"LEMBAGA ALKITAB HADIR DI PINTU GERBANG INDONESIA TIMUR "

Makassar adalah ibukota propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan menyebut dirinya sebagai Pintu Gerbang Wilayah Indonesia Timur. Sebutan Pintu Gerbang Indonesia Timur untuk Sulsel adalah tepat mengingat di wilayah ini terdapat sentra-sentra perekonomian. Selain banyak tersebar pusat kegiatan industri-industri, Propinsi Sulsel dikenal sebagai salah satu lumbung padi untuk wilayah Indonesia Timur. Di mana hampir sekitar 80% hasil padi seluruh Pulau Sulawesi berasal dari propinsi ini. Di samping itu, Makassar merupakan tempat yang penting bagi kegiatan ekspor dan impor, mengingat Pelabuhan Samudra Makassar dan Bandara Hasanuddin adalah tempat transit bagi lalu-lintas perdagangan untuk wilayah Indonesia Timur, yang sekaligus berperan dan berfungsi menghubungkan propinsi ini dengan kota-kota lain di seluruh Indonesia maupun di luar negeri.

Jika kita melihat potensi-potensi ekonomi yang ada di Sulsel, proses penguatan ekonomi rakyat sudah mulai bertumbuh, di mana di dalamnya termasuk kegiatan pelayanan Kantor LAI Perwakilan Makassar. Artinya, suka tidak suka, siap tidak siap, Kantor LAI Perwakilan Makassar harus dapat tetap menampilkan wajah pelayanannya di pintu gerbang Indonesia Timur ini.

Sejarah Kantor LAI Perwakilan Makassar tentunya tidak bisa dilepaskan dengan berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia. Seperti kita ketahui bersama, bahwa sebelum menjadi sebuah lembaga seperti saat ini, LAI merupakan sebuah agen dari Lembaga Alkitab Belanda ( Het Nederlands Bijbelgenootschap) dan Lembaga Alkitab Inggris (The British and Foreign Bible Society) di Hindia Belanda (sekarang: Indonesia) yang hanya berfungsi menyebarkan Alkitab dan Bagian-bagiannya. Ketika berkecamuk Perang Dunia II, maka pada 11 November 1940, agen Alkitab itu diserahkan ke tangan Mr. G.P. Khouw, seorang sarjana hukum Indonesia, yang berkedudukan di Bandung. Setelah Perang Dunia II berakhir, keagenan Alkitab itu diserahkan kembali kepada Lembaga Alkitab Belanda, dan agennya Mr. G.P. Khouw dipindahkan ke Makassar. Baru pada tahun 1950, setelah Pengakuan masyarakat internasional atas Kedaulatan Indonesia, keagenan Alkitab itu dipindahkan ke Jalan Teuku Umar 34, Jakarta. Keinginan mendirikan sebuah Lembaga Alkitab Nasional tumbuh dikalangan para tokoh-tokoh Kristiani dan pimpinan Gereja di Indonesia, sampai pada akhirnya, pada tanggal 9 Februari 1954 berdirilah LAI yang bertanggung jawab penuh atas lembaga gerejawi, pengadaan serta penyebaran Alkitab.

Guna melaksanakan dan menunjang tugas LAI di wilayah Sulseltra dan Maluku, maka pada bulan April 1965 berdirilah Kantor LAI Perwakilan Makassar. Dengan berdirinya Perwakilan Makassar diharapkan visi-misi LAI dapat disebarkan dan didengar oleh umat Kristiani di wilayah tersebut. Paling tidak ada 8 kantor Sinode yang menjadi induk organisasi Gereja-gereja Protestan yang terdapat di dalam wilayah kerja Kantor LAI Perwakilan Makassar. Ini merupakan potensi lokal yang dapat dijadikan mitra sekerja dalam menjemaatkan Firman Tuhan dalam kehidupan gereja dan berjemaat. Selain itu banyaknya suku bangsa yang terdapat di wilayah tersebut yang belum memiliki terjemahan Alkitab ke dalam bahasa mereka merupakan potensi yang dapat dikembangkan oleh Kantor LAI Perwakilan Makassar.

Melihat begitu besarnya tanggung jawab yang dipikul oleh LAI Perwakilan Makassar, nampaknya pekerjaan tersebut tidak dapat dipikul sendiri oleh LAI. Di sinilah pentingnya kemitraan, khususnya kemitraan LAI dengan Gereja-gereja setempat, sehingga tugas yang berat akan menjadi ringan jika dikerjakan bersama-sama. Dan harapan untuk menjadikan Kantor LAI Perwakilan Makassar sebagai Pintu Gerbang Kawasan Indonesia Timur di era otonomi daerah bukan lagi sekedar slogan, tetapi sudah bagian dari pekerjaan yang terus dijalankan. [BfK]

kembali ke halaman sebelumnya