|
Disatukan dalam Pelayanan Bersama
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ada karena dan untuk gereja-gereja. Dengan menjadi penyedia Alkitab dan bagian-bagiannya – baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa-bahasa daerah – LAI memposisikan dirinya sebagai mitra setia gereja-gereja dalam membina iman umat. Bagaimana tidak, sulit membayangkan bagaimana jadinya kehidupan umat bila tidak tersedia Alkitab, dan umat itu adalah umat yang dilayani langsung oleh gereja-gereja. Maka menjalin kebersamaan dengan gereja-gereja adalah kegiatan yang tidak terpisahkan dari pelayanan LAI secara keseluruhan. Kebersamaan dengan gereja-gereja ini tidak dibangun nanti ketika LAI hendak menyebarkan Alkitab yang sudah jadi, tetapi sudah sejak tahapan awal, yaitu ketika sebuah pekerjaan Alkitab ke dalam bahasa daerah itu mau dimulai.
Sulawesi Tengah termasuk wilayah di Indonesia yang mempunyai bahasa-bahasa lokal (daerah) yang banyak yang ditutur secara aktif oleh masyarakatnya. Sebagian dari masyarakat penutur bahasa-bahasa lokal itu berada dalam wilayah pelayanan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang kantor Sinodenya berkedudukan di Tentena. Sejauh ini sudah tercatat beberapa bahasa lokal di wilayah ini yang sudah mempunyai Alkitabnya atau Perjanjian Baru saja. Sebut saja: Alkitab dalam Pamona, dan Perjanjian Baru dalam bahasa Mori dan Napu. GKST merasa sangat terbantu pelayanannya di lapangan dengan tersedianya teks-teks Kitab Suci ini.
Mengingat bahwa masih ada sejumlah bahasa lokal di wilayah ini yang
ditutur masyarakat secara aktif, maka setelah melalui korespondensi dan
komunikasi bilateral langsung, terselenggaralah pertemuan antara Majelis
Sinode GKST (yang diwakili oleh Ketua Sinode, Pdt. Ishak Pole, M.Si dan
Ketua Klasis Palu, Pdt. J. Rense) dengan LAI (yang diwakili oleh Kepala
Departemen Penerjemahan, Pdt. Wenas Kalangit, D.Th, dan Kepala
Perwakilan LAI Manado, Dra. Rifka Herawati Siahaan, M.M.) pada Selasa, 5
Juni 2012 di Kantor Klasis Palu, Jl. Towua 1 No. 5A, Palu. Selain kedua
lembaga ini, pertemuan ini juga dihadiri oleh perutusan dari Yayasan
Kartidaya yang diwakili oleh Ibu Nitya Travis dan Sdr. Juanita.
Pertemuan berlangsung dalam suasana yang sangat bersahabat. Klasis Palu yang dipercayakan oleh Majelis Sinode (MS) GKST sebagai penyelenggara dan sekaligus tuan rumah bagi pertemuan ini telah mengatur semuanya dengan baik, termasuk menyediakan akomodasi bagi LAI dan Kartidaya. Sebagai tamu, LAI sendiri merasa sangat tersanjung dengan sambutan hangat dan bersahabat ini. Karena disatukan oleh pelayanan yang sama, maka terbangunlah sebuah jalinan kebersamaan yang akrab. Pdt. Ishak Pole begitu memberi perhatian kepada pertemuan ini sehingga rela menyisihkan waktu berharganya untuk menempuh perjalanan darat yang memakan cukup waktu dari Tentena ke Palu.
Dalam penyampaiannya, Ketua MS GKST berharap bahwa LAI akan tetap bisa memberikan perhatiannya bagi pekerjaan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di wilayah Sulawesi Tengah ini. LAI adalah lembaga yang sudah cukup teruji di dalam mengemban misinya dan karena itu mendapat kepercayaan penuh dari gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab dan menyebarkannya. Bagaimanapun, terteranya logo LAI dalam cover Alkitab merupakan jaminan pasti akan diterimanya teks Alkitab itu oleh gereja-gereja. Kalau ada lembaga-lembaga lain yang melakukan pekerjaan/pelayanan yang sama, diharapkan hasil akhirnya akan melewati pemeriksaan oleh LAI. Demikian antara lain Pdt. Ishak Pole. Pemikiran ini pulalah yang melandasi diadakannya pertemuan sehari ini.
LAI sendiri memandang kepercayaan gereja-gereja ini sebagai sebuah tantangan dan sekaligus juga peluang untuk terus menerus mengembangkan pelayanannya supaya semakin berterima di kalangan mitra yang selama ini telah dengan setia menggunakan terbitan LAI. Membangun kerja sama dengan sekalian mitra akan selalu menajdi fokus lembaga ini sebab selalu disadari bahwa kehadirannya hanya akan bermakna bila ia mampu menjawab kebutuhan mitra.
|