NewsDonationShopAbout Our SocietyContact UsLink
Main Menu
Home
Biblika
Library
Email Today
News
FAQs
Shop
Alkitab Web
Discussion
Guest book
Shop
Bible Testament Bible Portion
Live Support
LAI Info

IT Administrator Web

Product LAI Info






Lost Password?
No account yet? Register
Hit Counter

Who's Online
We have 14 guests and 2 members online
  • motiv95cqe
  • flore09hs0
Polling
Seberapa sering anda membaca Alkitab?
 
Berapa lama waktu yang anda perlukan setiap kali membaca Alkitab
 

Random Bible Verse
Kapan Kami Punya Alkitab Sendiri Print E-mail
Wednesday, 27 June 2012

TANTANGAN YANG MEMEBERI SEMANGAT

Tagulandang adalah nama sebuah pulau di utara Minahasa, Sulawesi Utara. Bersama dengan 2 pulau lainnya di wilayah berdekatan (Siau dan Biaro), pulau ini membentuk satu kabupaten baru. SITARO namanya. Ini adalah kependekan dari nama 3 pulau ini: Siau, Tagulandang, dan Biaro. Sebelumnya, tim_tagulandang.jpgpulau-pulau ini masuk dalam wilayah kabaputen Sangihe, yang dulunya menyatu dengan kepulauan Talaud dan membentuk kabupaten kepulauan Sangihe Talaud. Tetapi kemudian, karena perkembangan, kepulauan Talaud memekar menjadi 1 kabupaten terpisah, dan dengan alasan yang sama kemudian disusul dengan memekarnya kapupaten SITARO. Mayoritas penduduk 3 kabupaten ini sama-sama memeluk agama Kristen, dan karena itu merupakan pembaca aktif Alkitab baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan persekutuan berjemaat.
Oleh karena bagi penutur aktif bahasa ibu, membaca teks Alkitab dalam bahasa yang dekat di hati merupakan sebuah kebutuhan yang tidak terbantahkan, maka dalam kerja sama dengan Sinode Gereja setempat – Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST), pada waktu itu GERMITA (Gereja Masehi Injili Talaud) belum dibentuk – Lembaga Alkitab Indonesia telah menerjemahkan, menerbitkan, dam mendistribusi 3 Alkitab dalam bahasa daerah di wilayah ini, masing-masing: dalam bahasa Sangihe, bahasa Talaud, dan terakhir bahasa Siau. “Orang Talaud, orang Sangihe, dan orang Siau sudah memiliki Alkitab dalam bahasa daerah mereka masing-masing. Kapan kami orang Tagulandang bisa mempunyai Alkitab dalam bahasa kami sendiri?” Ini bukan pertanyaan yang lahir dari rasa cemburu tentunya, tetapi dari keinginan kuat untuk bisa membaca firman Tuhan dalam bahasa yang melekat di hati.

Sekalipun secara ethnologis Sangihe, Siau, dan Tagulandang sangat erat kaitannya dan karena itu secara bahasa sebetulnya mereka bisa saling memahami, namun tetap ada yang unik pada masing-masing sehingga tidaklah berlebihan kalau diperlakukan sebagai sebuah bahasa. Orang Tagulandang juga berhak atas Alkitab dalam bahasanya sendiri. Maka kerinduan ini dibahas bersama dengan Majelis Sinode GMIST yang kemudian sangat mendukungnya. Bersamaan dengan itu, dari Lembaga Alkitab Irlandia Utara (tahun 2009) diterima tawaran dukungan dana untuk pekerjaan penerjemahan Perjanjian baru yang dijamin bisa selesai kurang dari 5 tahun. Tawaran tersebut tentunya diterima dengan mengusung bahasa Tagulandang. Gayung bersambut. Bukan sebuah kebetulan tentunya. Mata iman menuntun kita untuk menerima kenyataan ini sebagai ‘pengaturan’ dari Yang Empunya pekerjaan ini. Jangka waktu yang terbatas ini menjadi tantangan yang disadari sejak semula oleh tim penerjemahan bahasa Tagulandang ini karena memang disampaikan secara terbuka di depan mereka. 
Sejak dimulai (2009) lalu, tim yang terdiri atas 17 orang perutusan dari 17 jemaat lokal, telah memperlihatkan semangat kerja yang tinggi. Ditunjang oleh dukungan perwakilan Sinode di aras lokal (Resort GMIST Tagulandang), semangat kebersamaan terasa sangat kental dalam tim ini. Jemaat-jemaat lokal juga ternyata sangat mendukungnya. Secara bergantian, jemaat-jemaat ini menjadi ‘tuan rumah’ bagi pertemuan internal tim untuk membahas draft terjemahan yang dikonsepkan oleh penerjemah. Sampai dengan akhir Juni 2012, ini pekerjaan ini tinggal menyisakan 4 kitab yang belum difinalkan bersama dengan Konsultan Penerjemahan LAI, masing-masing: surat Ibrani, surat 1 Petrus, surat Yudas, dan kitab Wahyu. Bila ke depan, perjalanan pekerjaan ini selancar perjalanan sebelumnya, maka pada akhir 2012 nanti, atau paling lama pada awal 2013, pekerjaan ini bisa dinyatakan selesai, dan selanjutnya pada sepanjang 2013 nanti, akan diproses ke tingkat penerbitannya. Jika memang demikian, maka tantangan dari Irlandia Utara akan terjawab, dan dalam waktu yang tidak lama lagi, masyarakat penutur bahasa Tagulandang akan dapat membaca Perjanjian baru dalam bahasa mereka. Terbayang wajah-wajah sumringah menyambut datangnya teks Kitab Suci yang sudah sekian lama dirindukan ...!       
 
< Prev   Next >
© 2007 Lembaga Alkitab Indonesia 2007