Konsultasi Perjanjian Lama Terjemahan Baru 2

Jayapura adalah kota terakhir penyelenggaraan Konsultasi Perjanjian Lama Terjemahan Baru 2 setelah sebelumnya diadakan di Yogyakarta dan Pontianak. Makan siang bersama mengawali perjumpaan seluruh peserta konsultasi yang terdiri dari pakar Biblika, pakar Bahasa Indonesia dan utusan-utusan gereja dengan tim dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Kegiatan berlangsung di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Papua, Kota Jayapura.

Kegiatan Konsultasi PL TB 2 dibuka dengan ibadah yang dipimpin oleh Bpk. Pdt. Fredrick Hendrick Toam, M. Si, dengan nas Alkitab dari Yesaya 43:19b. Beliau berpesan bahwa kabar keselamatan harus sampai kepada sesama manusia, karena Tuhan memberikan kita kuasa untuk menatalayani dunia ini. Beliau juga berharap agar gereja dapat menggarami dan membawa terang, yang dibebaskan untuk membebaskan, yang diciptakan untuk berkarya cipta. Akhir dari seluruh rangkaian Ibadah Pembukaan ditutup dengan menyanyikan lagu pujian ‘Aku Papua’.

Dengan memukul Tifa, alat musik tradisional khas Papua, Bpk. Pdt. Robinson Rajaguguk selaku Pengurus LAI secara resmi membuka konsultasi yang berlangsung selama lima hari, mulai dari 21-25 Agustus 2017. Sebelum memulai diskusi, para peserta diajak untuk memahami mengapa Alkitab perlu direvisi. Bpk. Pdt. Daniel Kaigere (Sekertaris Umum Majelis Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua) sebagai keynote speaker menyampaikan pengantarnya yang berjudul “Satu Alkitab Beragam Terjemahan”. Tiap peserta dibagi menjadi lima kelompok kecil, yang terdiri dari kelompok Kejadian, Imamat, Hakim-Hakim, Yeremia dan Makabe. Perbedaan gagasan dan pendapat yang dikemukakan oleh peserta seringkali menimbulkan perdebatan. Akan tetapi, semua gagasan ditampung oleh LAI sehingga pada akhirnya akan dipilih mana kata yang lebih tepat untuk digunakan.

Di hari terakhir konsultasi, diadakan Seminar Nama-nama Ilahi yang dibawakan oleh Bpk. Pdt. Anwar Tjen. Peserta diajak untuk memahami mengapa kata “Allah” tetap digunakan dalam Alkitab. Banyak perdebatan dan pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Namun, Bpk. Pdt. Anwar Tjen dapat memberikan penjelasan yang baik sehingga dapat dipahami oleh masing-masing peserta. Kiranya seluruh saran dan pendapat dari peserta konsultasi di wilayah Papua ini dapat membantu penyelesaian revisi Alkitab TB agar penerbitannya dapat segera dilakukan, sehingga semakin banyak orang yang akan mengenal dan memahami firman Allah. [zvp]