Pdt. Nirmala Sinaga: Sahabat Buruh Migran, Lansia dan Para Janda

Pdt. Nirmala Sinaga: Sahabat Buruh Migran, Lansia dan Para Janda

 

Siapa bilang jalan hidup pengikut Kristus selalu cerah, tanpa mendung dan hujan? Siapa yang berani menyebut hidup seorang Kristen aman, tentram tanpa pergumulan? Pergumulan dan tantangan hidup justru bagaikan teman dalam perjalanan hidup Pdt. Nirmala Sinaga. Saat lulus sekolah teologi Nirmala menolak panggilan menjadi pendeta. “Saya menolak menjadi pendeta, karena kehidupan seorang pendeta pasti miskin,”kata Nirmala. 

Lulus kuliah teologi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Nirmala enggan pulang kampung. Ia khawatir ketika pulang akan dipaksa untuk menjadi pendeta. Kerjanya tiap hari hanya membaca novel, memasak dan mengurusi dua orang adiknya yang juga kuliah di Yogyakarta. Ia juga belum berkeinginan mencari pekerjaan lain. “Saya bagaikan anak manja yang tidak ingin berjuang menghadapi hidup,”katanya. 

Setelah tiga tahun menolak panggilan kependetaan, Nirmala pulang kampung. Ternyata penyebabnya sepele. Ketika datang lebaran dan di tempat kost dan berteman dengan kue-kue kecil ia merasa kesepian. Kebetulan waktunya hampir bersamaan dengan pembukaan tes calon pendeta gerejanya, Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Mamaknya menyarankan Nirmala ikut tes tersebut.  Mamaknya ternyata selama ini selalu berdoa agar Nirmala mau menanggapi panggilan Tuhan. Nirmala dengan setengah hati menjalani tes tersebut. Harapannya, ia tidak lulus tes. Malah ia menyampaikan ke orang tuanya, begitu tes selesai ia akan pulang ke Yogya. Ia yakin tidak akan lulus tes. Namun, Tuhan berkehendak lain. Nirmala lulus dan terpilih di antara puluhan peserta tes lain. Bukannya senang, ia malah berhari-hari menangis. Ia masih mencoba menghindari panggilan pelayanan. 

Hingga akhirnya Nirmala menyadari, bahwa menjadi pendeta mungkin sudah panggilan dan pilihan dari Tuhan. Ia pun berdoa agar kalau memang Tuhan memilihnya, ia dikuatkan untuk dapat melayani dengan hati yang tulus dan sederhana. Ia memohon dijauhkan dari keinginan cinta uang, karena ia menyadari dengan memilih menjadi pendeta berarti ia siap untuk hidup dalam segala kesulitan dan kekurangan. Kepasrahan pada tuntunan Tuhan ternyata tidak berarti hidupnya nyaman tanpa hambatan. 

Nirmala menjalani masa vikariat (calon pendeta) pertama di GKPS Resort Dolokpardamean. Di tempat ini ia merasa mendapatkan dukungan penuh dari warga jemaat, sehingga ia mulai mencintai panggilannya sebagai hamba Tuhan. 

Kemudian ia dipindahtugaskan ke GKPS Resort Palembang di daerah Pangkal Pinang. Di tempat ini banyak orang meragukan, meremehkan dan bahkan sampai melecehkan, hanya karena ia calon pendeta perempuan. Di beberapa tempat, kaum laki-laki masih banyak yang belum bisa menerima perempuan menjadi Gembala mereka. “Saya merasa ditolak di tempat ini, padahal banyak warga jemaatnya berlatar belakang pendidikan tinggi dan beberapa di antaranya pejabat pemerintahannya. Tetapi saya meyakini kalau Tuhan memang memilih saya menjadi hamba-Nya, pasti Tuhan akan menguatkan saya,”katanya. 

“Mungkin mereka memandang calon pendeta perempuan memiliki fisik yang lemah. Karena di tempat ini seorang calon pendeta harus siap menimba dan mengangkat air, membersihkan rumah, membersihkan gedung gereja dan segala pekerajaan kasar lain,”lanjutnya. Di Pangkalpinang keteguhan rohani dan mental Nirmala diuji. Gaji pendeta tidak selalu lancar turun dan nilainya mungkin tidak memadai untuk hidup sehari-hari. Nirmala belajar mencukupkan diri dan makan apa yang ada di sekitarnya. 

“Setiap gaji turun, saya membeli beras, telur, indomie, dan kebutuhan dasar lainnya. Setelahnya saya berjibaku saja, bertahan hidup dari apa yang ada,”terangnya. Gajinya waktu itu sekitar tiga ratus delapan puluh ribu rupiah. Namun, Nirmala tidak pernah mengeluh dengan apa yang diterimanya. Ia yakin Tuhan akan menolongnya. 

Pada Desember 2003, Nirmala akhirnya ditahbiskan menjadi pendeta dan selanjutnya melayani di Pematang Siantar. Di tempat itu ia hanya lima setengah bulan. Karena datang tugas dari sinode untuk terlibat dalam pelayanan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), sebagai Ketua PP Nakerwan (Pusat Pelayanan Tenaga Kerja Wanita), Departemen Anak dan Perempuan PGI. 

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua PP Nakerwan, Nirmala acapkali menangani permasalahan TKW yang baru pulang dari luar negeri ataupun para buruh pabrik wanita di Batam yang hamil di luar nikah. Mereka minta pertolongan dan pendampingan. Waktu itu Nirmala masih gadis dan harus mendampingi permasalahan-permasalahan rumit seperti ini. Pengalaman ini mematangkannya. Masalah lain yang dialami para tenaga kerja perempuan ini adalah perbudakan, kekerasan, penipuan dan sebagainya. 

“Orang-orang yang meminta pertolongan ini adalah para pekerja yang berasal dari berbagai daerah, dan beragam agama,”tuturnya lebih lanjut.” Saya harus menyesuaikan diri dengan latar belakang mereka ketika memberikan pendampingan dan pertolongan.”

Ketika ia memilih calon suami sesuai pilihannya sendiri. Keluarganya yang sekarang ganti menentang. “Keluarga saya sangat menolak,”katanya. Anggapan mereka,”Mengapa engkau sudah kami sekolahkan tinggi-tinggi, malah ingin menikah dengan orang kampung, yang belum makan perguruan tinggi, belum lagi fisiknya kecil dan pendek?” Sekali lagi Nirmala teguh dengan pilihannya. Pada 2005 ia memutuskan menikah. Pilihannya ternyata tidak salah, meskipun banyak yang menentang, suaminya disebut Nirmala adalah pendukung utamanya dalam pelayanan. Suaminya menjadi penopang batin dan jiwanya saat sering merasa lemah. 

Namun, kekuatan jiwa itu tidak lama bersamanya. Justru ketika karir kependetaannya mulai terang. Menjelang wisuda paska sarjana di Universitas Kristen Satya Wacana(UKSW) Salatiga, Tuhan memanggil suaminya pulang ke surga. Suaminya meninggal di tengah impian untuk menopang pelayanan istrinya dengan merintis usaha pembuatan sepatu. Belahan jiwa meninggalkan Nirmala bersama 3 orang anak yang masih kecil. Yang terbesar kelas 4 SD, yang terkecil baru lulus TK. 

Kehilangan suami disebut Nirmala menjadi titik terendah dalam kehidupannya. Ia sempat merasa kosong dan hampa. Pernah ia marah dan bertanya kepada Tuhan. Mengapa ini terjadi?

Kesedihan yang mendalam mencoba dihapuskan Nirmala dengan menghabiskan waktunya untuk melayani Tuhan siang dan malam. Hingga ia diingatkan Tuhan melalui penyakit stroke ringan yang tiba-tiba menyerangnya. Mentalnya sempat jatuh. Namun, Tuhan yang memilihnya tetap menguatkannya bertahan. Nirmala kembali bangkit, sekarang dengan cara pandang yang baru. Ia sampaikan kepada Tuhan,”Tuhan jangan Kau tinggalkan aku dan anak-anakku.”

Sekarang ia lebih melihat hidupnya sebagai sebuah keseimbangan, antara hubungan pribadi dengan Tuhan, keluarga dan pelayanan semuanya dijalani dengan keikhlasan penuh. Sinode GKPS pun menugaskan Nirmala dengan tugas baru, menjadi pendeta kategorial untuk para lansia dan janda. 

Lama melayani Tuhan sebagai pendeta jemaat, Nirmala tidak merasa tugasnya yang sekarang lebih sederhana dan mudah. Para lansia dan janda di gereja sering di gereja hanya dianggap kaum pelengkap. Golongan yang dianggap “sudah dekat dengan surga”. Padahal banyak sekali pergumulan sehari-hari yang mereka alami, dari mulai: kesehatan, keuangan, kesepian, hubungan dengan anak dan menantu dan masih banyak lagi. Nirmala mencoba masuk sebagai  sahabat buat mereka. Orang-orang tua dan para janda yang sering sudah dilupakan oleh jemaat maupun keluarga mereka sendiri. “Cukup sering saya menghadapi kasus di mana menjelang maut menjemputpun, banyak kaum lansia yang masih belum bisa berdamai dengan anak ataupun cucunya,”tuturnya. 

Pdt. Nirmala berharap di sisa usianya, dia dapat setia melayani Tuhan dan melihat anak-anaknya hidup dalam rasa takut dan hormat kepada Tuhan. Ia menyadari tantangan zaman ini ketika digitalisasi masuk dalam setiap ruang kehidupan, anak-anak bergumul menghadapi sekularisasi di segala bidang. Ia ingin anak-anaknya terbuka dalam berkomunikasi dengannya. Ia tidak berharap akan kekayaan. Karena bagi Pdt. Nirmala hidup bahagia adalah hidup yang sejalan, satu frekuensi dengan Tuhan. Hidup bahagia adalah hidup yang menyenangkan Tuhan. “Benar seperti kata Rasul Paulus, aku bermegah dalam kesengsaraanku, aku bermegah ketika aku bergumul,”tegasnya. 

Di waktu senggangnya sekarang Pdt. Nirmala senang merawat tanaman-tanaman di sekitar dan membaca Alkitab setiap hari. Membaca Alkitab bukan sekadar karena kebutuhan pelayanan dan hobi, melainkan menjadi kebutuhan hidup. “Firman Tuhan memampukan saya bertahan dan meneguhkan hidup dan iman saya. Karena sulit bertahan dan mengendalikan diri di luar Tuhan.”