-->

Transformasi Karsa Cinta Adven 2 2023


Adven 2

Berharap dalam Kerendahan Hati

Yesaya 40:1-11; Mazmur 85:1-2; Mazmur 85:8-13;;Markus 1:1-8

Renungan Firman

Kondisi hati yang gembira akan berpengaruh terhadap cara pandang seseorang dan sikapnya pada saat merespons sesuatu hal yang terjadi di sekitarnya. Begitu pula dengan kondisi hati yang patah semangat akan turut mempengaruhi daya dirinya dalam menghadapi kenyataan hidup. Namun, bukankah merasa senang dan sedih, penuh suka dan merasa duka merupakan bagian nyata dari kehidupan yang tidak dapat dielakkan oleh satu orang manusia pun? Lantas, bagaimana kita mengelola perasaan yang justru dapat menjadi penghambat bagi diri kita sendiri dalam menjalani kehidupan, misalnya berjuang menghadapi situasi yang sangat mengganggu kenyamanan sembari mengolah diri agar tidak terpuruk dalam keputusasaan? Inilah pentingnya pengharapan bagi seorang manusia.

Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu,telah menutupi segala dosa mereka. Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala.Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.
-Mazmur 85:3-5

Umat Israel yang sedang berada di tengah pembuangan menyadari dengan sungguh bahwa kenyataan hidup yang mereka jalani saat itu merupakan bagian dari keberdosaan yang telah mereka lakukan.

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,
- Yesaya 40:1

Tentu saja, kenyataan tersebut bukanlah sebuah pengalaman yang mudah untuk dijalani. Tidak sedikit di antara mereka yang justru telah patah semangat untuk menjalani hidupnya. Namun, di tengah momen kehidupan yang seperti itulah mereka kembali teringat atas romantisnya ikatan relasi yang telah Tuhan bangun bersama mereka yang justru telah mereka ciderai dengan beragam pelanggaran dan dosa. Meski demikian, firman Tuhan yang hadir melalui mulut nabi Yesaya bagi umat yang berada di tengah pembuangan itu pun menjadi ‘pintu pengharapan’ yang terbuka lebar untuk dimasuki oleh seluruh umat. Tuhan, pihak yang tersakiti dan terkhianati dalam narasi hidup bangsa Israel, justru menjadi pihak pertama yang berinisiatif untuk memperbaiki hubungan yang tengah dirusak tersebut. Tuhan mengutus nabi-Nya untuk menghiburkan mereka dengan firman yang penuh pengharapan yang menyediakan akses untuk mengalami penebusan. Syukurnya, mereka merespons hal tersebut dengan kesediaan untuk membina diri menjadi lebih baik. Syair Mazmur 85 pun telah menjadi catatan kesaksian iman bangsa Israel yang menekankan bahwa pengharapan kepada Tuhan idealnya disertai dengan kerendahan hati untuk mengakui segala keberdosaan dan kesediaan mengorientasikan diri kepada-Nya.

Pada Minggu Adven kedua ini kita diajak untuk menghayati pengharapan dalam masa penantian kelahiran Sang Juruselamat dengan kesungguhan hati dan komitmen yang utuh sebagai umat-Nya. Pengharapan ini tidak semestinya menjadikan kita bermalas-malasan karena adanya pertolongan, keselamatan dan kelimpahan kasih yang hadir melalui Sang Juruselamat. Justru, kita perlu menghidupi pengharapan tersebut dengan daya juang iman yang selaras dengan esensi dari pengharapan di dalam Kristus. Pekerjaan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan kelahiran Sang Juruselamat pun menjadi bahan permenungan yang sangat baik bagi kita untuk memperlengkapi diri dalam berpengharapan di dalam Yesus Kristus. Pengharapan itu perlu kita kerjakan dengan persiapan kualitas hati dan diri yang semakin selaras dengan nilai-nilai firman TUHAN.


Aksi Refleksi

  • Apakah anda pernah mengalami ‘titik terendah’ atau momen-momen paling berat dalam hidup? Bagaimana anda melaluinya?
  • Apabila hal itu terjadi pada masa lalu, maka cobalah anda ingat kembali untuk memaknai pertanyaan ini: Bagaimana ‘kasih Allah’ yang anda rasakan di tengah momen berat tersebut?
  • Apakah kesulitan terbesar untuk mengimani pengharapan di dalam Kristus secara konkret?
  • Seandainya ada orang di sekitar anda yang sedang bergumul berat, bagaimana anda memberikan penguatan untuk membangkitkan semangat penuh harap pada mereka?