Karya Kasih dan Kerajaan Allah

Karya Kasih dan Kerajaan Allah

 

Selama Pandemi COVID-19 Gelombang 1, 2 dan 3 yang telah berhasil kita lewati selama 2 tahun kita telah banyak melihat tentang aksi solidaritas dari orang-orang yang berbagi nasi bungkus, sembako, sayur-mayur hasil usaha kebun hidroponik, dll. Demikian pula saat terjadi bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, kita juga menjadi saksi bahwa dalam sekejap bantuan bahan pangan, sandang, serta perlengkapan kebutuhan sehari-hari lainya terkumpul. Oleh karena itu dalam beberapa tahun terakhir Indonesia, negara kita, mendapat sebutan sebagai “Negara Paling Dermawan Sedunia”, berdasarkan World Giving Index (WGI) yang dikeluarkan oleh Charities Aid Foundation (CAF).

Berdasarkan WGI yang dikeluarkan CAF, Indonesia unggul di dua kriteria dari tiga kriteria yang dijadikan dasar penilaian yakni: Menyumbang/berbagi terhadap orang lain, menyumbang dana dan aksi kerelawanan (voluntarism). Indonesia memperoleh angka index tinggi untuk berbagi terhadap orang lain serta aksi kerelawanan. Sebagai bangsa Indonesia kita boleh bangga akan hal ini.

Walaupun dinilai sebagai bangsa paling dermawan sedunia, tindakan berbagi semacam itu seringkali menuai kritik. Dikatakan bahwa hal itu “hanya tindakan memberi ikan”, lalu setelah ikan habis dikonsumsi, problem baru yang lain akan muncul. Seperti kata pepatah, “Memberi ikan kepada orang lain engkau bisa memberi makan orang dalam sehari. Tetapi dengan memberi kail, engkau bisa memberi makan sepanjang hidup”. Apapun kata pengeritik itu, berbagi terhadap sesama yang dikenal sebagai tindakan karitatif (belas kasihan, charity) tetap diperlukan untuk mengatasi kejadian bencana dalam jangka pendek/darurat bencana. Untuk kondisi pemulihan diperlukan tindakan yang lain yakni aksi reformatif atau restoratif.

Aksi reformatif/restoratif nampak dalam upaya-upaya pembangunan hunian (settlement) bagi para penyintas bencana alam untuk dapat memulai hidup baru lagi pasca bencana. Hal lain yang dapat dikategorikan sebagai aksi reformatif/restoratif adalah pemberian bantuan modal usaha. Juga usaha-usaha pendirian sekolah, rumah sakit/klinik dapat dikategorikan dalam upaya-upaya restoratif/reformatif untuk perbaikan kualitas hidup bangsa/ kelompok masyarakat. Dalam konteks ini, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memiliki program kerja Pembaca Baru Alkitab (PBA) dimana LAI mengutus relawan ke wilayah-wilayan terpencil selama jangka waktu tertentu untuk mengajarkan membaca, menulis, serta berhitung sederhana kepada kelompok masyarakat yang belum bisa membaca-menulis dengan menggunakan Alkitab sebagai bahan ajar. Program ini mendapat respons yang cukup baik dari para relawan serta dari kelompok masyarakat yang dilayani.

Namun persoalan sosial tidak serta merta terselesaikan dengan tindakan restoratif/reformatif. Ketika dikatakan bahwa memberi kail berarti memberikan makan sepanjang hidup, namun persoalan lain adalah bagaimana kail itu mampu bermanfaat ketika sungai, lubuk, danau yang menjadi tempat mengail kering, terkontaminasi/terpolusi, atau dikuasai oleh pihak tertentu sehingga masyarakat tidak mempunyai tempat untuk mengail? Inilah yang disebut sebagai persoalan transformasi sosial atau transformasi budaya agar sekelompok masyarakat mampu mengubah kebiasaan, pola hidup, serta pola pikir untuk mampu hidup lebih sejahtera dengan mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi.

Salah satu kisah keberhasilan transformasi budaya datang dari Papua, seperti dilaporkan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mendampingi sebuah kelompok masyarakat yang tinggal di pesisir/pantai. Di desa-desa tersebut sudah terpola pembagian tugas berdasarkan gender bahwa laki-laki bekerja menebang pohon sagu, mencari ikan serta menjalankan fungsi pengamanan desa, dan perempuan mengerjakan tugas-tugas domestik membuat tepung sagu, memasak, mengasuh anak serta mencari air bersih/air tawar untuk dikonsumsi dan untuk kebutuhan sanitasi. Persoalannya adalah untuk mendapatkan air bersih tersebut para ibu harus berperahu/berdayung selama 3 jam pulang pergi. Tentu saja hal ini merupakan suatu pemborosan waktu. 

Kemudian, lembaga yang mendampingi masyarakat desa itu berhasil mengupayakan sumber air bersih yang lebih dekat serta mendistribusikannya melalui jaringan pipa. Jadi air tidak lagi sejauh 3 jam berperahu tetapi hanyalah sejauh kran air saja. Betapa bahagianya para ibu dan anak-anak. Air tersedia berlimpah. Namun persoalan baru timbul. Jaringan pipa dirusak oleh para bapak. Mengapa? Rupanya dari ekstra waktu 3 jam yang dimiliki kaum ibu ini dijadikan kesempatan untuk mengobrol dan tanpa terasa mereka bisa ngobrol hingga 4-5 jam. Pekerjaan domestik terganggu. Oleh karena itu para bapak berpendapat lebih baik para ibu berperahu selama 3 jam untuk mengambil air. Akhir kisah lembaga pendamping itu kemudian berhasil mengupayakan kegiatan produktif bagi para ibu dan desa itupun berkembang menjadi desa yang lebih sejahtera.

“Semua yang kalian lakukan, lakukanlah dengan kasih” [1 Korintus 16:14 - BIMK] – Itulah yang tertulis dalam Alkitab. Sebuah prinsip yang sederhana namun berdampak luas. Mengapa orang mau berbagi? Karena kasih. Mengapa orang mau mengusahakan dana membangun sekolah, rumah sakit/klinik? Karena kasih. Mengapa orang mau menjadi relawan mengajar kelompok masyarakat terpencil, mendampingi masyarakat desa terpencil selama bertahun-tahun, semata-mata karena kasih. Yesus tersalib juga merupakan karya kasih, bukan pengorbanan. Dalam berkorban tersirat prinsip transaksional, memberi sedikit dan berharap mendapat yang banyak. Karya kasih menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat diluar jangkauan yang dapat kita bayangkan. Dari karya seorang Yesus kini 2.4 milliar atau 31% penduduk dunia mengikuti ajaran kasih-Nya.

Lalu, untuk apa semua ajaran kasih dan karya kasih itu? Semuanya itu, kata Pdt. Em. Josef Widyaatmaja, demi terwujudnya “basilea” yakni kerajaan Allah yang mewujud di bumi yang adil dan sejahtera. Dikuduskanlah namMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.***.

 

Pdt. Sri Yuliana