-->

Transformasi Karsa Cinta Adven 3 2023


Adven 3

Bersiap Menyambut Mesias Dengan Penuh Syukur

Yesaya 61:1-4; Yesaya 61:8-11; Yohanes 1:6-8; Yohanes 1:19-28

Renungan Firman

Salah satu kecenderungan yang muncul pada diri manusia adalah sulitnya mensyukuri apa yang ada pada diri mereka atau yang sudah mereka miliki. Mengapa demikian? Terdapat beberapa alasan yang marak melatarbelakangi seseorang menjadi sulit untuk bersyukur, misalnya selalu berorientasi dan terobsesi kepada kondisi hidup orang lain, serta selalu menganggap situasi hidup orang lain selalu lebih beruntung dibanding dirinya. Perhatian dan hasratnya untuk menjalani hidup tidak diarahkan pada diri sendiri melainkan pada orang lain. Alhasil, pernyataan ‘rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri’ pun menjadi muara dari pikiran dan hatinya. Itulah sebabnya, seseorang menjadi sulit untuk bersyukur atas apa yang sudah ada pada dirinya karena menganggap semua itu tidaklah sebanding dengan apa yang ia inginkan seperti yang dimiliki oleh orang lain. Tentu saja hal ini adalah sebuah kecenderungan yang tidak sehat bagi perkembangan karakter seseorang karena ia hanya akan terus terobsesi untuk menjalani hidup orang lain dan melupakan kenyataan dirinya sebagai personal. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing dengan segala proses yang sangat

Berita pembebasan yang disampaikan oleh nabi Yesaya pun menjadi sebuah peristiwa melegakan yang sepatutnya membangkitkan sukacita dan rasa syukur pada diri umat. Hal ini terjadi bukan karena mereka akan memiliki hal yang dimiliki oleh bangsa lainnya. Berita pembebasan itu justru mengajak umat untuk semakin peka terhadap kondisi diri mereka.

Sebab Aku, Tuhan, mencintai hukum, dan membenci perampasan dan kecurangan; Aku akan memberi upahmu dengan tepat, dan akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu.
- Yesaya 61:8
Secara spesifik, pembebasan yang akan TUHAN hadirkan bukan justru menjadikan mereka menjadi ‘lupa daratan’ hingga dapat berlaku sesuka hati. Malahan berita pembebasan yang disampaikan oleh nabi Yesaya mengajak orang Israel untuk memperhatikan kualitas hidup mereka, khususnya terkait hidup beriman sebagai umat TUHAN yang selama ini telah terbengkalai. Itulah mengapa, segala luapan potensi kesukacitaan yang tertuang pada ayat 1-4 ditindaklanjuti dengan pernyataan yang cukup keras dari TUHAN agar orang Israel dapat dengan sungguh-sungguh memperhatikan kualitas hidup mereka.

Kesukacitaan seringkali dimaknai sebagai luapan perasaan untuk menikmati hidup secara narsis, dimana seseorang yang merasakannya hanya berfokus kepada keinginan dan kenikmatan dirinya sendiri. Padahal, berdasarkan permenungan firman TUHAN ini kita justru mendapati bahwa kesukacitaan menghadirkan peningkatan kualitas hidup dengan proses pembentukan diri yang evaluatif. Itulah mengapa, bersyukur dan bersukacita menjadi semacam hubungan aksi-reaksi yang terjadi pada diri seorang manusia. Bersukacita, yang tulus, tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya perasaan bersyukur pada diri si manusia tersebut. Begitu pula sebuah ungkapan syukur tidak mungkin tidak disertai oleh kesukacitaan pada orang yang melakukannya.

Perkataan nabi Yesaya telah menunjukkan bahwa kesukacitaan dari berita pembebasan yang akan diberikan oleh TUHAN bagi orang Israel tidaklah serta-merta membuat mereka menjadi narsis dan egois dalam menjalani hidup pasca pergumulan berat. Justru, mereka diingatkan atas perlunya memberikan respons yang mengusahakan peningkatan kualitas hidup beriman yang efektif dan selaras dengan nilai-nilai firman TUHAN. Hal ini pula yang telah muncul dari karya pemberitaan Yohanes Pembaptis, bahwa kabar sukacita akan hadirnya Sang Juruselamat perlu ditindaklanjuti dengan pertobatan. Kesukacitaan atas hadirnya Sang Mesias tidak justru menjadikan umat menjadi lengah terhadap kuasa dosa dan bermalas-malasan sembari berlaku narsis, melainkan mereka semakin dituntut untuk menghadirkan respons nyata sebagai wujud syukur atas kesukacitaan tersebut. Pada minggu Adven ketiga ini kita pun diajak untuk bersukacita dalam menyambut kelahiran Sang Mesias dengan diiringi oleh kesadaran untuk membangun sikap hidup yang penuh syukur, yang penuh kesadaran atas segala hal yang telah kita miliki dan berusaha untuk menghasilkan kualitas hidup yang selaras dengan nilai-nilai firman TUHAN.


Aksi Refleksi

  • Buatlah daftar peristiwa/momen/hal yang sudah terjadi yang semestinya membuat anda bersyukur kepada TUHAN?
  • Renungkanlah pertanyaan ini: Apakah saya lebih sering bersyukur atau bersungut-sungut kepada TUHAN? Kenapa hal itu terjadi?
  • Apa saja hambatan untuk bersyukur kepada TUHAN?