NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Live Support
LAI Info

IT Administrator Web

Product LAI Info






Lost Password?
No account yet? Register
Hit Counter

Who's Online
We have 5 guests and 2 members online
  • kzhschru
  • cqsuwnus
Polling
Seberapa sering anda membaca Alkitab?
 
Berapa lama waktu yang anda perlukan setiap kali membaca Alkitab
 

Random Bible Verse
Wisata Tempat di Alkitab Print E-mail
Monday, 11 June 2012

MELACAK JEJAK CODEX SINAITICUS

Wilayah Pegunungan Sinai di masa lalu adalah bagian dari Israel kuno, namun sejak tahun 1979 secara resmi diserahkan oleh Israel kepada Mesir demi terciptanya perdamaian antara kedua negara tersebut. Gunung Sinai sekarang ini menjadi obyek wisata yang sangat ramai, setiap harinya dikunjungi ubs_picture.jpgratusan hingga ribuan turis yang ingin melihat daerah bersejarah itu.

Ada dua situs yang biasanya dikunjungi oleh turis di Gunung Sinai, sebuah kapel kecil di puncak gunung yang dibangun tahun 400 M atas perintah Ratu Helena – ibu dari Raja Constantine yang masa itu berkuasa di Roma, dan Biara St. Catherine yang dibangun tahun 500 M. Kapel di puncak gunung itu dibangun untuk menandai tempat di mana Musa bertemu dengan hadirat Allah melalui semak yang menyala dan menerima Sepuluh Perintah Allah yang disampaikan untuk bangsa Israel. Saat ini bangunan kapel masih ada dan terawat dengan baik, tetapi hanya boleh dimasuki pengelola. Sedangkan Biara St. Catherine berada di kaki G. Sinai dan masih digunakan oleh pendeta-pendeta Orthodox Yunani.

Kalau kita mendaki ke puncak G. Sinai melalui jalur wisata yang disediakan pengelola, Biara St. Catherine berada di sisi kanan jalan sekitar 200 meter dari pintu gerbang dan pangkalan unta. Dari jalan yang kita lewati dinding sisi timur bangunannya terlihat jelas. Di biara itulah pada bulan Mei tahun 1844 ditemukan sebuah manuskrip berbahasa Yunani dari abad 4 M. Manuskrip itu dianggap sangat penting bagi sejarah Alkitab karena merupakan  salah satu dari 3 Alkitab tertua dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani (Septuaginta). Dua yang lainnya ialah Codex Vaticanus dan Codex Alexandrinus. Manuskrip itu telah tersusun dalam bentuk buku sehingga sangat penting untuk mempelajari sistem kanonisasi teks Alkitab. Namun sayangnya manuskrip itu ketika ditemukan keadaannya tidak utuh lagi, bertumpuk-tumpuk dalam sebuah keranjangubs_picture_sinai.jpg di sebuah ruangan biara. Manuskrip itu kemudian dikenal dengan nama Codex Sinaiticus karena ditemukannya di daerah Sinai.

Dalam perjalanan ke G. Sinai hampir saja saya tak punya kesempatan mengunjungi Biara St. Chaterine karena jadwal tur yang amat padat sehingga kami hanya melewatinya saja. Kecewa juga jauh-jauh ke Sinai kalau tidak mampir ke St. Chaterine. Karena itu saya mencoba menuruni gunung sedikit lebih cepat dari teman-teman satu rombongan supaya bisa melihat biara lebih dekat. Saya sempat melihat-lihat kompleks bangunannya yang cukup luas dan memotretnya. Rasa ingin tahu saya untuk bisa melihat Codex Sinaiticus secara langsung rupanya tidak terpenuhi karena pasti teman-teman telah menunggu saya di bawah. Namun informasi dari seorang pendeta yang berpakaian khas gereja orthodox sedikit menenangkan saya, ternyata di dalam biara itu Codex Sinaiticus sudah tidak ada, hanya ada sisanya beberapa lembar saja! Lho kok bisa, kemana perginya codex bersejarah itu? Saya tidak sempat lagi bertanya kepada pendeta itu karena harus pergi buru-buru. Dengan berat hati saya menuju bis meski masih ada pertanyaan yang belum terjawab.

Seperti apa sih bentuk Codex Sinaiticus itu? Sebuah sumber yang saya dapatkan mendeskripsikan bahwa teksnya ditulis dalam bentuk huruf kapital yang disebut juga majuscule. Teks tersebut disusun dalam empat kolom pada setiap halamannya. Ukuran halaman buku kira-kira 16 inci tinggi dan 14 inci lebarnya. Ketika ditemukan pertama kali oleh Constantin von Tischendorf hanya ada 400 lembar/halaman yang utuh dari kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru. Para ahli teks Alkitab memperkirakan keseluruhanan teks seharusnya berjumlah 730 lembar. Jadi, saat pertama ditemukan di biara St. Chaterine 164 tahun yang lalu ratusan lembar lainnya sudah raib entah kemana.

Dr. Juan Garces - kurator yang terlibat dalam proyek Codex Sinaiticus di British Library menyatakan ada yang unik dari isi teksnya yaitu adanya kitab tambahan/apokrifa di belakang kitab Perjanjian Baru yaitu Kisah Barnabas dan Gembala Hermas. Kemudian Surat Ibrani diletakkan setelah 2 Tesalonika, dan Kisah Rasul ada di antara surat-surat pastoral. Hal-hal seperti ini menjadi kajian para ahli biblika sejak abad yang lalu.

Bagaimana sejarahnya codex itu bisa menghilang dari Sinai? Informasi terbaru dari Biblical Archaeology Review menyatakan bahwa setelah seluruh temuan manuskrip itu diangkut ke Jerman tahun 1844 oleh Constantin von Tischendorf (seorang ilmuwan yang mendalami kritik teks Perjanjian Baru dari Universitas Leipzig, Jerman), kondisinya tak utuh  lagi dalam arti jumlahnya tidak lagi 400 lembar yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leipzig. Usut punya usut ternyata codex itu kini sudah terpisah-pisah dan berada di empat lokasi yang berjauhan. British Library – London menyimpan 346,5 lembar, Perpustakaan Universitas Leipzig – Jerman 43 lembar, Russian National Library di St. Petersburg  menyimpan 5 lembar dan 11 lembar bersama 14 potongan kecil lainnya masih berada di tempat asalnya di biara St. Chaterine - Mesir.

Saat ini semua pihak yang menyimpannya menyatakan ingin memilikinya, lalu siapa yang sebenarnya berhak memiliki karena masing-masing mengklaim sudah mengkonservasi. Para biarawan Orthodox St. Chaterine di Sinai hingga kini pun tak pernah berhenti berharap agar manuskrip itu bisa dikumpulkan menjadi satu dan dikembalikan kepada mereka. Menyedihkan memang.

Terjadinya kesimpangsiuran kepemilikan manuskrip itu tak terlepas dari langkah-langkah sembrono yang pernah dilakukan oleh Tischendorf di masa lalu. Dalam melakukan penelitiannya yang memerlukan survey lama ke berbagai wilayah di tanah suci, ia membutuhkan banyak dana sehingga ketika itu ia sempat meminta dukungan pembiayaan dari pemerintah Jerman, Rusia dan Mesir. Maka ketika masing-masing lembaga pemerintahan itu meminjam bukti-bukti temuannya ia tak keberatan. Akibat dari kebijakannya itu tak pernah dipikirkan oleh Tischendorf, karena janji tinggal janji, ternyata hingga sekarang barang pinjaman itu tak pernah dikembalikan kepada Tischendorf maupun Perpustakaan Universitas Leipzig. Dan kini berpencarlah lembaran-lembaran Codex Sinaiticus itu di beberapa negara.

Walaupun tak utuh lagi dan berada di tempat yang terpisah-pisah ternyata manuskrip itu telah mendapatkan penanganan yang sangat baik dari semua perpustakaan yang menyimpannya. Semua tahu betapa berharganya koleksi mereka itu sehingga baru-baru ini ketiga perpustakaan besar itu sepakat untuk membuat sebuah proyek kerjasama senilai 2 juta dolar untuk mengupayakan preservasinya. Foto-foto digital berkualitas tinggi disiapkan agar Codex Sinaiticus dapat diakses melalui internet serta replikanya dalam kertas faksimil akan diterbitkan dalam waktu dekat. Website-nya dirancang untuk memudahkan pengguna dengan menyediakan akses dalam beberapa bahasa. Selain itu akan disediakan dokumentasi film dan buku-buku tentangnya. Direncanakan kelak di akhir tahun 2009 hasil dari semua upaya itu akan dibahas dalam sebuah konferensi ilmiah para ahli yang terlibat. Semoga tim ini sukses dan siapa pun yang berminat mempelajari Codex Sinaiticus dapat mengaksesnya dengan mudah. (ryw)
 
< Prev   Next >
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007