Namanya Photini

Namanya Photini

 

23 Juni. Tahukah Saudara bahwa setiap tanggal 23 Juni sejak 2011 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendedikasikan hari itu sebagai Hari Janda Sedunia untuk mengingatkan warga dunia bahwa di muka bumi ini masih ada 250 juta janda yang terdiskriminasi dan dan mendapat stigma buruk. Bahkan kurang lebih separuhnya hidup dalam kemiskinan. Alkitab sendiri mencatat bahwa janda, anak yatim/piatu, orang asing adalah mereka yang berhak mendapatkan “bantuan langsung kebutuhan hidup” dari perbendaharaan Bait Allah sebagi wujud pemeliharaan Allah terhadap mereka yang berkekurangan.

Lebih dari itu, status janda, apalagi janda dalam usia produktif, dari dulu hingga kini tetap mendapat stigma yang tidak baik. Entah sebagai pemikat/penggoda atau sebagai anggota masyarakat dengan profesi yang kurang terhormat. Namun, adalah seorang bernama Rajinder Paul Loomba, seorang pengusaha garmen yang sukses yang mencoba mengangkat harkat dan martabat para janda dengan mengingat perjuangan sang ibunda Shrimati Pushpa Wati yang harus menjadi orang tua tunggal dengan 7 anak. Seorang ibu yang mempunyai prinsip bahwa hanya melalui pendidikan yang baik anak-anaknya mampu meraih kehidupan yang lebih baik. Maka dalam kondisi apapun sang ibu tetap memotivasi anak-anaknya untuk berhasil dalam pendidikan dan memulai hidup yang baru. Mengingat perjuangan sang ibu inilah melalui “The Loomba Foundation’, Raj yang telah menjadi pengusaha sukses menyisihkan sebagian kekayaannya untuk membantu dan memberdayakan para janda di Asia dan Afrika. Melalui upayanya itu pada tahun 2005 Pemerintah Inggris mendedikasikan 26 Mei sebagai Hari Janda di Inggris dan 6 tahun kemudian PBB mendedikasikan 23 Juni sebagai Hari Janda Sedunia. 

Banyak persoalan yang dihadapi para janda/perempuan orang tua tunggal dalam struktur masyarakat masa kini. PBB melukiskannya sebagai, “Invisible women, invisible problems” yang kurang lebih berarti “perempuan-perempuan yang tidak diakui dengan masalah-masalah yang tidak diakui pula”. Jika ada janda sukses secara finansial ia dipertanyakan dari mana penghasilannya? Jika ia miskin ia disalahkan karena ia tidak mampu memberdayakan/dirinya dirinya. Padahal struktur masyarakat yang patriarkhal menghendaki perempuan hany berkiprah di lingkup domestik, dan ketika ia ditinggal suaminya ia tidak siap untuk menghadapi hidup untuk mencukupi kebutuhan finansial dirinya dan anak-anaknya. Sebaliknya ketika ia mempunyai karir/penghasilan yang baik ia dinilai menyalahi kodrat sebagai perempuan. Di sisi lain pemerintah tidak/belum mempunyai sistem perlindungan sosial terhadap para janda. 

Status janda selalu dikaitkan dengan almarhum suami atau mantan suami. Tidak pernah janda/perempuan orang tua tunggal dilihat sebagaimana dirinya sendiri, apa adanya ia tanpa stigma dengan semua problem yang harus dihadapinya. Jika dilihat dari sudut ini maka fungsi sosial Bait Allah lebih dari 2000 tahun yang lalu sudah mempunyai sistem perlindungan sosial terhadap para janda. Ini adalah pekerjaan rumah bagi masyarakat kita yang belum tuntas.

Di lingkungan gereja pun, pekerjaan rumah ini masih belum selesai. Ada seorang calon pendeta gagal menjadi pendeta karena ia hendak menikah dengan seorang janda. Atau bantuan diakonia untuk janda dilengkapi dengan “syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan (S&K)” yang artinya kehidupan janda itu dikontrol oleh gereja/majelis /penatua bidang diakonia. Ada juga gereja/majelis yang menolak melayani pemberkatan seorang janda yang ingin menikah lagi, dsb. Belum lagi seringkali nasib janda di lingkungan gereja ditentukan atas penafsiran beberapa ayat tertentu tetapi melupakan seluruh pesan Alkitab itu sendiri.

Injil Yohanes 4:5-42 menarasikan percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di tepi Sumur Yakub. Ada beberapa pelanggaran adat yang dilakukan 2 tokoh tersebut: pertama, seorang laki-laki berbicara berdua saja dengan seoranv perempuan. Kedua, orang Yahudi bercakap-cakap dengan orang Samaria yang secara tradisi tidak bertegur sapa. Dan yang paling berat “seorang guru” bercakap-cakap dengan “seorang yang tidak bermoral”: lima kali menikah dan pada waktu itu ia hidup dengan seorang laki-laki tanpa ikatan pernikahan. Namun Yesus berhasil mentransformasi kehidupan perempuan tersebut, yang menurut tradisi Gereja Ortodoks,  diidentifikasi bernama Photini. Photini yang sama pula oleh Gereja Ortodoks bersama lima saudarinya dan 2 anaknya diangkat menjadi santa/santo karena pelayanan Pekabaran Injilnya di Asia Kecil sehingga banyak orang percaya kepada Tuhan. Nama Pothini juga diabadikan di gereja dimana Photini bercakap-cakap dengan Yesus dan kini dikenal sebagai “St. Photini Church at Bir Ya’qub”

Yesus memandang Pothini sebagaimana apa adanya ia dan tidak menghakiminya. Bahkan, lebih dari itu mentransformasikan dirinya menjadi seorang Pengabar Injil yang jejaknya nyata hingga kini. Sejarah Alkitab juga mencatat peran janda-janda sebagai teladan, sebut saja Rahab yang juga dikenal sebagai perempuan pemilik penginapan/penghibur namun disebut dalam silsilah Yesus (Matius 1:5), Rut, Janda di Sarfat, dll. Oleh karena itu, marilah kita melihat sosok janda sebagaimana adanya dia tanpa mencoba menghakimi, karena Yesus sendiri tidak menghakimi seorang Pothini. 

Marilah kita memandang sesama kita, siapapun dia berdasarkan firman TUHAN, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.  Sabarlah kamu seorang  terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.  Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang   menyempurnakan.” [Kolose 3: 12-14]. Yesus berbuat demikian, maka demikian juga hendaknya kita melakukan hal yang sama terhadap sesama, lepas dari status sosial yang disandangnya.

 

Pdt. Sri Yuliana, M.Th.