“LANGIT DAN BUMI YANG BARU”: KAPAN DAN DI MANA?

Artikel | 6 Jan 2026

“LANGIT DAN BUMI YANG BARU”: KAPAN DAN DI MANA?


Bincang Alkitab | Hortensius Mandaru, SSL.

 

Memasuki tahun yang baru, banyak orang membangun kembali mimpi, harapan, dan tujuan hidup. Kebaruan tahun sering kali dipahami sebagai kesempatan untuk memperbaiki yang belum tercapai dan merancang arah hidup yang lebih baik. Dalam semangat itulah tema “langit dan bumi yang baru” menjadi relevan, bukan sekadar sebagai wacana eskatologis tentang masa depan, melainkan sebagai horizon iman yang memberi arah bagi kehidupan umat Kristen di masa kini.

 

Tema ini kerap menimbulkan diskusi yang panjang: Apa yang dimaksud dengan langit dan bumi yang baru? Mengapa itu perlu? Kapan dan di mana hal itu terjadi? Kitab Wahyu, sebagai kitab terakhir dalam kanon Alkitab, menjadi teks kunci untuk membicarakan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Menariknya, pembahasan tentang “yang baru” justru diletakkan di awal tahun, agar pengharapan eskatologis tidak melayang jauh ke masa depan, melainkan ditarik kembali ke bumi, menjadi titik berangkat bagi peziarahan iman dalam keseharian.

 

Wahyu 21:1–5: Penglihatan, Penafsiran, dan Konfirmasi

Ungkapan “langit yang baru dan bumi yang baru” secara eksplisit muncul dalam Wahyu 21:1-5. Yohanes melaporkan apa yang ia lihat dan dengar: pertama, sebuah penglihatan tentang langit yang baru dan bumi yang baru; kedua, suara dari takhta yang menafsirkan makna penglihatan itu; dan ketiga, konfirmasi langsung dari Allah yang duduk di atas takhta: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!”

 

Struktur ini khas sastra apokaliptik. Penglihatan tidak berdiri sendiri, tetapi memerlukan penafsiran dari makhluk surgawi, yang kemudian diteguhkan oleh firman Allah sendiri. Dengan demikian, makna penglihatan Yohanes tidak dibiarkan ambigu: kebaruan langit dan bumi adalah tindakan Allah sendiri, yang tidak perlu diragukan.

 

Dari Nubuat ke Pewahyuan: Langit dan Bumi Baru dalam Yesaya

Gambaran langit dan bumi yang baru berakar kuat dalam nubuat Perjanjian Lama, khususnya Yesaya 65-66. Yesaya 65:17 menggunakan verba בָּרָא (bārāʾ), “menciptakan”, sementara Yesaya 66:22 memakai עָשָׂה (ʿāsāh), “membuat” atau “menjadikan”. Perbedaan ini memperkaya pemahaman tentang kebaruan: bukan hanya penciptaan dari ketiadaan, tetapi juga karya Allah yang berkelanjutan dalam menyempurnakan ciptaan-Nya.

 

Dalam konteks Yesaya, “yang lama” menunjuk pada penderitaan dan trauma pembuangan, yang tidak lagi diingat karena Allah membawa pembebasan. Wahyu mengadopsi bahasa ini untuk menunjuk pada ciptaan lama yang “berlalu”, tanpa menjelaskan secara rinci bagaimana proses kepergiannya.

 

‘Baru’ sebagai Kontinuitas dan Transformasi

Dalam bahasa Yunani terdapat dua istilah untuk “baru”: καινός (kainós) dan νέος (néos). Wahyu memakai kainós, yang menekankan kebaruan dalam kualitas, bukan sekadar kronologi. Namun, kebaruan ini tidak berarti penggantian total tanpa kesinambungan. Seperti seseorang yang tetap sama tetapi menerima nama baru, demikian pula ciptaan: ada kontinuitas di tengah transformasi.

 

Analogi “nyanyian baru” dalam Mazmur menolong pemahaman ini. Melodi dasarnya tetap, tetapi syairnya diperbarui sesuai dengan pengalaman baru akan karya Allah. Demikian pula langit dan bumi yang baru: bukan pemusnahan total ciptaan, melainkan pembaruan yang menyingkapkan kepenuhan maksud Allah.

 

Ragam Pandangan tentang Akhir Dunia

Baik dalam Yudaisme sezaman maupun dalam Perjanjian Baru, terdapat beragam pandangan tentang bagaimana dunia ini berakhir. Sebagian teks menekankan destruksi total, sementara yang lain menonjolkan transformasi dan pemurnian. Yesaya 51:6 berbicara tentang langit yang lenyap seperti asap dan bumi yang usang seperti pakaian. Matius 24:29 menggambarkan kegoncangan kosmis, dan 2 Petrus 3:10-13 menekankan peran api sebagai sarana pemurnian.

 

Namun, Kitab Wahyu sendiri tidak menggambarkan penghancuran bumi secara total oleh api. Api terutama dikaitkan dengan penghakiman atas kejahatan (setan, maut, dan kuasa jahat) bukan dengan pemusnahan ciptaan itu sendiri. Fokus Wahyu bukan pada mekanisme akhir dunia, melainkan pada kepastian bahwa ciptaan lama berakhir dan kebaruan Allah dinyatakan.

 

Laut yang Tidak Ada Lagi

Pernyataan bahwa “laut tidak ada lagi” (Wahyu 21:1) mengandung makna simbolis yang kaya. Dalam tradisi Alkitab, laut sering dikaitkan dengan kekacauan, bahaya, dan kematian. Dengan meniadakan laut, Wahyu menegaskan berakhirnya kekacauan dan maut.

 

Selain itu, laut juga dapat dibaca sebagai simbol kekuasaan imperium Romawi, kekuatan maritim yang menopang dominasi ekonomi dan eksploitasi. Dengan demikian, ketiadaan laut menandakan runtuhnya sistem penindasan dan lahirnya tatanan baru yang bebas dari dominasi imperial.

 

Yerusalem Baru: Allah Berkemah di Tengah Manusia

Puncak kebaruan dalam Wahyu 21 bukan sekadar langit dan bumi yang baru, melainkan Yerusalem Baru yang turun dari surga. Kota ini kudus bukan karena bait buatan manusia, melainkan karena Allah dan Anak Domba sendiri hadir dan berdiam di tengah umat.

 

Gambaran ini berakar pada Yehezkiel dan tradisi perjanjian: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Relasi Allah dan manusia digambarkan dengan bahasa pernikahan yang didalamnya terdapat kesetiaan dan komitmen, yang dikontraskan dengan Roma atau Babel sebagai “pelacur besar”, simbol kemerosotan moral dan penyalahgunaan kuasa.

 

Eskatologi sebagai Panggilan Etis

Wahyu tidak menawarkan eskapisme rohani. Langit dan bumi yang baru berbicara tentang bumi ini dan segala isinya, bukan pelarian ke realitas surgawi yang jauh. Dengan menolak dualisme gnostik yang meremehkan yang jasmani, Wahyu menegaskan nilai ciptaan, budaya, dan peradaban.

 

Firdaus dalam Wahyu bukan sekadar taman, tetapi kota, simbol budaya, teknologi, dan kehidupan bersama. Yang ditolak bukan kota itu sendiri, melainkan budaya Babel dan Roma yang menindas. Yang dihadirkan adalah budaya Anak Domba: kesaksian, keadilan, dan kehidupan bersama.

 

Penutup

Alkitab dimulai dengan Allah yang menyediakan taman bagi manusia dan berakhir dengan Allah yang menurunkan sebuah kota untuk didiami bersama seluruh umat manusia. Visi Yohanes tentang langit dan bumi yang baru adalah undangan bagi umat beriman untuk menjadikan bumi ini rumah bersama, tempat menghadirkan tanda-tanda Firdaus di sini dan sekarang.

 

Dengan demikian, pertanyaan “kapan dan di mana” langit dan bumi yang baru tidak dijawab semata-mata secara kronologis, melainkan secara teologis dan etis: kebaruan itu berasal dari Allah, menuju kepenuhannya di masa depan, dan mulai dihadirkan dalam kehidupan umat pada masa kini.


Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia