Mengakhiri atau melepaskan sesuatu seringkali bukanlah hal yang mudah. Manusia terikat dengan rasa kepemilikan yang terkadang tidak sehat. Namun dalam keegoisan kita, seringkali kita hendak mempertahankan sesuatu yang sebetulnya tidak selalu berdampak baik bagi kita. Inilah yang hendak kita renungkan dalam teks hari ini.
Yehezkiel 7 dibuka dengan satu kata yang diulang berkali-kali: kesudahan. Kesudahan sudah datang atas keempat penjuru tanah itu. Orang-orang buangan di Babel masih berharap Yerusalem akan tetap berdiri. Tetapi melalui nabi-Nya, Tuhan menyatakan bahwa masa itu sudah berakhir. Pembeli tidak perlu bergembira dan penjual tidak perlu berdukacita, sebab jual beli tidak lagi berarti. Sangkakala ditiup, tetapi tidak ada yang maju berperang. Semua tangan terkulai dan semua orang terkencing ketakutan. Mereka mengenakan kain kabung, dan kegentaran meliputi mereka. Semua yang selama ini diandalkan ternyata tidak dapat menahan datangnya akhir.
Nubuat ini terdengar sangat keras. Namun justru di sinilah kita melihat kasih Tuhan yang jujur. Tuhan tidak membiarkan umat-Nya hidup dalam ilusi. Selama mereka berpegang pada harapan palsu, mereka tidak akan pernah sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya. Hanya setelah mereka berani mengakui bahwa sesuatu telah berakhir, mereka dapat menerima apa yang baru dari Tuhan. Dalam kitab yang sama, setelah kabar kejatuhan Yerusalem, Tuhan berbicara tentang hati yang baru dan tulang-tulang kering yang dihidupkan kembali (Yehezkiel 36-37).
Firman ini mengajak kita untuk jujur di hadapan Tuhan. Ada hal-hal dalam hidup yang memang harus berakhir: kebiasaan lama, cara pelayanan yang tidak lagi menjawab kebutuhan, kebanggaan yang terus kita pertahankan, atau relasi yang tidak membuahkan kebaikan dalam hidup. Dalam kesediaan untuk mengakhiri dan melepaskan terkadang ada peluang untuk hadirnya peristiwa serta kesempatan-kesempatan baru yang hendak Tuhan hadirkan. Bagi orang-orang yang berani melepaskan, kesusahan dapat menjadi pintu menuju permulaan yang baru dari tangan-Nya. Marilah kita menyerahkan setiap akhir dalam hidup kita kepada Tuhan, yang setia menuntun umat-Nya melewati reruntuhan menuju hidup yang baru.



















