|
Proyek SDK
|
|
Friday, 04 January 2013 |
|
"Sudah setahun saya meminta kepada Tuhan supaya saya punya Alkitab yang dapat saya baca setiap hari, namun Tuhan mengajar saya untuk bersabar".
Demikian ungkapan Ibu Nurlince Batu, umat Tuhan yang berasal dari daerah Nunbaki, Mollo Barat - NTT saat menerima Alkitab hasil dukungan program Satu Dalam Kasih pada tanggal 2 Agustus 2012 yang lalu. Ungkapan ini sekiranya mewakili doa dan harapan setiap umat Tuhan yang sekian lama merindukan Alkitab dan pada saatnya doa dan harapan tersebut terjawab dengan hadirnya Alkitab di tangan mereka.
Untuk itu berkaitan dengan program Satu Dalam Kasih tahun 2013 berikut beberapa daerah yang akan menerima dukungan Alkitab yang tentunya akan dapat diberikan dengan dukungan doa dan dana dari segenap pihak yang rindu untuk menghadirkan Firman Tuhan bagi setiap orang.
|
|
Read more...
|
|
Proyek Penerbitan
|
|
Friday, 04 January 2013 |
|
Kurima merupakan salah satu distrik/kecamatan di Kabupaten
Yahukimo, di wilayah Baliem Selatan. Distrik ini termasuk distrik tertua di Yahukimo,
dan bisa dicapai dengan perjalanan darat atau udara dari Wamena (ibu kota
Kabupaten Jayawijaya). Sebagaimana distrik lain yang ada di Yahukimo, Kurima
juga tersebar atas kampung-kampung yang keseluruhannya berjumlah 22 kampung,
dengan jumlah penduduk 13.985 jiwa. Umumnya masyarakat Kurima hidup dengan bercocok
tanam, yang menghasilkan ubi, kacang, sayur-mayur, dan tanaman perkebunan
seperti kopi. Di daerah Baliem Selatan, Kurima dikenal sebagai penghasil wortel
dan kopi. Letak yang terpencil dengan kontur tanah yang berbukit-bukit membuat
pembangunan di daerah ini, baik fisik maupun non fisik, menjadi terhambat. Hal
ini terlihat dari akses transportasi yang sulit serta pertumbuhan ekonomi rakyat
yang berjalan sangat lambat. Perjalanan antar kampung umumnya ditempuh dengan berjalan
kaki, bisa selama berjam-jam bahkan berhari-hari, melalui jalan setapak, bukit
dan lereng gunung. Demikian pula dengan perekonomian masyarakat. Masyarakat
memproduksi bahan makanan yang sebagian besar untuk dipergunakan sendiri, dan
hanya sebagian kecil saja yang diperjualbelikan.
|
|
Read more...
|
|
Proyek Penerjemahan
|
|
Saturday, 12 January 2013 |
|
Perjanjian Baru merupakan bagian dari Alkitab yang
memiliki peran penting untuk membina umat sehingga keberadaannya tidak
terpisahkan dari kehidupan umat yang berkeinginan untuk mengenal dan memahami
Alkitab. Demi hal inilah, sebuah rencana penerjemahan Perjanjian Baru dilakukan untuk sebuah daerah bernama Enggano.
Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia yang
terletak di Samudra Hindia dan berbatasan dengan negara India. Pulau ini merupakan
salah satu kecamatan di wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi
Bengkulu. Penduduk asli pulau Enggano adalah suku Enggano, yang terbagi menjadi
lima sub suku. Semuanya berbahasa sama, bahasa Enggano. Penduduk dari pulau
dengan luas 680 km2 ini rata-rata hidup dari perkebunan kakao serta menjadi
nelayan, yang hasilnya dijual ke Kota Bengkulu. Walaupun menghasilkan coklat,
penduduk yang berjumlah sekitar 2.650 jiwa tetap berpenghasilan di bawah garis upah
minimum regional. Masyarakat Enggano umumnya
penganut agama Islam dan Kristen, dengan kerukunan antarumat yang terjaga dengan
sangat baik.
|
|
Read more...
|
|
Proyek Penerjemahan
|
|
Sunday, 13 January 2013 |
|
Mori adalah bahasa yang digunakan oleh penuturnya yang umumnya tinggal
di wilayah Sulawesi Tengah bagian Tenggara dan wilayah- wilayah sekitarnya.
Bahasa Mori secara umum terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Mori Bawah
dan Mori Atas. Berdasarkan Ethnologue: Languages of the World, Edisi 15, tahun 2005,
pengguna bahasa Mori Bawah dengan berbagai dialeknya (Tambe’e, Nahina, Petasia,
Soroako, Karonsie), berkisar 15.000-16.000 orang, dan Mori Atas (Aikoa) sekitar
11.000-12.000 orang. Kesamaan leksikal bahasa Mori Atas dan Mori Bawah antara
73%-86%.
Perjanjian Baru dalam bahasa Mori (Mori Bawah, Ngusumbatu) dicetak
pertama kali pada tahun 1949. Namun, cukup banyak istilah yang digunakan sudah
tidak dikenal lagi oleh penutur-penutur bahasa Mori. Karena itu, LAI memulai
penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Mori pada tahun 2004, dan diterbitkan
pada tahun 2010. Dialek yang dipakai masih dialek Mori Bawah, dengan
istilah-istilah yang dikenal oleh semua dialek Mori yang lain. Tata bahasanya
pun mengikuti cara pemakaian oleh para penggunanya pada masa sekarang, yang
sudah cukup banyak berinteraksi dengan bahasa-bahasa lainnya namun tetap
dikenal oleh para penutur Mori.
|
|
Read more...
|
|
|
Proyek Penerjemahan
|
|
Monday, 14 January 2013 |
|
Dayak
Maanyan adalah salah satu sub suku Dayak yang hidup tersebar di Pulau
Kalimantan. Suku ini mendiami
bagian timur Kalimantan Tengah, terutama di Kabupaten Barito Timur dan sebagian Barito
Selatan, yang dikelompokkan sebagai Maanyan I. Selain itu, suku Maanyan juga mendiami bagian
utara Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Tabalong,
Kabupaten Balangan, dan Kabupaten Kotabaru, yang dikenal dengan sebutan Maanyan II. Suku ini masih
memiliki banyak nama yang berbeda sesuai dengan tempatnya masing-masing.
Untuk memenuhi penghidupannya, orang Dayak Maanyan, terutama yang tinggal di
pedesaan, bekerja di sektor pertanian,
di mana pengolahan lahan pertanian masih
dilakukan dengan sistem ladang berpindah. Sebagian lainnya bekerja di bidang perkebunan, dengan komoditi andalan berupa kelapa sawit, karet, kopi, dan
kakao.
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 19 - 24 of 211 |