Mengajar Tanpa Menggurui?

Mengajar Tanpa Menggurui?

 

Setiap 5 Oktober 2020, orang-orang di seluruh dunia memperingati World Teachers’ Day atau Hari Guru se Dunia yang diperingati sejak 1994. Tanggal ini ditetapkan oleh PBB/UNESCO dengan maksud memberikan dukungan serta meyakinkan para guru dan penduduk di seluruh dunia bahwa generasi masa depan ditentukan oleh guru. 

Dalam rangka Hari Guru se-Dunia, kita boleh bangga bahwa kita memiliki Ki Hajar Dewantara yang merupakan seorang konseptor pendidikan bertaraf dunia. Tiga prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni: Ing ngarsa sung tuladha (Di depan memberi teladan), Ing Madya mangun karsa (Di tengah memberi prakarsa dan mengembangkan gagasan), Tut wuri handayani (Di belakang memberikan dorongan dan arahan) adalah prinsip yang yang mendahului jamannya pada waktu itu serta masih tetap relevan hingga kini. Ketiga hal tersebut merupakan sebuah kesatuan, yang berarti bahwa inti dari pendidikan adalah memberi teladan, memberi prakarsa, kesempatan untuk mengembangkan gagasan serta mengawalnya melalui proses mentoring. 

Di belahan dunia yang lain, ada tokoh-tokoh pendidikan, seperti: Montessori yang mengatakan bahwa, pendidikan kepada anak didik harus disesuaikan dengan lingkungan belajar dan perkembangannya serta peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep  dan ketrampilan praktik. Metode pendidikan Montessori dikenal dengan penggunaan alat-alat peraga dalam proses belajar mengajar. Intinya membiarkan anak mengamati dan bereksplorasi serta belajar melalui pemodelan alat-alat peraga. Demikian pula Friedrich Foebel, penggagas konsep Kindergarten (Taman Kanak-Kanak) yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mendorong dan membimbing anak didik menyadari jatidirinya sebagai anak-anak Allah dan anak-anak alam, bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian, menghargai perasaannya sebagai cara untuk memahami, supaya dapat memecahkan masalah-masalah secara tangkas, bermoral, adil terhadap diri sendiri, sesama dan masyarakat. Hal tersebut dilaksanakan berdasarkan kehormatan terhadap bakat setiap pelajar dan keinginan untuk memprakarsai pelajarannya. Dari sini nampak bahwa ke tiga pakar pendidikan itu mempunyai kesamaan, yaitu bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang didasarkan atas pengamatan terhadap obyek-obyek di sekitar kita atau bereksplorasi, mengembangkan diri serta peran guru sebagai pembimbing/fasilitator.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pemeran pendidikan yang pertama dan terutama adalah orang tua. Orang tua adalah orang-orang terdekat dengan anak, yang memperkenalkan anak dengan lingkungan sekitarnya untuk diamati, dieksplorasi, untuk kemudian diolah serta dikembangkan oleh anak itu sendiri. Maka menjadi aneh ketika di media-media sosial berkembang wacana yang disebarluaskan oleh para ibu-ibu muda bahwa kegiatan belajar-mengajar secara daring “membebani” para orang tua siswa. “Ribet” kata mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya yakni, “mengganggu”, atau lugasnya “mengurangi porsi zona nyaman para ibu-ibu muda kelas menengah yang biasa dilayani oleh para asisten”. Bagi mereka, guru hanyalah asisten yang dibayar untuk mengurus pendidikan anak. Titik. Jika anak gagal dalam sekolah, maka itu salah guru. Titik lagi. Padahal pendidikan adalah tanggung jawab orang tua, keluarga bahkan seluruh komunitas yang bersentuhan dengan anak tersebut.

Guru, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Di lema yang sama juga dijelaskan tentang arti kata “menggurui” yakni “menjadikan dirinya sebagai guru (dengan mengajari, menasehati, dan sebagainya).   Dalam komunikasi sehari-hari kata “menggurui” berkonotasi negatif, karena dengan definisi “menjadikan dirinya sebagai guru” sepertinya orang tersebut bisa saja bukan guru, tetapi “berlagak” seperti guru atau pakar yang punya wewenang mengajar orang lain. Disinilah terletak ironi kata guru dan menggurui. Tidak ada orang yang senang digurui. Menggurui dan mengajarkan adalah dua hal yang berbeda. 

Froebel, Montessori, dan Ki Hajar Dewantara adalah pakar-pakar pendidikan yang hidup di abad XIX dan XX. Mereka mengajarkan keteladanan dan observasi lingkungan sekitar sebagai inti dari proses belajar mengajar. Dua ribu tahun yang lalu seorang Guru yang lain juga sudah mengajarkan keteladanan dan observasi lingkungan sekitar sebagai proses transfer pengetahuan dan pengembangan diri. Guru itu berkata, seperti tertulis dalam Alkitab, Yohanes 13:15, ”… sebab Aku telah memberi suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Kepada seorang murid, Sang Guru berkata, “Sebab untuk itulah kamu telah dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagi kamu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Petrus 2:21). Pada banyak kesempatan Sang Guru juga sering berkata, “Ikutlah Aku”. Dan sejarah pun mencatat, dari seorang Guru dan 12 murid pertamanya, kini di muka bumi ini ada sekitar 2,3 milyar penduduk dunia mengikuti teladan-Nya seperti tertulis dalam Alkitab.

Mengikut Kristus adalah mengikut teladan-Nya. Dia yang adalah Guru kita senatiasa mengajarkan, mentransfer ilmu, sekaligus memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah Dia kita sebut sebagai Guru Sejati. Mengajar, transfer ilmu, dan melakukannya (menjadi teladan) adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seseorang yang disebut sebagai guru. Jika seseorang hanya mengajar/berbicara apalagi menasehati saja, itu sama halnya dengan menggurui. Kiat menjadi guru bagi diri sendiri, keluarga, dan komunitas kita semua ada di dalam Alkitab. Melalui Alkitab kita dapat belajar bagaimana menjadi guru yang baik, dari tokoh-tokoh pilihan Tuhan yang mengajarkan segala sesuatu tanpa menggurui, sebab mereka mengajar melalui hidup dan kehidupan mereka. Ikutlah teladan Sang Guru. Mengajarlah tanpa mengurui. 



Pdt. Sri Yuliana, M.Th.