NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Free Download
Live Support
LAI Info

Product Info

Product Info






Lost Password?
No account yet? Register
Hit Counter

Who's Online
We have 64 guests online
Polling
Seberapa sering anda membaca Alkitab?
 
Berapa lama waktu yang anda perlukan setiap kali membaca Alkitab
 

Random Bible Verse
Satu Dalam Kasih 2012 Print E-mail
Thursday, 05 January 2012

Satu Dalam Kasih 2012sdk_1.jpg

Saat ini usia saya 70 tahun. Kalau ibadah di gereja selama ini saya hanya bisa mendengar ayat-ayat Alkitab dibacakan. Dengan rajin mendengar saya banyak belajar dan mendalami Firman Tuhan. Satu ayat yang menjadi kesukaan dan kekuatan saya sehingga saya menghafalnya dengan baik dari Yohanes 14:6 "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku". Sejak sepuluh tahun yang lalusdk_2.jpg setiap hari saya berdoa kiranya Tuhan memberikan jalan supaya saya bisa memiliki sebuah Alkitab. Ternyata doa saya yang panjang dijawab Tuhan hari ini. Tuhanlah yang membalaskan segala kebaikan orang-orang yang sudah menyumbangkan Alkitab ini bagi saya. (Ibu Assaria Gulö, Pensiunan buruh perkebunan kelapa sawit; Riau, Oktober 2010)

Sebuah kesaksian dari salah satu umat Tuhan yang sangat merindukan Alkitab hadir di tangan-Nya. Tentu masih banyak umat-Nya yang senantiasa berdoa untuk keinginan yang sama. Melalui Program Satu Dalam Kasih 2012 Alkitab akan disampaikan kepada saudara-saudara se-iman di beberapa wilayah berikut: 

Garoga

sdk_garoga.jpgSebagai salah satu kecamatan di Tapanuli Utara, Garoga merupakan kecamatan dengan tingkat kehidupan perekonomian masyarakat yang paling miskin dan sulit berkembang. Kecamatan Garoga merupakan wilayah pemekaran dari Kecamatan Pangaribuan.

Secara geografis, Garoga berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir di sebelah utara, Kabupaten Labuhan Batu di sebelah timur, Kabupaten Tapanuli Selatan di sebelah selatan dan Kecamatan Pangaribuan di sebelah barat. Terdiri dari 13 desa dengan kondisi topografi 68% berbukit, merupakan salah satu kendala untuk memajukan dan memberdayakan masyarakat di sektor pertanian.

Mayoritas penduduk Garoga hidup dari hasil pertanian dengan sistem pertanian yang jauh tersentuh teknologi. Hal ini menyebabkan perkembangan Kecamatan Garoga menjadi sangat lambat dibandingkan kecamatan lain. Jenis komoditi pertanian yang dominan dibudidayakan di Kecamatan Garoga antara lain: padi sawah, padi ladang, jagung, ubi jalar, kacang tanah, dll.

Selain pertanian tanaman pangan, Kecamatan Garoga juga memiliki potensi dalam bidang tanaman perkebunan, semisal komoditi tanaman kopi, karet dan kemenyan. Peternakan juga merupakan salah satu usaha yang dibudidayakan oleh masyarakat Garoga, terutama ternak babi dan ayam.

Dari jumlah penduduk 3.197 kk, sekitar 2.623 kk (82,04%) masih tergolong dalam kategori kurang mampu de ngan tingkat pendidikan yang juga rendah. Dari segi kesehatan, Garoga dilayani oleh seorang dokter, 7 orang perawat dan 21 orang bidan dengan jumlah sarana kesehatan yang juga sangat terbatas.

Mayoritas masyarakat di Garoga merupakan umat Kristiani yang taat beribadah sementara 8% lainnya beragama Islam. Mereka sangat rajin mengikuti kegiatan-kegiatan gerejawi meskipun sebagian besar belum memiliki Alkitab. Kondisi ini merupakan tantangan bagi gereja dalam pembinaan iman umat sehingga dukungan untuk pengadaan Alkitab saat ini sangat diharapkan seluruh umat.

Kalimantan Tengah

sdk_kalteng.jpgKalimantan Tengah (Kalteng) dikenal dengan sebutan “bumi Isen Mulang” merupakan daerah yang masih tertinggal pembangunan fisiknya dibandingkan beberapa daerah di Indonesia namun sejauh ini merupakan tempat yang cukup damai dan tentram. Lahan di Kalimantan Tengah terutama bagian selatan pada umumnya adalah rawa-rawa dan gambut dan makin ke utara menanjak menuju jajaran pegunungan Muller Schwaner yang merupakan lahan misterius.

Mayoritas masyarakat Kalteng beragama Kristen dan terbesar dilayani oleh sinode GKE, sementara kepemilikan Alkitab baru mencapai 30%. Jemaat di Kalimantan Tengah banyak tinggal di daerah-daerah yang masih sulit dijangkau karena umumnya tinggal terpencil di hulu-hulu sungai dan hanya bisa dicapai dengan perahu melalui arus yang cukup deras. Bahkan masih ada yang primitif yang hidup bergantung sepenuhnya kepada alam. Kondisi ini sangat mempengaruhi perekonomian jemaat sehingga daya beli yang sangat rendah disamping harga bahan pokok yang mahal dan SDM yang terbatas.

Faktor adat juga menjadi kendala tersendiri bagi pelayanan karena berpengaruh besar dalam keseharian mereka. Kebersamaan dalam adat jauh lebih kuat dibanding ikatan persekutuan ibadah itu sendiri. Gereja bekerja keras memberikan pengertian dan pemahaman lewat seminar-seminar. Luasnya wilayah dan sulitnya komunikasi sangat mempengaruhi kelancaran pelayanan dan respon gereja terhadap kebutuhan umat.

Memberamo

sdk_memberamo.jpgDaerah Mamberamo mempunyai luas wilayah sebesar 31.136,85 km2. Mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

Utara : Samudra Pasifik

Selatan : Kabupaten Puncak Jaya dan Derah Tolikara

Barat : Kabupaten Waropen dan Kepulauan Yapen

Timur : Kabupaten Sarmi

Daerah Mamberamo memiliki topografi yang bervariasi mulai dari dataran, perbukitan, hingga pegunungan. Topografi dataran terletak di utara dan selatan yang dipisahkan oleh Pegunungan Foja dan Rouffaer. Dataran utara merupakan dataran rendah yang terletak antara garis pantai dan pegunungan sementara dataran selatan terletak di suatu cekungan antar pegunungan, yaitu antara Pegunungan Foja dan Pegunungan Nassau hingga Pegunungan Jayawijaya. Dataran selatan ini disebut sebagai Dataran Lakustrin (Lake Plain) yang terletak di jantung Daerah Aliran Sungai Mamberamo dan dialiri oleh sungai-sungai besar, seperti Sungai Tariku (Sungai Rouffaer) yang mengalir dari barat ke timur dan Sungai Taritatu (Sungai Idenburg) yang mengalir dari timur ke barat. Kedua sungai tersebut kemudian bergabung menjadi satu dan menjadi Sungai Memberamo yang mengalir ke arah utara membelah Pegunungan Foja-Rouffaer.

Kawasan Hutan Mamberamo seluas 8 juta hektar, sehingga sampai saat ini mata pencaharian masyarakat setempat sangat bergantung pada hasil hutan. Jenis fauna yang melengkapi keanekaragaman hutan di Mamberamo, antara lain: katak, burung kasuari, cenderawasih, mambruk, maleo, elang dan nuri serta mamalia seperti: kanguru, dan kuskus. Sedangkan di laut terdapat jenis ikan yaitu: ikan sembilang, reptil: buaya kadal, ular, kura-kura atau labi-labi.

Jemaat Mamberamo cenderung tinggal di sepanjang pinggiran sungai dari hulu sampai hilir dengan arus yang sangat besar dengan rumah seadanya yang atap dan dinding hanya ditutupi daun sagu. Dari jemaat yang satu ke jemaat yang lain harus melewati sungai-sungai besar dengan pusaran air (bahasa daerah: air taputar) yang dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan angkutan yang ditumpangi terbalik. Biasanya jenis angkutan yang digunakan adalah sampan, jonson, perahu atau berjalan kaki di sekitar pinggiran sungai.  Mereka juga hidup nomaden, berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain di sekitar pinggiran sungai. Bahkan pada daerah Mamberamo Tengah Timur dikenal sebagai daerah yang paling sulit dijangkau karena letaknya yang berada di tengah lebatnya hutan dan derasnya arus Sungai Mamberamo. Daerah itu dibentengi lereng perbukitan yang terjal dan kokoh.

Inilah kendala berpelayanan di daerah Mamberamo yang harus menantang alam dan kebiasaan hidup penduduk/jemaat yang tidak menetap. Belum lagi ditambah dengan pemahaman dan tingkat pendidikan jemaat yang masih rendah. Dengan motto “Berbeda, Beriman, Mandiri dan Berbudaya” gereja bekerja keras melayani dan bersaksi membangun umat Tuhan.

 

Talaud

sdk_talaud.jpgKabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, dengan ibu kota Melonguane. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi. Wilayah ini adalah kawasan paling utara di Indonesia timur, berbatasan dengan daerah Davao del Sur, Filipina di sebelah utara. Jumlah penduduknya adalah 91.067 jiwa.

Kondisi Kabupaten Kepulauan Talaud termasuk dalam 199 daerah tertinggal di Indonesia dan masih terisolir karena berbagai keterbatasan infrastruktur dasar, ekonomi, sosial budaya, perhubungan, telekomunikasi dan informasi serta pertahanan keamanan. Kelapa merupakan komoditas tanaman terbesar yang dihasilkan, akan tetapi daerah ini masih memasok minyak goreng dari tempat lain dikarenakan industri minyak goreng belum dikembangkan.Ketertinggalan ini menyebabkan perekonomian sulit berkembang dan berdampak pada kehidupan masyarakat yang jauh dari kecukupan.

Pulau Miangas merupakan salah satu potret kehidupan umat yang sangat memprihatinkan. Pulau ini berada di wilayah Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara yang sebelah utaranya berbatasan langsung dengan negara Filipina. Dalam kesehariannya penduduk kepulauan Miangas menggunakan bahasa daerah setempat. Berdasarkan data yang didapatkan dari kantor perwakilan pemerintah Kabupaten Talaud di Manado, pada umumnya penduduk merupakan masyarakat ekonomi lemah dan tinggal di lokasi yang sangat rawan dengan bencana alam. Hal ini diakibatkan karena Miangas berada di bibir Samudra Pasifik. Jumlah penduduk yang mendiami Pulau Miangas diperkirakan berjumlah hampir 1000 jiwa dan mayoritas penduduk beragama Kristen. Hal ini dapat dilihat dengan hadirnya dua bangunan gereja di Pulau Miangas yaitu GERMITA (Gereja Masehi Injili Talaud) dan GPdI (Gereja Pantekosta di Indonesia).

Karena keadaan ekonomi yang lemah serta keadaan alam yang sulit membuat kehidupan kekristenan di Miangas sangat memprihatinkan. Selain Miangas ada banyak daerah lain seperti Nanusa, Gemeh, Dapalan, Esang, Kabaruan yang kondisinya tidak berbeda jauh. Kemiskinan serta berbagai kendala hidup yang harus dijalani setiap hari membuat umat punya keinginan yang kuat untuk memiliki Alkitab yang dapat mereka baca setiap hari sehingga menunjang proses peribadatan dan perkembangan iman mereka.

 

Mamuju dan Mamasa

sdk_mamuju__mamasa.jpgProvinsi Sulawesi Barat yang letak ibu kotanya di Mamuju, masih dapat dikatakan wilayah yang masih baru berkembang. Hal ini tergambar dari masih banyaknya daerah yang wilayahnya sangat sulit terjangkau serta prasarana yang terbatas. Terutama di beberapa daerah pedalaman yang berupa pegunungan di Kabupaten Mamuju yakni Kecamatan Kalumpang dan Kecamatan Bonehau, di mana wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara (Seko), Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Mamasa. Daerah ini masih terisolir, tidak terjangkau dengan sarana infrastruktur dan informasi sehingga untuk menjangkau daerah tersebut harus ditempuh dengan jalan kaki antara 10 – 50 km selama 2 hari perjalanan. Dengan kondisi ini berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat yang mutlak harus bertani dan mengolah tanah secara berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Namun kondisi ini mengakibatkan penghasilan yang cukup kecil dan tidak mampu untuk mendapatkan barang-barang yang harus dibeli dari kota serta dengan harga yang bagi mereka sangat mahal. Selain itu terdapat pula salah satu dusun di Desa Gunungsari, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara yakni dusun Bambamone terletak dekat perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, 123 km dari Kota Palu. Untuk mencapai dusun ini dapat menggunakan kendaraan roda 4 atau sepeda motor pada musim kemarau, namun pada musim hujan kita harus berjalan sekitar 2,5 km serta menyeberangi sungai 2 kali. Masyarakat yang berdomisili di daerah ini adalah penduduk asli yaitu suku Kaili rumpun Inderia yang biasa disebut suku Bunggu (bunggu artinya gunung) dan mereka pada umumnya berada di pedalaman dan hidup berpindah-pindah. Di samping itu bila dibandingkan dengan suku-suku lainnya, maka suku Bunggu ini kebanyakan tidak mengecap pendidikan dan kehidupan ekonomi mereka di bawah garis kemiskinan karena tidak mampu menata kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga sebutan yang tepat untuk masyarakat di wilayah Bambamone dan sekitarnya adalah suku terasing (terabaikan) karena tertinggal dalam berbagai hal. Dengan kondisi ini gereja serta para penginjil (hamba Tuhan) yang terpanggil melakukan berbagai upaya pelayanan terutama pelayanan bagi rohani mereka antara lain dengan berupaya untuk dapat mendirikan gereja walaupun masih sangat sederhana.

Pelayanan Pekabaran Injil juga dilaksanakan di wilayah Kabupaten Mamasa khususnya masyarakatnya yang berada di daerah-daerah yang masih terisolir (belum terjangkau dengan alat transportasi). Hal ini didasarkan pada kenyataan dengan masih banyak masyarakat di wilayah Mamasa ini yang belum mengenal Kristus (memeluk agama suku).

 
< Prev
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007