| Perjalanan ke Lubuk Linggau |
|
|
| Thursday, 14 June 2012 | |
|
Menyeberangi Sumatra Lewat Merak
Ternyata antrian kendaraan kecil pun panjang sekali. Sehingga kami di tengah antrean panjang tersebut, sempat keluar dari mobil berjalan-jalan menikmati suasana malam pelabuhan Merak. Mengapa pelabuhan ini disebut pelabuhan Merak? Saya tidak tahu. Apakah keindahan pelabuhan ini seperti warna-warni bulu Merak yang tersohor keindahannya? Entah juga. Yang pasti suasana pelabuhan Merak tiap harinya sangat sibuk. Akhirnya mobil kami pun berhasil naik dan setelahnya kami satu demi satu keluar dari mobil naik ke bagian atas, tempat yang disediakan untuk para penumpang duduk dan berkumpul. Ada yang pilih masuk ruang ber-AC (nambah uang 6000 rupiah), sembari nonton film. Malam itu film yang diputar adalah film laga Indonesia tempo dulu, yang dibintangi Barry Prima dan Eva Arnaz. Di ruang duduk kelas ekonomi, para penumpang disuguhi musik dangdut, dengan lagu-lagu dangdut terkini oleh dua orang penyanyi yang tampil dengan bedak tebal dan dandanan seksi. Iringan musiknya cuma organ tunggal macam hajatan di kampung-kampung. Tiap lima lagu selesai, para penyanyi berkeliling ke tempat para penonton, minta saweran. Semua hiburan itu agaknya dibuat supaya para penumpang tidak jenuh, dan dapat menikmati suasana penyeberangan menuju Bakaheuni dengan rileks dan santai. Di geladak, di antara deretan mobil-mobil pribadi yang diparkir, banyak penumpang duduk-duduk berkumpul dan bersila, menikmati angin malam dan langit cerah disinari bulan yang tampak setengah penuh. Agaknya mereka sudah biasa melakukan perjalanan penyeberangan ini. Karena mereka begitu hapal kapan saat kapal berangkat dan kapan kapal sudah mendekati dermaga pelabuhan Bakaheuni. Perjalanan penyeberangan Merak-Bakaheuni malam itu ditempuh dalam waktu tiga jam. Jarum jam waktu itu menunjukkan pukul setengah tiga pagi, harinya Sabtu. Setiba di Bakaheuni, tanpa istirahat kami langsung melanjutkan perjalanan menuju utara. Karena rencananya Sabtu malam ini juga kami harus sudah tiba di Lubuk Linggau. Ada dua agenda yang harus dijalani, pertama, bertemu dengan contact person kami di Lubuk Linggau, Pendeta Bambang Supriyadi, Pendeta jemaat GKSBS Lubuk Linggau. Yang kedua, kami harus mempersiapkan pameran terbitan LAI yang akan diselenggarakan di dua gereja di Lubuk Linggau esok paginya. Pukul lima pagi, kami memasuki Kota Bandar Jaya. Suasana pagi di kota tersebut masih sepi sekali. Kabut tebal melingkupi kota tersebut. Bandingkan dengan suasana di Jakarta, yang di saat yang sama sudah ramai manusia dan padat kendaraan. Yang melingkupi kota di pagi hari bukan lagi kabut, melainkan asap kendaraan bermotor. Karena hari telah pagi, kami bermaksud istirahat sejenak, mencuci muka dan melemaskan badan yang kaku karena perjalanan panjang. Syukur-syukur kalau ada tempat sarapan. Namun, sejauh mata memandang, sejauh mobil berjalan tidak ada warung yang kami temui. Hanya hamparan pohon dan padang ilalang di kanan dan kiri jalan. Sesekali diselingi pemukiman penduduk. Namun tidak ada warung makan yang terlihat. Kalaupun ada warung yang tampak, hanya warung kelontong kecil dan juga warung pulsa. Bisa dimaklumi, karena sebagian besar penduduk mungkin lebih memilih memasak sendiri makanan di rumah daripada membeli di warung. Beda dengan di Jakarta, di mana karena berbagai kesibukan, penduduknya lebih suka jajan. Wah, repot juga kalau begini. Wajah dan tubuh sudah lengket oleh keringat, perut mulai berbunyi minta diisi. Syukurlah sekitar pukul enam pagi, akhirnya kami sampai di sebuah Pompa Bensin (SPBU). Harapannya paling tidak bisa cuci-cuci muka sejenak. Namun apa mau dikata. Begitu masuk toilet. Semua toilet kering. Tidak ada air yang tersedia. Bau toilet juga sangat menyengat. Kehadiran kami akhirnya hanya menambah bau di dalam toilet tersebut. Jika di Jawa, banyak pompa bensin bersaing merebut hati para konsumennya, di sini lain. Pompa bensin belum buka, antrean kendaraan bermotor, baik roda dua, roda empat ataupun truk-truk besar sudah antri panjang menunggu dibukanya pompa bensin. Sekitar pukul tujuh, akhirnya kami menemukan warung di daerah Kota Bumi, Lampung. Yang punya warung orang Jawa. Setiap kita bertanya memakai bahasa Indonesia, dia jawab pakai bahasa Jawa. Kami pun tertawa sendiri. Mungkin si pemilik warung ingin mengakrabkan diri dengan kami. Kepada seorang pengemudi truk yang kebetulan mampir di situ, kami bertanya masih jauhkah letak pusat Kabupaten Kota Bumi? Dijawabnya, sekitar satu jam lagi dari warung makan tersebut. Kami lanjutkan bertanya, kalau hendak ke Lubuk Linggau? Masih sekitar empat belas jam lagi. Artinya, lebih dari setengah hari lagi. Wah, masih jauh rupanya perjalanan yang harus ditempuh. Bapak tersebut, kami lupa namanya, menyarankan kalau bisa sebelum malam sudah sampai di Lubuk Linggau. Karena jalanan sering tidak aman. Terkadang jalan dipasangi jebakan paku atau oli. Belum lagi di beberapa ruas jalan ada kerusakan yang cukup parah. Kalau tidak waspada bisa celaka. Cukup menyeramkan juga. Namun, pernyataannya tidak membuat kami ciut hati. Karena kami yakin perjalanan ini ada dalam lindungan-Nya. Perjalanan dari Merak menuju Lubuk Linggau akhirnya terbukti berjalan dengan aman dan lancar. Tidak ada gangguan dalam kesehatan, tidak ada gangguan kendaraan. Pukul enam sore, rombongan kami tiba di Lubuk Linggau. Total dibutuhkan waktu dua puluh dua jam perjalanan menempuh jarak sekitar 830 kilometer. Dan melintasi 8 kabupaten di empat provinsi, dari Jakarta, Banten, Lampung hingga Sumatra Selatan. |
| < Prev | Next > |
|---|


Malam telah larut. Jarum menunjuk angka sepuluh ketika mobil yang kami tumpangi sampai di pelabuhan Merak, di provinsi Banten. Antrean kendaraan demikian panjang saking banyaknya kendaraan yang mengantre hendak menyeberang ke Sumatra. Terutama truk-truk. Berbagai truk beragam ukuran berderet sambung menyambung hingga sekitar dua kilometer. Karenanya mobil-mobil yang berukuran kecil, seperti “Panther” yang kami tumpangi pun diperintahkan polisi yang mengatur lalu lintas kendaraan menuju Merak untuk memutar melalui jalan masuk yang lain.
harus sudah tiba di Lubuk Linggau. Ada dua agenda yang harus dijalani, pertama, bertemu dengan contact person kami di Lubuk Linggau, Pendeta Bambang Supriyadi, Pendeta jemaat GKSBS Lubuk Linggau. Yang kedua, kami harus mempersiapkan pameran terbitan LAI yang akan diselenggarakan di dua gereja di Lubuk Linggau esok paginya.
Mungkin si pemilik warung ingin mengakrabkan diri dengan kami.