TB 2 Bible Translation Seminar.
Since the launch of the TB 2 Bible in 2023, there has been a wide range of responses from the congregation to the Indonesian Bible Society (LAI). Among the responses received, there is a hint of confusion and even doubt from some. Therefore, LAI remains open to responding to the congregation's desire to learn about the urgency of updating the TB 2 Bible. Over the past two years, LAI has conducted outreach and outreach to churches, synods, and the general congregation, through worship services and seminars. On this occasion, Rev. Anwar Tjen, Ph.D., head of the LAI Translation Department, once again shared information about the TB 2 Bible. Rev. Anwar also addressed several aspects of the renewal process, such as: the development of recipient languages, the discovery of ancient manuscripts, and the development of biblical scholarship (Bible research). He occasionally cracked relevant jokes about the absurdity that would occur if Bible readers misunderstood the meaning of the text because words or phrases contained in the Bible were unfamiliar to today's readers.
Bahasa Indonesia telah banyak mengalami perkembangan. Ada banyak kata yang mengalami pergeseran makna. Sebagai contoh, dalam teks Alkitab TB 1974 tertera kata 'ganja' sebagai padanan untuk tiang pada bangunan. Kata ‘ganja’ sendiri merupakan bahasa indonesia yang berasal dari serapan bahasa jawa. Selain itu, ada juga kata ‘gantang’ yang ternyata berarti tempayan. Masih banyak lagi contoh dari perbedaan kata atau frasa yang lazim digunakan tahun 70an, tetapi terasa aneh jika digunakan pada zaman sekarang. Misalnya, dalam kitab 2 Raja-raja tertulis: 'Roh Elia telah hinggap pada Elisa'. Kalimat ini sangat mudah disalahpahami, oleh karena itu dalam Alkitab TB 2 kata ‘Roh Elia’ diganti menjadi ‘Kuasa Elia’. Sehingga berbunyi demikian: ‘Kuasa Elia telah pindah pada Elisa’. Kata roh dalam konteks ayat ini sebenarnya ingin membahas tentang kuasa, atau seperti kekuatan yang tidak terlihat. Hal ini identik dengan Elia yang akan mewariskan kuasa kepada Elisa.
Semakin banyak informasi yang disampaikan, peserta terheran-heran bahkan terkejut mengetahui banyaknya hal baru yang terkait konteks dalam memahami Alkitab. Pembahasan mengenai penyakit kusta juga menjadi bahasan yang tak kalah seru di sini. Ternyata dalam beberapa ayat, makna dari kata kusta tidaklah sama. Ada kalanya yang dimaksud adalah penyakit kulit seperti kudis, kadang juga hansen, bahkan kadang yang dimaksud adalah penyakit/jamur yang menempel pada pakaian. Jadi akan terasa aneh bukan? Pada intinya, sesungguhnya penulis kitab pada masa lalu hendak menyampaikan tentang penyakit kulit yang menajiskan.
Seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab yang melibatkan peserta. Peserta sangat antusias dan banyak diantara mereka yang tak ingin melewatkan kesempatan saat moderator mulai menyampaikan “Apakah ada yang bertanya?”
Sebagai penutup, Pdt. Anwar tak melewatkan kesempatan untuk mengutarakan rasa syukurnya atas kehadiran Alkitab TB2. Ia juga bersaksi bahwa hingga banyak suku di Indonesia yang hidup tanpa landasan dan bimbingan Firman Tuhan, tetapi kini mereka dapat memiliki peradaban yang lebih baik. Beliau mengenang salah seorang yang telah membaca hasil terjemahan Alkitab dalam bahasa indonesia dan bahasa daerah, orang tersebut menyampaikan: 'Kalau bukan Karena Injil, masih banyak Kanibal berkeliaran.'

























