|
BERPACU DENGAN MODERNISASI DI NEGERI SERIBU KUDA
Siapa yang tak kenal Sumba? Pulau yang identik dengan padang sabana yang luas serta ternak yang berkeliaran bebas di padang rumput. Selain dikenal dengan padang sabananya, kuda sandel dan kualitas katu cendananya (sandalwood), Sumba juga dikenal dengan salah satu wilayah di Indonesia yang masih menyisakan kehidupan budaya megalitikum, dan tradisi budaya marapu. Di samping itu, hampir di setiap pesisir pantai di pulau Sumba dihiasi oleh pasir putih. Perpaduan antara keindahan alam yang eksotis dan tradisi budaya inilah yang menjadi daya tarik investor dan wisatawan untuk datang ke Sumba. Diharapkan hal tersebut bisa menjadi aset untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), apalagi kini kabupaten Sumba Barat mekar menjadi tiga kabupaten baru (Sumba Barat, Sumba Tengah & Sumba Barat Daya) tentunya membutuhkan dana besar.
Musim kemarau di Sumba tahun ini nampaknya lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya di bulan-bulan November dan Desember hujan sudah membasahi wilayah bersabana ini, tapi 2 tahun belakangan ini curah hujan yang turun tidak mencukupi petani untuk mengolah tanahnya, sehingga gagal tanam dan gagal panen terjadi di semua wilayah. Di kabupaten Sumba Timur, ada sekitar 74 desa dari 156 desa/kelurahan yang tersebar di 22 kecamatan di Sumba Timur yang akan mengalami krisis pangan. Sebenarnya krisis pangan juga terjadi tahun lalu, banyak penduduk hanya memakan umbi-umbi dari hutan agar dapat bertahan hidup.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, Gereja Kristen Sumba (GKS) hadir
untuk menggembalakan umat Tuhan yang tersebar kepelosok di negeri
Sandalwood ini. Gereja yang lahir dari hasil pekabaran Injil dari
Zending GKN (Gereformeerde Kerken in Nederland) yang dimulai sejak tahun
1881, kini telah berkembang menjadi gereja yang mandiri dan berkembang
menjadi 150 jemaat. Seperti yang dialami masyarakat Sumba pada umumnya,
yang menjadi tantangan dan masalah dalam pelayanan GKS adalah kendala
SDM dan ekonomi, khususnya di jemaat pedesaan, misalnya: masalah
kemiskinan. Salah satunya adalah kepemilikan Alkitab, dari 380.000
jemaat GKS baru 25% jemaat yang memiliki Alkitab lengkap.
Data dan informasi itulah menjadi salah satu yang mendorong LAI kembali membagi Alkitab program SDK LAI ke negeri Sandalwood. Perjalanan Tim SDK LAI ke Sumba, 18-25 November 2011 lalu ada perjalanan yang ketiga kali, setelah tahun 1999 membagi 4.000 Alkitab dan bacaan rohani anak-anak program SDK di Waikabubak, Sumba Barat, dan tahun 2009 membagi 7.500 Alkitab dan bacaan rohani anak-anak program SDK di seluruh Sumba. Kali ini Tim SDK LAI membagi 10.000 Alkitab dan bacaan rohani anak-anak, serta 130 Alkitab Edisi Studi. Perjalanan SDK kali ini sedikit “istimewa”, karena hanya dalam waktu 6 bulan, KKPD (Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan) LAI Wilayah Jakarta berhasil menggalangan dukungan sebesar 10.000 Alkitab dan bagian-bagiannya yang didapat dari turnamen Golf.
Lima bulan setelah penggalangan dana, beberapa anggota KKPD LAI wilayah Jakarta turut langsung bersama LAI terbang ke negeri seribu kuda untuk menyebarkan Alkitab program SDK LAI. Mereka adalah ibu Lentina S. Panjaitan (POUK Cibubur), Ibu Laura Kansil (POUK Kelapa Gading), Ibu Indrawati (GKI Kelapa Gading), dan Ibu Rumanti Yuliasih (GKI Kemang Pratama), dan Rovina Mahulette (Relawan) sementara dari LAI: Erna Yulianawati (DepGEMA), Junius Toelle (PPC), dan Budi Fajar (DepKom LAI), selanjutnya disebut Tin SDK LAI.
Ketika Tim SDK LAI menginjak landasan Umbu Kunda, angin kering dan panas terik yang menyengat segera dirasa. Cuaca seperti ini yang akan dirasakan seminggu ke depan oleh Tim SDK LAI yang akan menyebarkan 10.000 Alkitab dan Kidung Jemaat, buku aktifitas sekolah minggu, dan 130 Alkitab Edisi Studi kepada 80 jemaat GKS di pelosok-pelosok Sumba. Seperti diketahui, hampir 80% jemaat-jemaat GKS berada di pelosok pedesaan. Dan dari 150 jemaat-jemaat GKS, baru 20% jemaat memiliki Alkitab dalam setiap rumah tangga. Bahkan di beberapa jemaat, ada Majelis Jemaat yang tidak memiliki Alkitab. Jika majelis saja tidak memiliki Alkitab, lalu bagaimana dengan jemaatnya.
Jumlah 10.000 eksemplar Alkitab-KJ, buku aktifitas sekolah minggu, dan 130 Alkitab Edisi Studi bukanlah jumlah yang besar, apalagi untuk mengatasi kebutuhan Alkitab yang cukup besar. Karenanya, Sinode GKS memberikan prioritas kepada jemaat-jemaat GKS yang majelis jemaat dan warganya sama sekali belum memiliki Alkitab.
Mengingat keterbatasan yang ada, Tim SDK LAI memanfaatkan waktu 7 hari untuk dapat membelah dan menelusuri seluruh pelosok Sumba. Agar jemaat dapat menjangkau ke-150 jemaat GKS yang sudah ditetapkan Sinode, maka pertemuan dikumpulkan pada klasis-kla sis terdekat, sehingga jemaat-jemaat sekitar dari pelosok bisa berkumpul. Penyerahan Alkitab program SDK dilakukan di GKS Jemaat Kapunduk Cabang Napu, , kabupaten Sumba Tengah. GKS Jemaat Lenang, kabupaten Sumba Tengah. GKS Jemaat Walakari, kabupaten Sumba Timur, GKS Jemaat Penang, kabupaten Sumba Timur. GKS Jemaat Tarimbang, kabupaten Sumba Timur dan GKS Jemaat Liangu Dowu, kabupaten Sumba Tengah. GKS Jemaat Malata, kabupaten Sumba Barat, GKS Jemaat Gaura, kabupaten Sumba Barat, GKS Jemaat Lombu, kabupaten Sumba Barat dan GKS jemaat Panenggo Ede, kabupaten Sumba Barat Daya.
Masing-masing jemaat mempunyai peng-alaman bertumbuh dan kesaksiannya sendiri, namun pengharapan mereka untuk mendapatkan Firman Tuhan kini nyata sudah. Firman Tuhan sudah ditaburkan di negeri bersabana. Kita tidak tahu kapan benih itu akan berbuah tetapi ketika kita menabur benih, orang lain menyiramnya dan Tuhan akan membuatnya berbuah. Kiranya 10.000 Alkitab dan buku aktifitas anak sekolah minggu, dan 130 Alkitab edisi Studi dapat menjadi benih yang baik, khususnya bagi jemaat GKS, yang tak bisa mengelak dari gempuran arus modernisasi.
|