NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Live Support
LAI Info

Product Info

Product Info






Lost Password?
No account yet? Register
Revisi Perjajanjian Lama Bhs Jawa Print E-mail
Monday, 15 November 2010

Revisi Penerjemahan Perjanjian Lama Bahasa Jawa
Dimulai Bruckner, Direvisi Gericke, Hingga Sampai Revisi LAI

Akhir tahun yang lalu para anggota  tim revisi Perjanjian Lama dalam bahasa Jawa berkumpul di Salatiga. Tepatnya di Wisma Sabda Mulia, “padepokan” milik Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Bagian Utara (GKJTU).  Salatiga  yang terletak di kaki Gunung Merbabu adalah kota tua bekas wilayah Karesidenan Semarang. Di kota yang sejuk dan tenang ini ratusan gereja Tuhan berdiri, berdampingan nyaman dengan aksara-jawa-model-dari-gericke.gifberbagai tempat ibadah lain yang juga bertebaran di sini. Salatiga juga menjadi pusat Sinode dua gereja besar di Jawa Tengah: Gereja Kristen Jawa (GKJ) dan Gereja Kristen Jawa Tengah bagian Utara (GKJTU). Dua kantor sinode ini bergantian menjadi tuan rumah pertemuan para anggota tim revisi Alkitab bahasa Jawa.

Memilih Salatiga sebagai kota tempat revisi secara tidak sengaja juga meneruskan tradisi sejarah penerjemahan Alkitab dalam bahasa Jawa sejak ratusan tahun silam. Di kota ini, Bruckner dan Gericke  pernah singgah dan berkarya. Siapa Bruckner? Dan siapa pula Gericke? Mereka adalah dua orang utusan zending dari Netherlands Zending Genootschap (NZG) yang merintis penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jawa.

 

Bruckner Sang Pemula
Pada tahun 1814, Lembaga Alkitab Belanda berdiri di Amsterdam. Di tahun yang sama dengan berdirinya Lembaga Alkitab Belanda tersebut, tepatnya 25 Mei 1814, tibalah di pelabuhan Sunda Kelapa 3 orang utusan NZG, lembaga zending dari negeri Belanda. Mereka adalah, Joseph Kam, G.Bruckner dan J. S. Supper. Tak lama kemudian Kam diutus melayani di  Ambon, Bruckner dikirim ke Semarang, sementara Supper menetap di Batavia.

Setiba di Semarang Bruckner akrab bergaul dengan orang-orang setempat dari berbagai kalangan. Bruckner gemar melakukan perjalanan ke Salatiga, ke Solo bahkan sampai Jawa Timur. Malahan Bruckner tekun mendalami bahasa Jawa. Tahun 1819, Bruckner selesai menerjemahkan keempat Kitab Injil dalam bahasa Jawa. Dan setahun kemudian dirinya selesai menerjemahkan seluruh isi Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jawa. Namun agaknya, Bruckner merasa kurang puas dengan hasil terjemahannya. Setahun kemudian (1821), Bruckner mengoreksi kembali hasil terjemahannya agar terjemahannya  memenuhi kebutuhan penduduk asli. Setelahnya Bruckner pindah ke Salatiga dan tinggal di kota ini selama beberapa tahun. Di sini Bruckner mengajar di sekolah dan akrab bergaul dengan penduduk-penduduk desa di sekitar tempat tinggalnya.

Pada tahun 1824, hasil terjemahan Bruckner selesai diperiksa oleh para pakar bahasa Jawa.  Hasil terjemahan Bruckner siap untuk diterbitkan oleh OIBG(Oost-Indisch Bijbelgenootschap/Lembaga Alkitab Hindia Timur). Untuk menerbitkannya bukan perkara yang mudah. Karena aksara yang digunakan dalam karya terjemahan ini adalah aksara Jawa. Meski demikian, pihak OIBG akan berusaha keras menyiapkan segala sarana pencetakan.

Belum sempat karya tersebut terbit, Perang Diponegoro pecah di Jawa. Perang ini  merupakan salah satu perang terbesar dalam sejarah kolonial Belanda dan juga perang yang paling memakan biaya bagi pemerintah kolonial. Keadaan di Jawa serba kacau balau. Rencana pencetakan dan penerbitan karya terjemahan Bruckner pun tertunda. Dalam masa-masa sulit akibat perang tersebut, Bruckner tidak kehilangan semangat. Ia malahan memulai penerjemahan Kitab-kitab Perjanjian Lama. Setahun sebelum perang Diponegoro selesai, Bruckner selesai menerjemahkan 5 kitab pertama Perjanjian Lama.

Akhirnya, di permulaan tahun 1831, Perjanjian Baru hasil karya Bruckner berhasil diterbitkan. Untuk permulaan dicetak 3000 eksemplar Perjanjian Baru. Di sampul muka, Perjanjian Baru hasil terjemahannya, Bruckner meminta tahun penerbitan dituliskan 1829. Karena sebelum 1831, beberapa petikan Perjanjian Baru itu sudah beredar dalam bentuk risalah-risalah kecil di masyarakat.

Meskipun di kalangan Belanda sendiri, terjemahan Bruckner tersebut mendapat banyak kritikan tajam, terutama dari JFC. Gericke, namun terjemahan ini layak dihormati. Perjanjian Baru Bruckner ditulis dalam bahasa Jawa yang mudah dipahami masyarakat awam di Jawa. Hebatnya, karyanya ditulis menggunakan aksara Jawa yang untuk mempelajarinya membutuhkan perjuangan tersendiri. Hasil karya Bruckner tersebut menolong para pekabar Injil di berbagai pelosok Pulau Jawa untuk memberitakan kabar sukacita Yesus Kristus dengan lebih baik.  Hingga sekarang, nama Bruckner akan terus dikenang sebagai penerjemah pertama Kitab Suci ke dalam bahasa Jawa.

Dilanjutkan Gericke
Tahun 1848,   saat  Bruckner  berusia  65 tahun,  J.F.C. Gericke menawarkan kepada OIBG terjemahan Perjanjian Baru  bahasa Jawa yang telah selesai dikerjakannya. Terjemahan ini diharapkan mengganti terjemahan sebelumnya hasil karya Bruckner. Sang perintis menanggapi peristiwa ini sebagai berikut,”  Selama dua puluh tahun ini, terjemahan saya beredar luas di kalangan orangf-gericke.gif Jawa, tetapi sekarang akan digantikan oleh terjemahan lain yang bermutu lebih baik, yang dibuat oleh saudaraku yang terkasih, Tuan Gericke.” Bruckner seorang yang rendah hati. Baginya yang penting bukan terjemahannya sendiri, melainkan terjemahan yang bermutu baik untuk kepentingan umat.

Gericke tiba di Batavia pada tahun 1827, atau tiga belas tahun setelah Bruckner datang. Pada masa itu Perang Diponegoro sedang mencapai puncaknya. Tak lama kemudian, Gericke tinggal di Surakarta. Di sana ia mempelajari bahasa Jawa dengan tekun. Tapi ia lebih cenderung belajar bahasa keraton (kromo inggil), yang jarang digunakan masyarakat awam. Selama perang Diponegoro berlangsung Gericke gemar menjelajahi berbagai tempat di Jawa. Bahkan sempat menetap di Ponorogo.

Pada tahun 1832, atas usulan Gericke di Surakarta didirikan Institut Bahasa Jawa. Ia diangkat menjadi direktur pertamanya. Namun justru tugas utamanya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jawa menjadi tertunda-tunda karena kesibukannya mengurus institut. Baru sekitar tahun 1840 Gericke mulai menerjemahkan empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Dia memakai bahasa kromo (Jawa halus). Namun, empat tahun kemudian dia rombak total hasil terjemahannya. Kali ini ia menerjemahkan ulang dengan bahasa ngoko (sehari-hari).

Dalam melakukan tugas  penerjemahan Perjanjian Baru, Gericke biasa memulai pekerjaannya dengan mempelajari naskah bahasa asli Kitab Suci secara seksama. Selain itu ia selalu membaca berbagai rujukan pustaka dari berbagai buku pedoman penafsiran maupun karya-karya terjemahan Alkitab yang lain. Gericke bermaksud menghasilkan sebuah terjemahan Alkitab yang setia dan teliti, artinya sedapat mungkin mengungkapkan isi naskah bahasa asli kata demi kata ke  dalam bahasa Jawa dengan murni, namun tetap sesuai bahasa yang hidup dan yang jelas dapat dimengerti oleh semua orang.

Tahun 1848, terjemahan Perjanjian Baru karya Gericke  diterbitkan. Meskipun banyak juga kritik-kritik tajam yang bermunculan menanggapi terjemahan karyanya. Kebanyakan kesalahan penerjemahannya karena hasil terjemahannya tidak sungguh-sungguh diperiksa dan diperbaiki oleh orang-orang Jawa yang dimintai tolong untuk memeriksa.  Tahun 1854, terjemahan Perjanjian Lama karya Gericke menyusul diterbitkan.

Salah satu yang mengkritisi hasil terjemahan Gericke adalah Roorda. Bahkan, kemudian Roorda menjadi penanggung jawab revisi Perjanjian Baru karya Gericke. Dengan dibantu beberapa orang Jawa yang terpelajar Roorda menyelesaikan revisinya pada Agustus 1859, dua tahun setelah meninggalnya Gericke.  Setahun kemudian hasil revisi ini diterbitkan. Hasil ini disebut cetakan ke-2 Perjanjian Baru Gericke yang diterbitkan dalam aksara kusif kecil. Bahasa yang digunakan dalam edisi revisi ini adalah hasil revisi Gericke antara 1853-1855 yang ditinjau ulang oleh Roorda. Namun demikian, beberapa ahli berpendapat bahwa cetakan kedua ini tidak lebih baik dari yang pertama. Bahkan akhirnya NBG, berencana untuk mencetak ulang edisi 1848, yaitu edisi karya Gericke sebelum direvisi.

Penerjemah ketiga P. Jansz.
Penerjemah berikutnya adalah P. Jansz. P. Jansz bermaksud melakukan penerjemahan dengan metode pemindahan arti dalam bentuk yang raden-ngabehi-djojosupana-dan-p-jansz.gifwajar dalam bahasa sasaran. Jansz kurang  setuju dengan cara penerjemahan yang memindahkan kata per kata dan memaksakan tata bahasa dari bahasa sumber untuk diterapkan dalam bahasa sasaran. Dalam bulan Agustus 1887, Jansz menetap di Surakarta. Di Surakarta, Jansz bekerja sama dengan R. Ng. Djojo Soepono untuk meninjau kembali bagian-bagian lain dari terjemahan Perjanjian Baru karyanya. Di sini Djojo Soepono bertugas memeriksa ulang naskah, membacakannya di depan orang-orang Jawa lain, dan selanjutnya membicarakan bagian-bagian yang sulit dimengerti.  Akhir 1888 terjemahan Perjanjian Baru itu sudah siap dicetak. Bukunya dicetak di Semarang atas biaya BFBS, dan terbit tahun 1890 dalam 9 jilid lepas. 

Sementara itu, pada tahun 1889, BFBS memberi tugas Jansz menerjemahkan Perjanjian Lama. Terjemahan ini berhasil dicetak tahun 1893. Dua tahun kemudian terbit edisi revisi lengkap Alkitab karya Jansz dalam 15 jilid. Pada tahun 1896, Jansz dipensiunkan dengan hormat dari BFBS. Satu tahun setelahnya masih terbit revisi selanjutnya Perjanjian Baru hasil karyanya. Tahun 1904, Jansz meninggal. Namun, dua tahun kemudian masih terbit Alkitab hasil revisi Jansz yang terakhir yang terdiri dari 4 jilid. Terjemahan Jansz, lebih disukai masyarakat dari terjemahan Gericke karena lebih mudah dipahami.

Revisi Atas Karya Jansz
Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun digunakan, Alkitab bahasa Jawa karya P.  Jansz mulai diteliti untuk direvisi. Sebuah komisi kemudian dibentuk. Beberapa anggotanya antara lain: Hendrik Kraemer, utusan penerjemah Alkitab dari NBG dan Pendeta D. Bakker, pendeta utusan  di Jawa Tengah.  Para ahli ini secara umum menyatakan revisi akhir Jansz telah cukup memperbaiki kesalahan-kesalahan konkrit yang ada pada Alkitab terbitan sebelumnya, namun cepat atau lambat diperlukan revisi yang lebih mendalam, yang intinya berusaha menerjemahkan naskah bahasa sumber dengan teliti ke dalam bahasa Jawa yang sejati dan hidup, dengan menghindari terjemahan yang kelihatannya teliti, namun memakai bahasa Jawa yang mati dan tidak wajar. 

Revisi sebagian besar dikerjakan D. Bakker dan sesudah kematiannya, dilanjutkan anaknya Dr. F.L. Bakker. Kraemer bertindak sebagai peneliti dan pemeriksa naskah. Perjanjian Baru terbit pada tahun 1940, dan Alkitab lengkapnya baru terbit antara 1949-1950.

Revisi Alkitab Jawa oleh LAI
Pada tanggal 1 hingga 2 Februari 1971 diadakan seminar tentang revisi Alkitab bahasa Jawa yang bertempat di Kaliurang, Yogyakarta. Jumlah peserta yang hadir dalam seminar tersebut 21 orang, termasuk 9 orang calon perevisi Alkitab bahasa Jawa. Tim perevisi diketuai oleh Pdt. Prof. Dr. R. Soedarmo, yang juga anggota Komisi Penerjemahan LAI.

Sekilas mengenai Pdt. Soedarmo. Beliau adalah orang Jawa asli kelahiran Solo 4 Agustus 1914. Lulus AMS bagian sastra barat di Yogyakarta. Setelahnya beliau masuk Fakultas Teologi Vrije Universiteit di Amsterdam pada tahun 1938. Sekembali dari Belanda beliau menjabat sebagai dosen Sekolah Teologi di Yogyakarta. Selanjutnya beliau diangkat sebagai guru besar di dalam ilmu teologi  di STT Jakarta. Gelar doktor diperolehnya dari Vrije Universiteit.

Seusai penyelenggaraan seminar tersebut, revisi Perjanjian Baru bahasa Jawa dimulai. Meski kekurangan biaya menjadi salah satu masalah utama  dalam mengerjakan proyek ini, namun para perevisi dan petugas lainnya tetap melakukan pekerjaannya dengan tekun dan lancar. Alkitab hasil revisi tim tersebut diterbitkan oleh LAI pada tahun 1981. Selain sebagai bacaan sehari-hari, Alkitab ini dimaksudkan untuk digunakan secara resmi dalam ibadah-ibadah di gereja-gereja pengguna bahasa Jawa, baik protestan maupun Roma Katolik.

Pada tahun 1980, Perjanjian Baru (PB) bahasa Jawa sehari-hari (bahasa Jawa padinan)yang menggunakan metode penerjemahan dinamis fungsional diterbitkan. Sekretaris Umum LAI  Ds. W.J. Rumambi menyerahkan PB  tersebut secara simbolis kepada wakil Gereja Katolik dan Gereja-gereja Protestan pengguna bahasa Jawa dalam suatu ibadah syukur di auditorium Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga tanggal 24 Mei 1980. Versi lengkap Alkitab bahasa Jawa dalam bahasa Jawa  sehari-hari (bahasa Jawa padinan) baru terbit 14 tahun kemudian pada 1994.

Revisi Perjanjian Lama Bahasa Jawa Pada Masa  Kini
Seratus enampuluh sembilan tahun telah berlalu, sejak terjemahan Bruckner selesai dicetak dan diterbitkan. Pada awal milenium kedua, di tim_jawa.jpgpermulaan tahun 2000, Lembaga Alkitab Indonesia bekerja sama kembali dengan lembaga-lembaga gerejawi pengguna bahasa Jawa mengerjakan Proyek Revisi Alkitab Bahasa Jawa. Bedanya jika di masa lalu  penerjemah dan pemeriksa ahlinya adalah orang-orang Belanda. Kini seluruh anggota tim yang terlibat adalah orang Indonesia asli. Kecuali konsultan penerjemahan dari LAI, semua anggota timnya bahkan orang Jawa. Hasil revisi Alkitab ini nantinya diharapkan menggunakan bentuk bahasa Jawa formal untuk penggunaan secara umum, maupun digunakan secara resmi dalam peribadahan.

Awalnya, pada tanggal 6 hingga 10 November 2000, diadakan lokakarya untuk Revisi Perjanjian Baru bahasa Jawa. Lokakarya diselenggarakan di kantor Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Salatiga, Jawa Tengah. Dari lokakarya tersebut, terbentuk tim revisi Perjanjian Baru bahasa Jawa yang berasal dari perwakilan-perwakilan gereja pengguna bahasa Jawa dan dilengkapi dengan beberapa ahli dari berbagai latar belakang ilmu yang mendukung proyek penerjemahan tersebut. Tim tersebut kemudian bekerja keras merampungkan revisi terjemahan Perjanjian Baru bahasa Jawa. Akhir tahun 2007, proyek Revisi Perjanjian Baru bahasa Jawa sudah selesai dikerjakan.

Konsultan Penerjemahan LAI, Pdt. Anwar Tjen, Ph.D, menyatakan, meskipun  sebagian anggota tim merupakan ahli atau orang lama yang sebelumnya mungkin telah berpengalaman mengerjakan proyek revisi Perjanjian Baru, lokakarya untuk Perjanjian Lama  harus tetap diadakan. Karena ada beberapa prinsip dasar dalam penerjemahan Perjanjian Lama yang agak berbeda dengan penerjemahan Perjanjian Baru. Misalnya, bahasa asli Alkitab untuk Perjanjian Lama adalah bahasa Ibrani sementara untuk Perjanjian Baru adalah bahasa Yunani koine. Selain itu ragam kitab Perjanjian Lama yang lebih banyak dan memiliki kekhasan tersendiri memerlukan kehati-hatian dalam penerjemahannya.

Lokakarya Perjanjian Lama bahasa Jawa berlangsung pada tanggal 8-12 September 2008 di Salib Putih Salatiga. Lokakarya ini diikuti oleh peserta dari gereja-gereja berbahasa Jawa: GKJ, GKJW, GKJTU, GITJ, GKSBS dan termasuk Gereja Roma Katolik. Ini adalah gereja-gereja yang masih setia menggunakan bahasa Jawa dalam peribadahan mereka.

Menyatukan para ahli dari berbagai denominasi untuk sebuah proyek besar tentu tidak selalu mudah, tapi tidak juga disebut sulit. Pdt. Anwar menyatakan, sudah ada modal awal yaitu kebersamaan yang baik dalam menyelesaikan Perjanjian Baru. Pada lokakarya Perjanjian Lama sendiri sudah kelihatan bahwa tim ini nantinya akan solid dan akan mampu bekersama dengan baik. Pdt. Anwar menambahkan, “Diskusi biarpun seru, tidak pernah memancing emosi yang berlebihan. Senantiasa ada sopan santun yang baik. Ini merupakan modal yang baik.”

Menurut Pdt.Anwar, ada beberapa hal yang mendasari revisi Alkitab bahasa Jawa. Pertama, perkembangan bahasa Jawa yang telah banyak menyerap kata-kata baru dan ungkapan-ungkapan baru dari bahasa lain atau ada kata ataupun ungkapan yang pada saat ini mulai jarang dipakai. Kedua, dengan ditemukannya salinan-salinan naskah Alkitab yang lebih kuno, para penerjemah dimungkinkan mengerjakan terjemahan Alkitab yang lebih mendekati bahasa sumber. Ketiga, adanya pengertian yang lebih baik mengenai bahasa-bahasa Alkitab dan mengenai sifat-sifat bahasa.

Untuk revisi penerjemahan Bahasa Jawa sendiri ada beberapa hal unik yang perlu diperhatikan. Menariknya adalah bahasa Jawa ini dalam menyebut nama Allah tidak bisa lepas dari nama “Gusti”. Apapun istilah untuk menyebut nama Tuhan, depannya harus didahului kata “Gusti”. Untuk ini penerjemah maupun peneliti harus berusaha mencari padanan nama yang tepat dengan bahasa asal Kitab Suci. Sementara itu, wakil-wakil penerjemah dari Gereja Katolik justru  intensif mendorong supaya mencari padanan kata Pangeran Yehuwah (yang dipakai pada Perjanjian Lama Jawa sebelumnya). Karena sesuai pesan Bapa Paus untuk menghormati kaum Yahudi yang tidak menyebut nama YHWH dengan sembarangan.

Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah, penggunaan bahasa ngoko (sehari-hari) dengan kromo (halus). Misalnya dalam pembicaraan antara Yesus dan Pilatus. Dari segi kekristenan, Yesus adalah Tuhan, Pilatus bukan siapa-siapa. Sementara bagi kalangan awam yang memandang dari sudut sejarah biasa, Yesus dianggap sebagai rakyat biasa sementara Pilatus pemimpin pemerintahan. Dalam masalah ini apakah Yesus harus berbahasa kromo terhadap Pilatus atau sebaliknya? Atau sama-sama kromo? Atau sama-sama ngoko?

Pendeta Suyitno Basuki, pendeta sekaligus budayawan yang anggota dari tim penerjemahan ini juga mengkritisi suasana dalam Kitab Nehemia edisi sebelumnya, di mana dalam suasana kemarahan pihak yang bertikai masih sempat menggunakan bahasa kromo. Lumrahnya orang marah tidak pernah menggunakan  bahasa kromo.

Revisi penerjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Jawa yang sekarang ini dilakukan paling tidak memiliki dua arti penting: melestarikan bahasa Jawa yang adalah salah satu warisan budaya Indonesia dan yang lebih utama agar firman Allah dapat dibaca oleh lebih banyak orang dengan bahasa yang dapat dimengerti.  Proses penyelesaiannya memang masih lama, namun mari kita dukung proses penyelesaian revisi, sehingga proyek ini dapat selesai tepat pada waktunya, dan hasil revisi terjemahan ini dapat segera digunakan oleh anak-anak Tuhan di Jawa. Semoga Alkitab Jawa yang baru nanti dapat menyentuh hati para pembacanya, yang membawa mereka dalam hidup baru yang penuh damai sejahtera.

Kepustakaan:

Mengikuti Jejak Leijdecker jilid 1 dan 2, Lembaga Alkitab Indonesia.

Laporan Tahunan LAI tahun 1972, Lembaga Alkitab Indonesia

Laporan Tahunan LAI tahun 1980, Lembaga Alkitab Indonesia

 
< Prev   Next >
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007