NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Live Support
LAI Info

Product Info

Product Info






Lost Password?
No account yet? Register
Konkordansi Kitab Suci Print E-mail
Wednesday, 06 June 2012

KONKORDANSI ALKITAB BAHASA JAWA

Concordantie inggih poenika serat tjoendoekan toemrap ing kitab soetji ingkang mawi basa djawi
(Pengantar Konkordansi Bahasa Jawa)


Pernahkah Anda sedemikian penasaran untuk menemukan kalimat seperti : “supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri” atau konkordansi_alkitab_bahasa_jawa.jpgkalimat  “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup” di dalam Alkitab.  Mencari letak ayat yang memuat kalimat di atas sering memakan waktu. Padahal kita terkadang memerlukan  secepatnya petikan-petikan ayat tersebut. Pencarian ayat tersebut akan menjadi lebih mudah jika kita memiliki konkordansi Alkitab.

Konkordansi merupakan alat bantu yang tepat untuk mencari rujukan atau letak ayat-ayat tertentu dalam kalimat dengan bantuan kata-kata kunci yang tersedia. Konkordansi sangat menolong anda sehingga nasehat yang ingin dicari, dapat anda temukan dengan cepat. Melalui konkordansi kita  akan terbantu untuk mencari kitab atau surat mana saja yang memuat berbagai kata atau istilah seperti: sukacita, kasih setia, iman, Roh Allah dan ratusan kata atau istilah penting lainnya di dalam Alkitab.

Tambahan pula, anda dapat menemukan nama-nama orang yang penting dalam Alkitab, seperti: Abraham, Ishak, Daud, Salomo, Petrus, Paulus dan sebagainya. Berikut keterangan yang menyangkut peristiwa penting dalam kehidupan tokoh tersebut, lengkap dengan rujukan perikopnya. Pendek kata, konkordansi sungguh menjadi teman dan penolong yang handal bagi anda untuk semakin mengenai isi Alkitab.keteranganipun_konkordansi.jpg

Banyak sekali versi buku konkordansi, tentunya didasarkan juga Alkitab yang menjadi sumber rujukannya. Perpustakaan dan Museum Biblika LAI di Jalan Salemba Raya 12, Jakarta Pusat  memiliki belasan jenis konkordansi dengan berbagai sejarah yang mengiringi penyusunannya.  Salah satunya adalah Konkordansi Alkitab Basa Djawi, yang disusun untuk membantu umat Kristen Jawa agar semakin mengenal dan mencintai Kitab Sucinya. Rujukan utama datanya tentu saja dari Alkitab Bahasa Jawa.

Konkordansi Alkitab Basa Djawi  dikeluarkan atas nama Deputat Pekabaran Injil dari Sinode Jemaat Gereja Gereformeed di Negeri Belanda pada 1952. Yang mencetaknya adalah NV Percetakan  Vada , di Wageningen.

Dalam pengantar tata cara penggunaannya dijelaskan fungsi konkordansi bahasa Jawa tersebut: “Pigoenanipun serat concordantie ingkang perloe pijambak poenika: menawi wonten ingkang tjepet-tjepet enget setoenggiling ajat saking Kitab Sutji, mangka bade ngoepadosi ajat waoe kepanggih wonten ing poendi. “ Artinya kira-kira sebagai berikut: “ Gunanya buku Konkordansi yang paling utama ialah: kalau ada seseorang yang tiba-tiba ingat sebuah petikan ayat dari Kitab Suci dan ingin buru-buru mencari ayat tersebut terletak di kitab mana, maka bisa menggunakan bantuan konkordansi.”

Kisah Penyusunannya

Kisah penulisan  Konkordansi Alkitab Basa Djawi  dimulai menjelang Perang Dunia II pecah. Tahun 1942, bersamaan dengan penyerbuan Jepang ke Jawa, sekolah calon guru Injil di Yogyakarta terpaksa ditutup. Para guru di sekolah tersebut kemudian berembuk tentang bagaimana caranya supaya di tengah ancaman peperangan tetap bisa berkarya melayani jemaat Kristen Jawa. Hasil pertemuan tersebut memutuskan meskipun sekolah terpaksa ditutup, akan sangat bagus bila para guru menyusun buku-buku yang berhubungan dengan ilmu teologi untuk kepentingan umat Kristen di Jawa.

Salah seorang guru di sekolah itu,  J.D. Wolterbeek, kebagian tugas menyusun Konkordansi Alkitab Basa Djawi. Kebetulan Wolterbeek sangat lancar berbahasa Jawa. Untuk tahap pertama, disusun Konkordansi Perjanjian Baru terlebih dahulu dan jika memungkinkan dilanjutkan dengan Perjanjian Lama. “Bagaimanapun beratnya pekerjaan tersebut saya terima. Karena ini adalah pekerjaan untuk Tuhan, “demikian pernyataan J.D. Wolterbeek. Meskipun demikian, tidak pernah dibayangkan oleh Wolterbeek kalau pekerjaan tersebut memakan waktu sangat lama dan baru selesai 10 tahun kemudian. Penyusunan konkordansi tersebut memang cukup berat dan membutuhkan ketelitian dan curahan tenaga sepenuhnya dari Wolterbeek.

Rancangan Konkordansi mulai dikerjakan Wolterbeek pertengahan 1942. Ketika itu dirinya masih seorang merdeka, dan berdiam di daerah Klitren Ler, di belakang Gereja Kristen Jawa Sawokembar, Gondokusuman, Yogyakarta. Di sana beliau tinggal di tengah-tengah banyak saudara Kristen Jawa. Di rumah kecil tempat tinggalnya, Wolterbeek sempat menyelesaikan naskah konkordansi untuk Injil Matius.

Tahun 1943 Wolterbeek ditangkap Pemerintah Jepang, dan dimasukkan ke penjara di benteng Vrederburg di Yogya. Meski demikian, ia masih diperbolehkan bekerja dan masih bisa meneruskan tugasnya menyusun konkordansi. Di ruang tahanan tersedia sebuah meja kecil dengan satu kursi.  “Meskipun susah, namun saya masih bisa berkarya,” demikian paparnya.

Namun, penderitaan Wolterbeek belum selesai. Di tahun 1944, tahun yang dianggapnya sebagai salah satu bagian kelam sejarah hidupnya, ia dan beberapa rekannya orang Belanda dikirim ke kamp konsentrasi di Cimahi, di tanah Pasundan. Suasana di kamp konsentrasi tersebut sungguh menyiksa. Penghuni kamp ada ribuan, sementara tiap ruangan diisi puluhan orang tidur berhimpitan. Maka di tempat itu, Wolterbeek tidak mampu meneruskan pekerjaannya menyusun konkordansi.

Meskipun dalam pengawasan yang sangat ketat dari balatentara Jepang, Wolterbeek masih bisa menyembunyikan naskah hasil karyanya di dalam buntalan baju. Ini tak lepas dari pertolongan dua orang polisi yang berasal dari Jawa, yang ditunjuk menjaga Wolterbeek. Wolterbeek dengan hati-hati namun terus terang menyatakan bahwa dirinya seorang rohaniwan dan membawa Firman Tuhan dalam buntalan. Pada masa itu tentara pendudukan Jepang memang sangat menentang penyebaran kekristenan di wilayah jajahannya.

Dua orang polisi tersebut mencari jalan supaya buntalan baju Wolterbeek tidak perlu dibuka. Sehingga naskah konkordansi pun aman di dalamnya. Di dalam kamp konsentrasi pun, bala tentara Jepang yang sering menggeledah barang-barang milik para pesakitan, tidak pernah menemukan naskah karya Wolterbeek tersebut. Wolterbeek menjalani kerja paksa di kamp konsentrasi Cimahi. Pelan namun pasti kondisi fisiknya menyusut. Awal tahun 1945, kekuatannya sudah sangat berkurang karena didera sakit maupun kekurangan gizi. Bahkan, ia merasa saatnya untuk berpulang hampir tiba.

tampilan_dalam_konkordansi_bahasa_jawa.jpgTidak dinyana, Jepang kalah perang. Maka, para pesakitan pun dibebaskan dari tahanannya. Ketika pasukan Inggris sampai di tanah Jawa, Wolterbeek dipindahkan ke rumah sakit di Cimahi. Di situ ia dirawat cukup lama, hingga akhirnya kesehatannya berangsur pulih kembali. Tahun 1946, saat dirinya sudah cukup sehat, Wolterbeek dipulangkan pasukan Sekutu ke Belanda dalam posisi sebagai  displaced person , yaitu seseorang yang dianggap sudah tidak mempunyai tempat tinggalnya lagi.

Apa yang dilakukan tentara Sekutu itu dipandang Wolterbeek cukup tepat, karena segala milik Wolterbeek ketika tinggal di Tegal dan Yogya sudah lenyap, tidak ada yang tersisa. Hanya ada sebuah harta yang masih tersisa padanya, yaitu naskah konkordansi yang belum rampung dikerjakannya. Ke manapun dirinya pergi naskah itu mengikutinya dan selalu tersimpan dalam buntalan baju miliknya. Namun, situasi dan kondisi pada masa itu tidak memungkinkan untuk membawa naskah tersebut ke Negeri Belanda. Maka Wolterbeek menitipkan naskah kepada seorang kenalannya di Jawa. Dengan harapan kenalannya tersebut segera mengirimkan naskah  konkordansi itu via pos.

Saat Wolterbeek sudah sampai di Belanda, tiap hari ia menunggu kedatangan naskah tersebut. Tapi sudah beberapa minggu dia tidak menerima kabar apapun dari Jawa. Hingga suatu hari, adiknya menerima telepon yang mengabarkan bahwa di sebuah pinggir jalan ditemukan sebuah tas koper atas nama Wolterbeek. Koper tersebut agaknya jatuh dari sepeda motor tukang pos.  “Ini memang koper saya,” kata Wolterbeek saat menerima koper tersebut. Seorang pendeta yang ditemuinya mengatakan, bahwa hampir hilangnya koper tersebut merupakan pekerjaan Iblis yang kesekian kalinya, supaya pekerjaan penyusunan “Konkordansi Basa Djawi” gagal.
Ketika Deputat Pekabaran Injil dari Sinode Gereja Nederland Gereformeed (Generale Zendingdeputaten) mendengar karya Wolterbeek tersebut, mereka menyambut gembira. Malahan, semua sepakat untuk mendukung  upaya penyelesaian karya tulis tersebut. Termasuk menyiapkan pendanaannya. Hal itu dipandang penting oleh Wolterbeek, sebab biaya percetakan konkordansi yang sangat tebal itu pasti sangat mahal. Penerbitannya tidak akan mungkin terwujud jika Zendingdeputaten tidak ikut terlibat. Bahkan dukungan tersebut , akhirnya tidak hanya berasal dari Deputat Pekabaran Injil, namun juga berasal dari banyak mitra dan warga jemaat Gereja Nederland Gereformeed.

Sambil Deputat Pekabaran Injil bekerja mengumpulkan dana, Wolterbeek masih terus bekerja keras menyelesaikan naskahnya. Dari sebuah kamar kecil di Harleem, selama 6 tahun Wolterbeek bekerja tiada henti. Bahkan ia mulai juga merintis penyusunan sebuah konkordansi Perjanjian Lama dalam Alkitab bahasa Jawa. Ia berharap nantinya Deputat Pekabaran Injil Gereja Kristen Belanda akan menyampaikannya kepada persekutuan Gereja Kristen Jawa yang sangat dikasihinya.

Akhirnya di tahun 1952,  Konkordansi Kitab Sutji Ingkang Mawi Basa Djawi  diterbitkan. Membaca buku setebal 1156 halaman itu, orang akan selalu diingatkan perjuangan Wolterbeek, hamba Tuhan yang setia, yang telah dimampukan Tuhan bekerja melebihi batas kemampuannya. Sejak saat itu, jemaat Kristen Jawa memiliki alat bantu yang amat berguna untuk mempersiapkan materi khotbah (renungan), tulisan-tulisan,  bahan-bahan  pemahaman Alkitab dan banyak lagi tugas pelayanan.

Bagi yang belum pernah melihat dari dekat bentuk Konkordansi Bahasa Jawa itu, silakan berkunjung ke Perpustakaan dan Museum Biblika LAI di Gedung Pusat Alkitab, Jl. Salemba Raya 12 Jakarta.  Bukan hanya Konkordansi  Bahasa Jawa, beragam Alkitab  dan benda-benda kuno dari berbagai masa  tersedia di sana. Tunggu apa lagi!(keb)


 
< Prev   Next >
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007