Sarasehan LAI dan Pimpinan Gereja

Untuk menyegarkan kembali kerjasama antara Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan Sinode-sinode Gereja di Indonesia, Kamis 24 Agustus 2017 diadakan acara Sarasehan LAI dan Pimpinan Gereja dengan tema: Kemitraan dan Tantangan LAI Ke Depan. Acara yang dihadiri sekitar 100 undangan yang terdiri dari Pimpinan Sinode Gereja-gereja di Indonesia dari berbagai denominasi ini diawali dengan mengikuti Paket Wisata Alkitab ke Museum Alkitab.

Selesai berkeliling melihat koleks benda-benda Alkitab di Museum Alkitab, tepat pukul 18.00, seluruh peserta mengikuti Ibadah pembukaan yang diawali dengan doa yang dipimpin oleh Pdt. Suhandoko Wirhaspati. Pelayan Firman dalam ibadah ini, Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe memberikan renungan singkat tentang ‘Lahir dan Mengakar di Bumi Pancasila’. Dalam renungan tersebut, diceritakan pula tentang kisah Mary Jones, salah satu tokoh yang menginspirasi terbentuknya Lembaga Alkitab di dunia. Beliau mengatakan, yang jauh lebih penting adalah bagaimana Alkitab itu mendarah daging tidak saja dalam kehidupan bergereja, tetapi juga dalam kehidupan umat kristiani.

Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan Kesepakatan Kerja Sama LAI dengan Sinode oleh Bapak Harsiatmo Duta Pranowo, MBA., Sekretaris Umum LAI. Sementara penandatanganannya dilakukan oleh Ketua Umum LAI, Pdt. Dr. Ishak P. Lambe, dan penandatanganan oleh sinode gereja-gereja diwakilkan oleh Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Ketua Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Pdt. Aris Widaryanto, S.th., M.Min., Sekretaris Umum Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ). Penandatangan dan persetujuan MOU tersebut disambut hangat oleh seluruh peserta acara Sarasehan tersebut.

Sesi berikutnya adalah panel diskusi mengenai ‘Kemitraan dan Tantangan Pelayanan LAI ke Depan’ dengan narasumber Romo Dr. Yohanes Subagyo dari Keuskupan Agung Jakarta, Pdt. Dr. Japarlin Marbun sebagai perwakilan Gereja Bethel Indanesia (GBI) serta Pdt. Dr. Ishak P. Lambe mewakili LAI. Sebagai moderator adalah Pdt. (Em.) Weinata Sairin. M.Th. Dalam panel ini, Romo Dr. Yohanes Subagyo menyatakan dirinya mewakili umat Katolik sangat berterima kasih kepada LAI atas kiprahnya selama ini dalam menghadirkan Alkitab dengan berbagai bentuknya sehingga membuat Alkitab ini mudah dijangkau oleh berbagai kalangan. Dalam momen yang bertepatan dengan Bulan Kitab Suci umat Katolik yang sedang berlangsung ini, beliau menyatakan akan lebih mendorong seluruh umat Katolik untuk makin giat membaca Alkitab terbitan LAI. Sementara itu, Pdt. Dr. Japarlin Marbun (GBI) menyatakan bahwa LAI harus lebih memperhatikan lagi kebutuhan umat Kristiani dan gereja-gereja, khususnya mengenai produk-produk Alkitab di era digital ini. Beliau menyatakan bahwa di gereja-gereja yang dilayaninya kini, jemaat sudah lebih banyak membaca Alkitab melalui gadget mereka secara digital. Bahkan dirinyapun melakukan hal yang sama. Ada 10 versi terjemahan Alkitab beserta konkordansi lengkap dari berbagai versi dengan format digital dalam aplikasi di gadget (tab) yang digunakannya.

Selaku ketua umum LAI, Pdt. Dr. Ishak Lambe menyambut baik seluruh masukan, saran serta pesan-pesan yang disampaikan oleh dua narasumber tersebut. Beliau mengatakan bahwa Lai terus melakukan inovasi-inovasi, baik itu Alkitab dalam format digital maupun Alkitab dalam bentuk cetak. Hal ini merupakan visi LAI dalam menjawab dan memperhatikan kebutuhan umat Tuhan di Indonesia akan tersedianya Alkitab.

  1. Dalam panel diskusi ini juga diadakan sesi tanya-jawab. Ada beberapa masukan dari pimpinan gereja yang diharapkan dapat dilakukan oleh LAI ke depannya. Beberapa di antaranya adalah:
    Pdt. Gumay, Ketua Sinode Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) mengusulkan agar LAI terus berupaya untuk terus menerbitkan dan memproduksi baik Alkitab Cetak maupun Alkitab dalam format digital.
  2. Ketua Persekutuan Gereja Mandiri memberi masukkan agar LAI lebih memperhatikan gereja-gereja yang masih belum menerima (masih melarang) penggunaan Alkitab secara digital dalam ibadah. Ini berkaitan dengan program komunitas Persekutuan Gereja Mandiri yang beliau jalankan, yaitu menyebarkan Alkitab cetak ke pelosok negeri. Beliau menyatakan, sekarang anak-anak di pelosok daerah pun menggunakan alkitab digital melalui handphone. Hal ini sangat disayangkan menurut beliau. Jadi, LAI harus lebih memperhatikan dan mendukung penggunaan Alkitab Cetak dalam peribadatan.
  3. Pdt. Johny dari Persekutuan Gereja Baptis Indonesia, menyatakan bahwa Gereja Baptis sangat mendukung seluruh program yang sedang dan akan dijalankan oleh LAI. Mereka juga menyatakan akan mendukung secara materi bila perlukan.
  4. Pdt. Holans Sihite, dari perwakilan Gereja Kristen Pasundan (GKP), mempertanyakan mengenai copyright untuk hak pengadaan Alkitab Digital, yang hingga saat ini sangat banyak jumlahnya baik diaplikasi Google Play maupun App Store. Beliau mempertanyakan tanggapan LAI mengenai hak penerjemahan Alkitab tersebut.

Pada akhirnya, seluruh masukkan itu diterima dengan baik oleh semua Narasumber. Mengenai Alkitab cetak maupun digital, semua akan disinergikan dengan kebutuhan seluruh umat. Menurut Pdt. Ishak P. Lambe, LAI walaupun juga menggarap Alkitab digital, bukan berarti akan meninggalkan Alkitab cetak. Karena selain masih dibutuhkan, LAI juga punya fasilitas percetakan yang tidak kalah dengan Percetakan Negara Indonesia (PNRI). Pdt. Japarlin Marbun menyatakan bahwa sudah bukan saatnya lagi memperdebatkan mana alkitab yang benar, cetak ataupun digital. Menurutnya, kita sedang dalam masa krisis bila masih mempersoalkan hal tersebut. Mengenai copyright atau hak paten penerjemahan, LAI akan terus memproses dan menjalankan prosedurnya sehingga tidak disalahgunakan oleh pihak lain dan copyright tersebut harus dapat benar-benar menjadi milik LAI sendiri.

Pdt. Weinata Sairin juga menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan implementasi dari Pertemuan Kemitraan yang digagas pada 9 Mei 2012 dan itu harus dikuatkan dan diteguhkan kembali, sehingga LAI akan lebih memantapkan pelayanannya mendukung Gereja dan umat kristiani dalam pengadaan Alkitab dan Bagian-bagiannya.

Dalam acara ini hadir pula perwakilan komunitas Church Of Gog (COG) dari Amerika Serikat. Dirinya menyatakan antusiasmenya mengenai seluruh program LAI, yang juga sangat bersinergi dengan Lembaga Alkitab America (American Bible Society) yang dipimpin oleh Lomour Rouves sebagai Presiden sekaligus Sekretaris Umum. Beliau menyampaikan salam darinya. Beliau sebagai pemimpin COG yang menaungi Gereja-gereja Bethel di Indonesia juga menyatakan bangga bahwa GBI dapat menjadi bagian dari LAI. [hy]