanyakan peneliti bukanlah karangan asli, melainkan sebuah surat fiktif yang baru kemudian disusun dan disisipkan ke dalam kitab II Makabe.

D. Masalah Kanon  

I dan II Makabe!13) mendapat tempatHaasraaaHaHas tetap dalam kanon Kitab Suci gereja-gereja Timur dan gereja Katolik, sedangkan kedua kitab itu tidak termuat dalam Alkitab Ibrani (Yahudi) dan dalam kanon Alkitab gereja-gereja Reformasi yang memandangnya sebagai kitab-kitab apokrif.

Mudah dimengerti mengapa II Makabe, yang disusun di Mesir dalam bahasa Yunani, tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani susunan Palestina. Namun kitab yang mencerminkan pandangan golongan Yahudi yang saleh, ternyata segera mendapat tempat dalam koleksi Kitab Suci terjemahan Yahudi di Mesir yang dikenal sebagai Septuaginta.

Tetapi mengapa I Makabe, yang disusun di Palestina dalam bahasa Ibrani, tidak mendapat tempat dalam Alkitab Ibrani? Bukankah keluarga Makabe telah memulihkan martabat bangsa Yahudi dan mentahirkan Bait Allah, hal mana dirayakan dalam pesta popular Hanuka? Akan tetapi pada abad pertama sM, pemerintahan wangsa Hasmone (keturunan Makabe) dan khususnya imamat agung mereka sangat mengecewakan golongan Yahudi yang saleh (Farisi, Eseni) di Palestina. Lagi pula kisah tentang revolusi Makabe yang penuh kekerasan pada akhir abad pertama sesudah Masehi mungkin bahkan dilihat sebagai karangan yang berbahaya, setelah revolusi yang serupa dari kaum Zelot terhadap Roma pada tahun 70 sM gagal total dan berakhir dengan kehancuran Yerusalem dan Bait Allah. Maka dapat dimengerti bahwa para guru kalangan saleh di Palestina akhirnya tidak memuat kitab ini dalam kanon Kitab Suci Yahudi. Tetapi sementara itu terjemahan Yunani dari I Makabe juga telah mendapat tempat dalam koleksi Septuaginta di perantauan.

Septuaginta yang disadur oleh orang Yahudi Mesir, pada akhir abad pertama Masehi dilepaskan oleh umat Yahudi perantauan itu dan diganti dengan terjemahan-terjemahan Yunani baru yang tidak lagi memuat kitab-kitab yang kini disebut apokrif atau deuterokanonik. Tetapi pada saat itu Septuaginta yang memuat I dan II Makabe sudah menjadi Alkitab para pewarta dan jemaat-jemaat Kristen di luar Palestina. Kitab-kitab Makabe memang tidak dikutip secara eksplisit dalam PB, tetapi pengaruhnya dapat dirasakan dalam sejumlah alusi dalam PB.14) Dan mulai dari abad ke-2 M kedua kitab itu sering dikutip oleh Bapa-bapa gereja (Clemens, Tertulianus, Origenes. dst.). Tradisi yang lama dan tidak terputus itu menjadi dasar bagi gereja Katolik untuk tetap menerimanya sebagai kitab-kitab yang diilhami Roh Kudus (Konsili Trente, Vatikan I). Sedangkan gereja-gereja Reformasi, yang dalam hal PL kembali ke kanon Alkitab Ibrani, tidak memandang kedua kitab ini sebagai kanonik, kendatipun umumnya menilainya tinggi di antara kitab-kitab Apokrif.

 Kepustakaan Terpilih Untuk Studi Lanjutan 

Teks dan terjemahan:

 

1.      Kappler, W., 1967 2). Maccabaeorum liber I, Septuaginta, VTGr. 9: 1, Goettingen: V&R. (Edisi kritis Teks Yunani yang terbaik).

2.      Hanhart, R., 1959. Maccabaeorum liber II. Septuaginta, VTGr. 9:2, Goettingen: V&R. (Edisi kritis Teks Yunani yang terbaik).

3.      Septuaginta, ed. A. Rahlfs, 1935. Stuttgart: Wuerttembergische Bibelanstalt (Aparat kritis edisi dalam satu jilid ini sudah ketinggalan).

4.      Alkitab dengan Deuterokanonika, Jakarta: LAI, 1975.

5.      The New Oxford Annotated Bible with the Apocrypha: An Ecumenical Study Bible: New Revised Standard Version, ed. B.M. Metzger and R. E. Murphy, 1991. New York: Oxford University. (Edisi NRSV terbaik dengan Apokrifa/Deuterokanonika: disertai catatan).

Buku-buku tafsir

 

1.      Abel, F.M., et J. Starcky, 19613), Les Livres des Maccabees, Paris: Gabalda (tafsir ilmiah atas teks Yunani: klasik).

2.      Bartlett, J. R., 1973, The First and Second Books of the Maccabees. Cambridge: UP, 358p. (ringkas dan jelas).

3.      Collins, 1990, Makabe I dan II. Yoyakarta: Kanisius, 120 (satu-satunya tafsir ringkas dalam bahasa Indonesia).

4.      Goldstein, J., 1976-83, I Maccabees, II Maccabees, 2 vols, AB, Garden City: Doubleday (tafsir ilmiah yang paling mutakhir; uraian luas tetapi ada kalanya berbelit).

5.      McEleney, N.J., "1-2 Maccabees" in: New Jerome Biblical Commentary, ed. R.E. Brown a.o., Ingglewood Cliffs: Prenticehall, 1990).

6.      Schiffman, L.H., "1 Maccabees" & "2 Maccabees" in: Harper's Biblical Commentary, ed. J.L. Mays. San Fransisco: Harper & Row, 1988.

7.      Tedesche, S., and S. Zeitlin, 1950-54, The Fist/Second Books of the Maccabees, 2 vols. New York: Harper (Teks Yunani berdampingan dengan terjemahan Inggris, dilengkapi dengan catatan yang luas).

Buku dan karangan lain

 

1.      Attridge, H., 1986, "Jewish Historiogaphy", in: Early Judaism and its Interpreters, ed. R.A. Kraft and G.W. Nickelsburg . Philadelphia: Fortress, p. 316-323.

2.      Bickerman, E.J., 1979, The God of the Maccabees. Leiden: Brill.

3.      Doran, R., 1981, Temple Propaganda: The Purpose and Character of 2 Maccabees, CBQ MS 12. Washington, DC: CBA.

4.      Harrington, Daniel J., 1988, The Maccabean Revolt: An Anatomy of a Biblical Revolution, Glazier, 193p.

5.      Martola,  N., 1984, Capture and Liberation: A Study in the Composition of the First Book of Maccabees. Abo, Finland: Abo Akademi.

 

 

 

 



1) Beberapa sumber pelengkap yang terpenting adalah Kitab Daniel yang disusun pada  masa revolusi itu. Kitab Yudit yang mungkin mencerminkan kemenangan Yudas Makabe atas Nikanor. Antiquitates dari Flavius Josephus (12:241--13:214) yang menyadur kembali I Makabe 1-13. Testamentum Mozes bab 5 dan 8-10 yang secara implisit mengambil sikap terhadap peristiwa-peristiwa yang mengarah ke revolusi Makabe. Tafsiran Habakuk dari Qumran yang agaknya menentang imamat kaum Makabe (Yonatan dan Simon). Bdk. Harrington, Maccabean Revolt, pp. 109-123; Bartlett, Maccabees, pp. 10-13.

2) Bdk. W. Dommershausen, 1985, 1 und 2 Makkabaeer, Wuerzburg: Echter Verlag, p. 7-9.

3) Demikianlah hasil penelitian Bickermann, God of the Maccabees, yang melihat Yason dan Menelaus sebagai pembaharu agama Yahudi, yang menimbulkan perlawanan dari golongan Yahudi yang ortodox.

4) Kata Makkabalos yang aslinya merupakan julukan untuk Yudas saja (IMak. 2:4, IIMak. 2:19), kemudian dipakai untuk seluruh keluarga itu (Kaum Makabe), dan akhirnya juga untuk kitab-kitab yang menceriterakan tindakan mereka. Ada ahli yang mengartikan julukan Yudas itu sebagai "palu" (pemukul musuh), tetapi menurut peneliti-peneliti lain kata itu agaknya berasal dari kata Ibrani maqqabyahu, artinya "ditunjuk oleh Tuhan". Bdk. N.J. McEleney, "1-2 Maccabees", NJBC, p. 421.

5) Attridge, "Jewish Historiography", p. 318-20.

6) Wangsa Makabe juga disebut Wangsa Hasmone, artinya "wangsa yang dari Simeon", menurut nama seorang kakek mereka.

7) Harrington, Maccabean Revolt, p. 57.

8) Attridge, "Jewish Historiography", p. 318.

9) Origenes (abad ke-3 M) masih mengenal judulnya dalam bahasa Ibrani, Sarbeth-sabaniel; bdk. Abel, Maccabees, iv-v; L.H. Schiffman: "1 Maccabees". HBC, p. 875.

10) Attridge, "Jewish Historiography", p. 317-8; bdk. Juga Goldstein, I Maccabees, p. 37-54.

11) Ada peneliti yang mencirikan kitab ini sebagai propaganda Bait Allah; mis. Doran, Temple propaganda, 1981 ...

12) Berbeda dengan I Makabe yang dikarang dalam gaya sejarah biblis, II Makabe dalam banyak hal mendekati gaya sastra tulisan sejarah Yunani yang klasik; Attridge, "Jewish Historiography", p. 322.

13) Ada dua kitab lain yang bernama Makabe, tetapi yang tidak dipandang kanonik dan juga tidak berkaitan langsung dengan revolusi Makabe. III Makabe menceriterakan ancaman terhadap bangsa Yahudi pada abad ke-3 sM, pada masa raja Ptolemeus IV dari Mesir. Sedangkan IV Makabe berisikan uraian filsafat yang berasal dari abad ke-1 M dan yang bertitik tolak dari kisah kemartiran Eleazar dan ibu serta ketujuh putranya (IIMak. 6-7). Bdk. J.H. Charlesworth, 1983. The Old Testament Pseudepigrapha, Vol. II. London: Darton, p. 509-564.

14) Bdk. Nestle-Aland, Novum Testamentum Greace, 1979, p. 769-770.

 
< Prev   Next >
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007