-->

Transformasi Karsa Cinta Natal 2023


Hari Natal

Transformasi Dalam Kesukacitaan Natal

Yesaya 62:6-12; Lukas 2:1-20

Renungan Firman

Berita mengenai kelahiran sang Juruselamat merupakan sesuatu yang sangat dinantikan oleh seluruh orang Israel. Di dalam tradisi nubuatan Mesianik, pesan-pesan akan hadirnya sang Mesias sudah mengakar dalam ingatan para orang Israel. Maklum saja, sejak kehadiran para nabi yang menubuatkan hal tersebut, kondisi bangsa Israel memang berulang kali berada dalam kepemimpinan bangsa asing. Mereka tidak pernah sepenuhnya bebas dan terlepas dari intervensi bangsa asing. Meski demikian, penyertaan dari TUHAN bukanlah menjadi tidak berlaku atau tidak hadir dalam kehidupan mereka. Namun, faktor itu jugalah yang membuat nubuatan Mesianik menjadi benar-benar mengakar dalam pemahaman orang Israel hingga menimbulkan kerinduan yang sangat besar pada diri mereka untuk menyambut kehadiran Sang Juruselamat. Perkataan nabi Yesaya pun telah menggambarkan mengenai kesukacitaan dalam penyambutan terhadap hadirnya Sang Mesias.

Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa! Sebab inilah yang telah diperdengarkan Tuhan sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang; sesungguhnya, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.
- Yesaya 62:10-11

Kesukacitaan untuk menyambut kehadiran Sang Juruselamat pun mewujud pada seluruh individu dengan segala status dan posisi mereka di tengah masyarakat. Cuplikan Injil Lukas 2:8-20 ini pun menjadi salah satu bukti mengenai kesukacitaan yang dialami oleh kelompok yang tidak dianggap atau paling tidak dipandang rendah di tengah sistem masyarakat pada masa itu. Kelompok gembala pada perikop ini hanyalah sekumpulan dari golongan masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki kuasa dan harta. Namun, kehadiran Malaikat Tuhan kepada mereka untuk memberikan kelahiran Sang Juruselamat merupakan bentuk sapaan Sang Ilahi bahwa pengharapan dan kesukacitaan Natal merupakan hak setiap orang, termasuk para gembala yang hidup dapat kerentanan.

Hal lain yang sangat menarik yang muncul dari perikop ini adalah mengenai perubahan perasaan yang terjadi pada diri gembala tersebut. Mereka yang sebelumnya mengalami ketakutan pun berubah menjadi penuh sukacita pasca perjumpaan dengan Sang Bayi Natal. Kesukacitaan dari pengalaman berjumpa dengan Sang Juruselamat telah menghadirkan pemberdayaan pada diri para gembala.

Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
- Lukas 2:920
Perjumpaan itu tidak hanya menjadi penggenapan atas segala berita nubuatan mesianik yang telah mereka dengarkan selama ini, melainkan telah menjadi sapaan Ilahi yang sangat personal yang telah mampu mengubahkan kehidupan mereka secara total.

Pada hari ini seluruh umat TUHAN merayakan sebuah peristiwa besar dalam bagian sejarah perjalanan kehidupan, yakni kelahiran Sang Juruselamat yang menghadirkan pembaruan dalam kehidupan. Kelahiran-Nya tidak sekadar penggenapan sebuah pesan yang telah lama disampaikan, melainkan menghadirkan transformasi yang nyata. Hal ini pula yang semestinya menjadi bagian dari setiap umat TUHAN yang merayakan Natal. Dengan kata lain, perayaan Natal tidak semestinya bermuara pada hiruk-pikuk pesta maupun luapan euforia sementara. Justru, perayaan Natal idealnya menjadi tanda dari hari setiap pribadi yang mengalami transformasi oleh kelahiran Sang Yesus Kristus, seperti kesukacitaan yang muncul pada diri para gembala yang telah bertransformasi pasca perjumpaan dengan Sang Bayi Natal.

Sungguh disayangkan jikalau perayaan Natal hanya menjadi rutinitas yang minim makna yang justru terjebak pada pernak-pernik formalitas belaka. Bahkan, sungguh amat disayangkan jikalau banyak umat TUHAN yang justru terjebak pada kecanduan ‘nuansa’ dekorasi ruangan, entah di gereja, rumah, maupun fasilitas umum, untuk menghadirkan kesukacitaan Natal.

Tentu saja, kesukacitaan yang demikian bukanlah menjadi luapan dari esensi utama momen Natal itu sendiri. Kesukacitaan Natal selalu muncul dari hati yang diberdayakan oleh kehadiran Kristus di dalam dirinya. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya tidak sedikit umat TUHAN yang juga sedang bergumul berat pada perayaan Natal yang membuat mereka justru menghadapi kesulitan yang teramat besar untuk merasakan kesukacitaan Natal. Pesan ini pun tidak justru mendiskreditkan mereka. Justru, esensi kesukacitaan Natal yang mentransformasi dan memberdayakan inilah yang menjadi undangan bagi para hati yang gundah untuk menerima dampak dari kelahiran Sang Juruselamat.


Aksi Refleksi

  • Sudah berapa kali anda merayakan Natal hingga hari ini?
  • Seberapa banyak anda merayakan Natal dengan kesadaran dan keyakinan penuh bahwa anda telah mengalami perubahan di dalam Kristus?
  • Apakah anda merasa telah menjadi pribadi yang berdaya oleh kehadiran Kristus di dalam kehidupan anda?