Peluncuran Kabar Baik Bergambar Bahasa Mee

Suku Mee adalah salah satu suku terbesar di Tanah Papua yang berdomisili di Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Paniyai dan Teluk Cendrawasih. Kurang lebih terdapat 300 marga yang dimiliki oleh Suku Mee dengan presentase hanya 45% masyarakat Suku Mee yang masih menggunakan Bahasa Ibu, selebihnya menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari. Dalam beribadah, Suku Mee yang mayoritas Nasrani menggunakan Alkitab/buku-buku Bahasa Indonesia karena untuk terjemahan Bahasa Mee sendiri belum lengkap. Memang pada tahun 1989, Suku Mee sudah memiliki terjemahan Perjanjian Baru dan beberapa kitab Perjanjian Lama. Namun, untuk Alkitab lengkap maupun bacaan Sekolah Minggu masih belum ada. Melihat keadaan tersebut, masyarakat Suku Mee rindu agar generasi mendatang yaitu anak-anak akan tetap mengenal dan mencintai Bahasa Ibunya, yaitu Bahasa Mee secara turun temurun sehingga Bahasa Mee tidah akan punah.

_zvp24127Dan, Kabar Baik itu pun datang. Tepat tanggal 19 September 2016, Kabar Baik Bergambar (KBB) “Enaa Mana Ma Ayaido Ma” dalam Bahasa Mee diluncurkan. Pelaksanaan Peluncuran KBB Mee di Kemah Injil (Kingmi) Papua Jemaat Efata di Nabire untuk dua klasis Nabire dan Wanggar dihadiri sekitar 300 orang lebih. Dan KBB Bahasa Mee secara harafiah diluncurkan oleh Bpk. Pdt. DR. Ishak P. Lambe sebagai Ketua Umum Lembaga Alkitab Indonesia. Selain itu, dibagikan juga Komik Anak, Alkitab dan Alkitab Edisi Studi (AES) bagi hamba Tuhan. Sehari setelah peluncuran KBB Bahasa Mee di Nabire, tim LAI harus menempuh perjalanan selama 8 jam untuk sampai di Kabupaten Dogiyai. Jalanan yang ditempuh cukup baik namun ada beberapa titik lokasi yang harus diwaspadai karena longsor. Puji Tuhan, tim LAI sampai di Dogiyai dengan selamat dan pembagian dilakukan keesokan harinya.

Acara pembagian KBB Bahasa Mee di Dogiyai berjalan dengan baik dan dihadiri oleh sekitar 400 umat Tuhan. Ketika acara pembagian selesai, tim LAI mendapat kabar bahwa masyarakat Deiyai sudah menunggu sejak pagi hari di “Pintu Angin” (sebutan untuk perbatasan antara Kabupaten Dogiyai dan Deiyai). Padahal acara pembagian KBB Bahasa Mee di Deiyai baru akan dilaksanakan esok hari dan tim baru akan tiba di Deiyai pada siang hari selesai acara pembagian di Dogiyai. Sungguh antusiasme masyarakat begitu besar menyambut hadirnya KBB Bahasa Mee. Begitu sampai di Pintu Angin, rombongan tim LAI disambut dengan sukacita. Jalanan dipadati oleh masyarakat Deiyai mulai dari anak-anak sekolah sampai orang dewasa. Mereka menyanyi, menari dan memuji Tuhan dengan bercucuran air mata. Mereka sangat bersukacita dan bersyukur karena kerinduan mereka terpenuhi dengan hadirnya KBB Mee. Karena arak-arakan yang begitu panjang, perjalanan dari Pintu Angin ke kantor Klasis Deiyai memakan waktu 4 jam, padahal waktu normalnya hanya 30 menit saja. Tiba di halaman kantor Klasis, sarung-sarung terhampar menjadi “red carpet” bagi rombongan tim LAI. Mereka mencuci kaki rombongan tim LAI dan mengalungkan Noken tanda kegembiraan dan syukur.

_zvp31862Kegembiraan umat Tuhan di Deiyai terus berlanjut ketika pembagian KBB Mee, Komik Anak, Alkitab dan AES di Gereja Kingmi Jemaat Antiokhia Waghete. Gereja sangat dipadati oleh jemaat sehingga sebagian dari mereka harus berdiri di luar. Rangkaian persembahan pujian dilantunkan oleh perwakilan 7 Klasis serta anak-anak Sekolah Minggu. Keesokan harinya tanggal 23 September 2016, rombongan tim LAI melanjutkan perjalanan ke Paniai dalam waktu tempuh 1,5 jam dari Deiyai. Sepanjang perjalanan menuju rumah misionaris pertama di Paniai, anak-anak sekolah dan jemaat berpakaian adat Paniai sudah berdiri menyambut rombongan tim LAI. Perwakilan 11 klasis yang ada di wilayah Paniai turut hadir di Gereja Kingmi Jemaat Antiokhia Enarotali untuk bersama beribadah dan menyaksikan pembagian KBB Mee serta terbitan LAI lainnya.

Tentunya, harapan tim Penerjemah KBB Bahasa Mee, masyarakat Suku Mee dan LAI adalah agar anak-anak Suku Mee yang ada di Tanah Papua akan semakin mengenal dan mencintai bahasa ibu mereka dan terutama Yesus Kristus sang Juruselamat kehidupan mereka. Bahasa Mee akan terus dipertahankan dan dilestarikan untuk generasi mendatang! [zvp]