|
KEMITRAAN LEMBAGA ALKITAB INDONESIA DENGAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
Bpk. H.R. Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, membuka Konferensi Nasional “ Kemitraan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan Gereja-gereja di Indonesia. Konferensi di Hotel Aston, Cengkareng, Jakarta, 7-10 Mei 2012. Konfernas LAI yang mengangkat tema “Firman Allah Untuk Semua (God’s Word for All)” dihadiri oleh para Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Aras Nasional (Persekutuan Gereja- gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja Pantekosta Indonesia, Persekutuan Baptis Indonesia, Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Gereja Orthodox Indonesia dan Persekutuan Gereja-gereja Tionghoa Indonesia), para 118 pimpinan Sinode Gereja-gereja di Indonesia dan perwakilan Keuskupan Gereja Katolik Se-Indonesia.
Sebelum Konferensi Nasional ini terselenggara, LAI dengan pimpinan Gereja Aras Nasional sudah lebih dulu mengadakan pertemuan bilateral dan dilanjutkan dengan penyelenggaraan Konsultasi Regional pada tahun 2011 LAI yang dilaksanakan di tujuh wilayah di Indonesia, yaitu: Jayapura, Pontianak, Manado, Makassar, Medan, Denpasar, dan Bogor. Dalam Konsultasi Regional LAI mengundang wakil-wakil gereja dan lembaga-lembaga Kristiani yang ada di sekitar tujuh wilayah tersebut. Tiap Konsultasi Regional menghasilkan rumusan memorandum yang berisikan masukan dan sekaligus dukungan bagi pelayanan LAI di Indonesia.
Sejak berdirinya LAI 58 tahun silam, relasi LAI dan gereja-gereja di
Indonesia sangat sulit dipisahkan. LAI eksis karena gereja dan umat
Kristiani, demikian pula sebaliknya, gereja dan umat Kristiani di
Indonesia eksis, antara lain karena dukungan Alkitab yang dihadirkan
LAI. Keberadaan LAI memiliki posisi yang amat strategis dalam mewujudkan
tritugas gerejawi (bersekutu, bersaksi dan melayani). Melalui Alkitab
terbitannya, LAI juga berhasil menjembatani gereja-gereja yang memiliki
beragam tradisi dan teologi. Umat Kristiani di Indonesia patut bersyukur
bahwa semua denominasi dan konfesi di seantero Nusantara menggunakan
Alkitab yang sama, yaitu Alkitab terbitan LAI. Di berbagai Negara lain,
pengalaman penggunaan terjemahan bersama yang bersifat “inter
confessional” tidak selalu mulus.
Selepas konferensi, para pemimpin gereja dan LAI diharapkan saling memahami tugas masing-masing dalam menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarluaskan Alkitab di tengah-tengah kondisi riil Indonesia pada masa kini dan masa mendatang. Dan selanjutnya, kerja sama, komitmen dan kemitraan gereja dan LAI dapat ditingkatkan dalam mewujudkan visi dan misi bersama melalui pelayanan masing-masing dengan Alkitab sebagai sarana bersama untuk membawa umat mampu berinteraksi dengan Allah, Sang Khalik, dan mengalami hidup baru.
Seperti yang telah disebutkan di muka, Konferensi yang dibuka oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, H.R. Agung Laksono akan dilanjutkan keynote address “Peta kebijakan Pemerintah pada era reformasi di bidang keagamaan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa” yang dibawakan oleh Ibu Maya Malau dari Kementerian Agama RI. Melalui paparan yang disampaikan diharapkan diperoleh informasi yang cukup lengkap dan aktual mengenai tugas dan perananan kementerian agama di era reformasi ini. Termasuk tantangan-tantangan yang dihadapinya Kementerian Agama dalam menjalankan tugas dan peranannya tersebut.
Selama dua hari pertama Konferensi, secara bergiliran akan tampil membagikan pengalaman dan pemikirannya, pimpinan-pimpinan: Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sekretaris PP Muhammadiyah, KH. Masdar F Mas’udi dari Rais Syuriah PB Nahdlatul Ulama, Drs. Uung Sandana, SH, Sekjen Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Ir Ketut Parwata, Sekretaris Umum Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Prof. Dr. Philip K. Widjaja, SekJen Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Nus Reimas, Ketua Umum PGLII, Pdt. Robinson Nainggolan, S.E., M.Sc, Ketua Harian PGPI, Mgr. Dr. Martinus D. Situmorang, OFMCap., Ketua KWI, Pdt Guntur Subagyo, Ketua Harian PBI, Pdt. Dr. Joseph S. Peranginangin, Ketua GMAHK Uni Indonesia Kawasan Barat, Mayor Sasmoko D. Hertjahjo, Bala Keselamatan, Arkhimandrit Dr. Daniel B. Dwibaynatoro, Ketua Umum GOI, Pdt. Paulus Suhindro, anggota Pengurus PGTI, dalam diskusi panel yang mengambil tema: ”Bagaimana Kitab-Kitab Suci Agama-Agama berpengaruh dalam pembinaan karakter umat; apa dampaknya dalam persfektif hubungan antar agama dan penganut agama-agama di Indonesia dalam bingkai Negara Pancasila?”
Setelah para peserta mendengarkan berbagai paparan secara umum mengenai arah kebijakan pemerintah di bidang keagamaan dan disambung peran Kitab Suci dalam tiap agama dalam pembinaan karakter umat, tema konferensi mulai masuk dalam bidang yang lebih sempit yaitu relasi dan kerja sama gereja-gereja dan umat Kristiani di Indonesia dengan LAI dalam tugas bersama menyebarluaskan Firman Allah, dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami dan dimengerti dengan mudah oleh penggunanya, dalam jumlah yang cukup, dan dengan harga yang terjangkau, sehingga mereka yang membaca, mendengar dan melihat Firman Allah itu, pada akhirnya memiliki arah hidup dan harapan yang baru, dan memampukan mereka berkomunikasi secara pribadi dengan Firman Allah yang Sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai inti pemberitaan Kabar Baik. Hal tersebut sejalan dengan rumusan pertemuan Majelis Umum Persekutuan Lembaga Alkitab Sedunia (General Assembly UBS) di Midrand, Afrika Selatan.
Untuk membuka wawasan bersama dan membangun kesepahaman seputar bidang penerjemahan Alkitab, pada konferensi Nasional . Sesi pertama, akan membahas “Masalah-masalah Umum di seputar Penerjemahan Alkitab” yang menghadirkan Dr. Alexander Scheiwtzer (UBS Translation Chief Excetutive) sebagai narasumber utama.
Sesi kedua, membicarakan ”Masalah-masalah Penerjemahan Alkitab di Indonesia” dengan narasumber utama, Pdt. Dr. Anwar Tjen, konsultan penerjemahan LAI. Melalui sesi ini para peserta diharapkan memperoleh informasi mengenai berbagai pendekatan, tantangan dan kendala seputar penerjemahan Alkitab di Nusantara. Tentu saja paparan ini akan dilengkapi dengan berbagai data, fakta dan berbagai paparan yang telah diperoleh LAI ketika tahun lalu menjalankan Konsultasi Regional di tujuh wilayah di Indonesia.
Sesi ketiga, berbicara mengenai “ Masa Depan Penerjemahan di Indonesia”, yang akan menjadi narasumber adalah Pdt. Dr. Marko Mahin, doktor antropologi, yang merupakan pengajar dan peneliti di STT GKE Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pilihan yang selalu mengemuka dalam diskusi adalah apakah penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah di Indonesia masih diperlukan? Sampai kapankah hal ini akan berlangsung, terutama pada era globalisasi yang menurut Wikipedia membuat batas wilayah menjadi tidak nampak lagi dan arus migrasi manusia dari satu tempat ke tempat lainnya mempercepat pencampuran dan universalisme budaya?
Sesi keempat, dalam diskusi mengenai penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia menghadirkan Dr. Yulia Esti Katrini, pakar dialek bahasa dari Universitas Tidar Magelang. Beliau akan memandu para peserta membahas “Masalah Dialek Bahasa dalam Penerjemahan Alkitab di Indonesia”.
Melalui berbagai renungan, paparan dan masukan yang disampaikan dalam Konferensi Nasional ini, yang didukung kesepakatan dan masukan-masukan yang diperoleh dari Konsultasi Regional LAI di tujuh wilayah di Indonesia, tercapai pemahaman bersama dan dukungan baru dari masyarakat Kristiani, lembaga-lembaga gerejawi dan pemerintah terhadap karya dan pelayanan LAI bagi umat Tuhan di Nusantara dalam bentuk Komitmen Kemitraan yang ditandatangani oleh 118 Pimpinan Sinode Gereja dan Keuskupan di seluruh Indonesia.
|