Kita harus menjaga kemurnian Firman Tuhan.

Itulah penggalan kalimat dari sambutan yang disampaikan Drs. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia sebelum membuka secara resmi Konsultasi Nasional Revisi Alkitab Terjemahan Baru (Konas TB 2) yang digelar di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor 7-9 Februari 2018. “Karena yang direvisi adalah terjemahannya, bukan naskah sumber Alkitabnya.”, lanjutnya. Pernyataan tersebut sekaligus menjawab kesalahpahaman yang kerap terjadi bahwa, proses revisi adalah mengubah naskah Alkitab.

Dalam bagian lain, beliau menitipkan dua pesan penting kepada peserta Konas TB 2, bahwa: Pertama,  bagaimana agar revisi penerjemahan Alkitab senantiasa mampu menjaga dan memelihara paham keagamaan yang berimplikasi pada pengamalan keagamaan yang senantiasa berada dalam versinya yang moderat. Kedua, pengamalan agama agar tidak bersinggungan dengan sendi-sendi kebangsaan kita. “Ada yang begitu memegang kuat teks tetapi kemudian mengabaikan konteks. Teks menjadi rujukan kita untuk menangkap esensi dari ajaran agama. Karena itu, kita tidak bisa membaca teks tanpa melihat kepada konteks, begitu juga sebaliknya tidak bisa melihat konteks tanpa membaca teks,” demikian pesan Menteri Agama mengakhiri sambutannya. Pesan ini kembali menegaskan, bahwa jika ada kesalahpahaman dalam membaca teks, maka akan menimbulkan masalah dan persoalan baru.

Untuk memperkecil kesalahpahaman dalam membaca sebuah teks, maka sebuah penerjemahan Alkitab perlu dilakukan revisi. Alasan ini juga diungkapkan oleh Pater Yosef Masan Toron, SVD., Ketua Umum Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dalam sambutannya, bahwa gerakan revisi Terjemahan Baru yang dirintis oleh pakar biblika dari Katolik dan Protestan dilandasi oleh beberapa alasan dan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti: (1) Perkembangan bahasa penerima; (2) Perkembangan penelitian teks-teks sumber; (3) Perkembangan ilmu tafsir modern; dan (4) Perkembangan ilmu penerjemahan. “Namun sebenarnya alasan yang lebih mendasar dari hasil akhir sebuah revisi terjemahan adalah sebuah kerinduan jemaat yang intens jemaat kristiani di seantero bumi nusantara untuk berjumpa dan berdialog dengan Yang Mahatinggi dalam bahasa dan nuansa yang insani,” demikian pesan Pater Yosef.

Menerjemahkan Kabar Baik kepada dunia juga merupakan tugas dan tanggungjawab Gereja. Pesan itu juga ditegaskan dalam sambutan Pengurus Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Ishak P. Lambe, Ketua Umum LAI. Demikian sambutannya, “Gereja di dalam dirinya memiliki otoritas, kewajiban, dan tanggungjawab untuk menerjemahkan Kabar Baik itu kepada dunia ini, agar dunia mengerti dan percaya bahwa Yesus Kristus itulah TUHAN dan Juruselamat dunia ini.”

Firman Tuhan adalah wujud dari kehadiran Allah ke tengah dunia. Maka sudah menjadi tugas kita adalah untuk terus mewartakan Kabar Baik. “Allah berbicara dari generasi ke generasi. Betapapun bahasa itu berubah, tetapi maksud Tuhan tidak pernah berubah. Dan bukan saudara yang mendekati bahasa Allah, tetapi Allah-lah yang mendekati bahasa saudara.,”  demikian pesan Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketua Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili di Indonesia – PGLII) dalam khotbahnya di ibadah pembukaan Konas TB2 di Kinasih.

Konas TB 2 yang merupakan kerjabaren LAI dan LBI ini tidak saja dihadiri oleh pakar-pakar biblika tetapi juga dihadiri oleh pimpinan sinode gereja dan uskup-uskup. Semoga pertemuan yang mengambil tema Merajut Kebersamaan Dalam Sabda ini, mampu menghadirkan persekutuan di sekitar Firman Allah yang dicintai oleh semua orang, dan mampu menembus sekat-sekat denominasi gereja maupun latar belakang sosial, budaya, suku, ras, ekonomi, jender, dan pilihan politik yang majemuk.[]

Tinggalkan Balasan