Renungan Perjalanan Satu Dalam Kasih Ke Digoel

  • 39
    Shares

title

Perjumpaan dengan saudara-saudara seiman di enam distrik (Waropko, Nenati, Yetetkun, Kouh, Bomakia, Fovi, & Butiptiri), kabupaten Boven Digoel, Papua selama 9 hari lalu (30 September s/d. 9 Oktober 2018) menjadi sebuah persinggahan penuh makna dalam peziarahan spiritual diri ini. Perjalanan berjam-jam di atas transportasi udara, air dan darat bahkan berjalan kaki berkilo-kilo meter dengan bertelanjang kaki, tidak sama sekali membuat hasrat ini ingin mengeluh dan menyerah.

Teriknya matahari yang membakar kulit, rasa khawatir jika sewaktu-waktu adanya buaya yang muncul ke permukaan sungai dan rasa lelah karena perjalanan panjang, semua tidak berarti ketika melihat banyak umat Tuhan yang bersukacita, menangis haru, bersyukur, memeluk Alkitab yang telah kami bawa sebagai titipan dari jemaat Tuhan yang telah mau berbagi untuk sesamanya.
Ternyata Alkitab yang selama ini bagi sebagian orang dianggap sebagai "barang" biasa dan mudah diperoleh, tidak bagi saudara-saudara kita di pedalaman. Bagi mereka memperoleh Alkitab adalah suatu anugerah dan jawaban atas doa-doa yang mereka panjatkan selama berpuluh-puluh tahun. Mereka menciumi dan memeluk Alkitab yang telah mereka peroleh dengan penuh hormat, sebagai tanda betapa mereka bersyukur bisa mendapatkannya.

Bukan sebagai buku, tetapi sebagai Sabda Tuhan yang diimani dapat memberikan kehidupan.
Bagaimana dengan mu? masihkah?

Ada banyak makna hidup yang mempertajam kehidupan spiritual selama perjalanan itu. Melalui perjumpaan dengan mereka, aku berjumpa dengan Allah yang mau menjumpai umat Nya dalam segala kondisi. Allah yang memanggil setiap umat untuk saling mengasihi, menopang dan berbagi dalam segala kondisi sebagai wujud cinta kasih. Allah yang turut merasa seperti umat Nya.

Terima kasih untuk setiap umat Tuhan yang telah ikut berdoa, mendukung dan berdonasi untuk umat Tuhan di pedalaman melalui Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), kiranya Tuhan menyempurnakan pelayanan bersama ini.[elkahana]