Setia Kawan Antara Idealisme dan Kepentingan

Semua hal ihwalku akan diberitahukan kepada kamu oleh Tikhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan. (Kol 4:7)

Dalam dunia politik, kita sering mendengar istilah “Tidak ada yang teman sejati, yang ada adalah kepentingan”. Sebagai contoh, Pada hari ini Si A berkoalisi dengan Si B untuk melawan Si C. Akan tetapi di kemudian hari, Si A bergabung dengan Si C untuk mengalahkan Si B. Dahulu ada orang yang memuji dan mengangungkan Pak Soeharto untuk kembali menjabat sebagai presiden Republik Indonesia, tetapi saat mahasiswa marak berdemo, orang yang sama turut meminta Pak Soeharto lengser dari jabatannya. Banyak tipe manusia oportunis, tidak mengenal setia kawan, loncat sana-sini hanya untuk kepentingan pribadinya saja.

Ada beberapa orang yang menjadi oportunis oleh karena dipersepsi buruk lingkungan. Dari hal sederhana sampai yang kompleks, apa yang dilakukan hanya berdasarkan untung rugi dan kepentingan semata. Untuk urusan tumpangan mobil saja, bisa dengan mudah pindah jika ada yang menawarkan mobil yang lebih bagus.

Rasul Paulus kerap memuji Tikhikus, sebagai seorang kawan, hamba dan saudara yang setia untuk berjuang dan melayani bersama dalam berbagai situasi. Persahabatan yang sejati adalah pertemanan dalam suka dan duka, dalam keadaan senang atau gembira. Orang tidak bisa dikatakan saling bersahabat jika hanya menikmati apa yang enak/baik saja.[us]