| Bible Center |
|---|
|
| Your Cart |
|---|
|
Show Cart
Your Cart is currently empty. |
| Gallery |
|---|
|
|
| Produk Terbaru | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Updated News |
|---|
|
| Pameran di Lubuk Linggau |
|
|
| Monday, 18 June 2012 | |
|
ANTRE MEMBELI ALKITAB DI LUBUK LINGGAU
Hingga hari ini, turun langsung ke lapangan sembari mengadakan
pameran-pameran masih dianggap cukup efektif untuk memperkenalkan visi
dan misi LAI kepada umat Kristen di pelosok Nusantara. memperluas kesempatan penyebaran Kabar Baik. Total 858 km ditempuh dari Jakarta- Merak- Kalianda-Bandar Lampung-Kotabumi-Tanjung Enim- Lahat- Lubuk Linggau. Jika dihitung sampai kembali lagi ke Jakarta tentu saja jaraknya tinggal dikalikan dua. Salah alasan kedatangan LAI ke Lubuk Linggau karena adanya informasi mengenai kesulitan umat Tuhan di tempat tersebut memperoleh Alkitab. Tidak ada toko buku di sana yang menjual Alkitab. Seorang pendeta di sana menyatakan, untuk memperoleh Alkitab mereka harus mencarinya di Palembang, yang memakan waktu perjalanan darat sekitar delapan hingga sembilan jam dari Lubuk Linggau. Jika naik kendaraan umum seperti kereta api ataupun bis antar kota, biaya perjalanannya saja menghabiskan sekitar dua ratus ribu rupiah. Yang artinya, biaya perjalanannya saja sudah senilai tiga buah Alkitab terbitan LAI. Selama di Lubuk Linggau dan sekitarnya, LAI akan mengadakan pameran, pelatihan perintisan kolportase dan meninjau toko-toko buku dan kolportase gereja yang telah menjalin kemitraan dengan LAI. Hari Minggu, 10 Juni 2012, LAI mengadakan pameran di dua gereja di Lubuk Linggau, yaitu di GKSBS (Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan) Lubuk Linggau dan Gereja Methodist Indonesia Lubuk Linggau. Sambutan dari umat Tuhan di dua tempat tersebut terhitung luar biasa. Mungkin juga karena pameran buku jarang sekali diadakan di kota tersebut. Di GKSBS Lubuk Linggau, pagi-pagi jam enam, ketika Pak Alpha masih menata terbitan-terbitan LAI yang akan dipamerkan, sudah ada jemaat yang membeli Alkitab untuk dipakai dalam ibadah Minggu. Seusai ibadah jemaat berkerumun, berdesakan, untuk melihat-lihat dan membeli berbagai produk terbitan LAI. Suasana sungguh ramai. Yang mengharukan, ada jemaat yang sampai berpatungan untuk membeli satu set poster Sekolah Minggu. Seorang anak kecil, menimbang-nimbang begitu lama untuk membeli sebuah komik terbitan LAI karena keuangan yang terbatas. Di banyak tempat, di GKSBS, untuk memiliki sebuah Alkitab, warga jemaat sering membeli Alkitab dengan sistem kredit. Mereka melunasi pembayaran sehabis panen tiba. Di Gereja Methodist, staf LAI yang melayani pameran sampai tidak terlihat ditelan kerumunan warga jemaat yang berebut membeli Alkitab. Antreannya bagaikan masyarakat mengantre membeli sembako di masa krisis ekonomi dulu. Pameran LAI disambut dengan sangat antusias oleh umat Tuhan di tempat ini. Mereka berharap LAI sering-sering mengadakan pameran di tempat ini. Mengikuti ratusan kilometer, perjalanan LAI ke Sumatera bagian selatan memberi banyak pengalaman berharga. Mirip yang diceritakan Maria Jongeling di buku “Setelah Fajar Merekah”, biografi W.J. Rumambi (mantan Sekum LAI):” melalui perjalanan tersebut saya bisa bertemu banyak orangdan berbagai-bagai jemaat, kecuali itu juga saya juga bisa menikmati pemandangan alam yang indah, sedangkan pengetahuan saya mengenai usaha penyebaran Alkitab juga makin bertambah.” Benar sekali kata Firman Tuhan,“Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!” (Yesaya 52:7). |
| < Prev | Next > |
|---|










Indonesia jarang sekali mengadakan pameran-pameran untuk memasyarakatkan terbitannya. Mereka lebih memanfaatkan kerja sama dengan gereja-gereja di Indonesia melalui pelatihan-pelatihan dan perintisan kolportase. Begitu Lembaga Alkitab Indonesia secara resmi berdiri pada tahun 1954, pengurusnya berusaha memperkenalkan program-program, koleksi dan terbitan-terbitan LAI melalui pameran-pameran yang diadakan di berbagai tempat di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Pengurus LAI pada masa itu sering terlibat dan turun langsung ke lapangan membantu menyebarkan Firman Tuhan. Maria C. Jongeling, misionaris Belanda yang lama berkarya di Indonesia menceritakan, pernah dua Wim (Wim Khouw dan Wim Rumambi) perintis LAI, mengajaknya berkeliling Jawa dalam rangka kedinasan LAI. Perjalanan ditempuh dengan mobil, memakan waktu 7 hari dan menempuh jarak sejauh 1806 km, dari Bogor (Kampung Alkitab)- Bandung- Cirebon-Pekalongan- Semarang-Blora-Surabaya-Malang-Kediri-Madiun-Solo-Yogya-Borobudur-Magelang-Weleri-Pekalongan-Cirebon-Bandung-Bogor.
memperluas kesempatan penyebaran Kabar Baik. Total 858 km ditempuh dari Jakarta- Merak- Kalianda-Bandar Lampung-Kotabumi-Tanjung Enim- Lahat- Lubuk Linggau. Jika dihitung sampai kembali lagi ke Jakarta tentu saja jaraknya tinggal dikalikan dua.
Seorang anak kecil, menimbang-nimbang begitu lama untuk membeli sebuah komik terbitan LAI karena keuangan yang terbatas. Di banyak tempat, di GKSBS, untuk memiliki sebuah Alkitab, warga jemaat sering membeli Alkitab dengan sistem kredit. Mereka melunasi pembayaran sehabis panen tiba. Di Gereja Methodist, staf LAI yang melayani pameran sampai tidak terlihat ditelan kerumunan warga jemaat yang berebut membeli Alkitab. Antreannya bagaikan masyarakat mengantre membeli sembako di masa krisis ekonomi dulu. Pameran LAI disambut dengan sangat antusias oleh umat Tuhan di tempat ini. Mereka berharap LAI sering-sering mengadakan pameran di tempat ini.