Tanya Jawab Seputar Alkitab dan LAI

Artikel | 6 Jan 2026

Tanya Jawab Seputar Alkitab dan LAI


Q&A | Bincang Alkitab | Pdt. Anwar Tjen, Ph.D.

 

Pertanyaan 1

Mengapa Tuhan mengizinkan hal-hal buruk menimpa manusia, seperti genosida, penyakit, dan bencana alam?

 

Jawaban:

Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan teologis paling mendasar dan luas dalam tradisi iman Kristen. Alkitab sendiri tidak berbicara dengan satu suara tunggal mengenai penderitaan. Kitab Kejadian menegaskan bahwa dunia, ketika diciptakan, berada dalam keadaan טוֹב (ṭôḇ), “sungguh amat baik” (Kejadian 1). Namun, sejak Kejadian 3, dunia yang baik itu mulai mengalami keretakan: relasi manusia dengan Allah, sesama, dan ciptaan terganggu, yang kemudian berlanjut pada kekerasan antarmanusia dan bencana besar seperti air bah.

 

Sering kali kesalahan atas penderitaan dilemparkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta, padahal Alkitab juga menegaskan bahwa manusia sejak awal menerima mandat untuk mengelola dan merawat ciptaan. Dalam banyak kasus, termasuk genosida, manusia jelas merupakan pelaku langsung. Untuk bencana alam, pertanyaannya menjadi lebih kompleks, karena menyentuh isu apakah dunia ini telah “selesai” diciptakan atau masih berada dalam proses yang terus berlangsung, dengan manusia sebagai mitra Allah yang bertanggung jawab di dalamnya.

 

Alkitab sendiri menampilkan keragaman pendekatan. Kitab Ulangan menekankan hubungan sebab-akibat yang tegas: ketidaktaatan manusia membawa malapetaka. Kitab Amsal merumuskan keteraturan moral kehidupan, meskipun sebagai peribahasa ia tidak dimaksudkan berlaku mutlak. Sebaliknya, kitab Ayub dan Pengkhotbah menggugat keteraturan itu dan mempertanyakan hubungan langsung antara penderitaan dan kehendak Allah.

 

Dalam konteks ini, Alkitab tidak selalu memberi jawaban atas pertanyaan “mengapa”, tetapi mendorong manusia untuk merespons penderitaan melalui tanggung jawab etis dan tindakan nyata. Puncak respons Allah terhadap penderitaan terlihat dalam salib Kristus: Allah tidak tinggal sebagai penonton, melainkan masuk ke dalam penderitaan manusia secara paling radikal. Karena itu, pertanyaan tentang penderitaan tidak dapat dijawab secara simplistik, melainkan harus dipahami dalam kerangka kesaksian Alkitab yang kaya dan beragam.

 

Pertanyaan 2

Apakah akan ada versi Alkitab yang lebih baru setelah Terjemahan Baru 2 (TB2), dan apakah akan tersedia dalam bentuk elektronik atau desktop?

 

Jawaban:

Alkitab Terjemahan Baru 2 resmi diluncurkan pada 9 Februari 2023 dan peluncuran tersebut menandai sebuah awal, bukan akhir. Diperlukan waktu agar TB2 dapat tersebar luas dan digunakan oleh gereja-gereja serta umat Kristen di seluruh Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil. Karena itu, prioritas awal adalah penyebaran versi cetak.

 

Terkait versi elektronik, LAI mempertimbangkannya dengan cermat dan akan menentukan waktu yang tepat untuk penerbitannya. Mengenai penamaan, TB2 disebut sebagai “edisi kedua” dengan kesadaran bahwa pada masa mendatang akan ada edisi-edisi berikutnya. LAI tidak bermaksud memperbarui terjemahan ini dalam waktu dekat; proses pembaruan biasanya memerlukan rentang waktu yang panjang, bahkan hingga setengah abad.

 

Sementara itu, umat diajak untuk turut mencermati teks TB2. Jika ditemukan kesalahan cetak atau hal teknis lainnya, masukan tersebut dapat disampaikan kepada LAI dan akan disimpan sebagai bagian dari data evaluasi.

 

Pertanyaan 3

Bagaimana menanggapi tuduhan bahwa Alkitab, khususnya TB2, sudah tidak asli lagi?

 

Jawaban:

Tuduhan semacam ini muncul dari perbedaan pemahaman antaragama mengenai konsep kitab suci. Dalam tradisi Kristen, teks-teks sumber Alkitab—bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani—tersedia dan menjadi dasar setiap penerjemahan. Terjemahan tidak dimaksudkan untuk menggantikan teks sumber, melainkan menjembatani pesan Firman agar dapat dipahami umat lintas zaman dan bahasa.

 

Sejak awal sejarah gereja, penerjemahan telah menjadi bagian integral kehidupan iman, sebagaimana terlihat dalam Septuaginta yang digunakan oleh para penulis Perjanjian Baru. Oleh karena itu, penerjemahan bukanlah penyimpangan, melainkan sarana pewartaan. LAI berkomitmen menerjemahkan Alkitab berdasarkan naskah-naskah sumber, melalui tim ahli yang memiliki kompetensi akademik tinggi dalam bidang biblika dan linguistik.

 

Keberadaan berbagai terjemahan, termasuk terjemahan untuk anak-anak seperti Kabar Baik untuk Anak (KBUA), menunjukkan bahwa penerjemahan justru memperjelas makna, bukan mengaburkannya. Pada akhirnya, iman Kristen meyakini bahwa Allah sendiri telah “menerjemahkan diri-Nya” melalui inkarnasi Kristus. Inilah dasar teologis terpenting dari karya penerjemahan Alkitab.

 

Pertanyaan 4

Dalam 1 Tawarikh 26:28, mengapa istilah ‘bin’ diterjemahkan sebagai ‘anak’?

 

Jawaban:

Dalam teks Ibrani, istilah yang digunakan memang sama, yakni בֶּן (ben). Namun, penerjemahan dipengaruhi oleh konteks nama צְרוּיָה (Ṣərûyāh: Zeruyah), yang secara linguistik dapat dipahami sebagai nama perempuan. Dalam tradisi silsilah Ibrani, istilah bin umumnya merujuk pada hubungan dengan ayah. Karena terdapat ambiguitas mengenai jenis kelamin Zeruya, penerjemah memilih istilah yang lebih netral, yakni “anak”. Pilihan ini mencerminkan kehati-hatian penerjemah dalam menjaga keterbukaan makna sesuai teks sumber.

 

Pertanyaan 5

Mengapa dalam 1 Tawarikh 24:26, nama Beno tidak muncul dalam TB2, sementara muncul dalam terjemahan bahasa Inggris?

 

Jawaban:

Perbedaan ini berkaitan dengan kata בְּנוֹ (benô) dalam teks Ibrani. Secara gramatikal, kata ini dapat dibaca sebagai nama diri (“Beno”) atau sebagai frasa posesif yang berarti “anaknya”.

 

Terjemahan NIV memilih memahami benô sebagai nama, sehingga menghasilkan empat nama. Sementara TB2 bersama terjemahan lain memahami kata tersebut sebagai keterangan relasional, sehingga hanya tiga nama yang disebutkan. Kedua pilihan ini sah secara filologis dan menunjukkan bahwa penerjemahan selalu melibatkan pertimbangan kontekstual yang matang.

 

Pertanyaan 6

Apakah Alkitab bahasa daerah juga akan diperbarui seperti TB2, dan apa keistimewaan Alkitab dibanding kitab suci agama lain?

 

Jawaban:

Tentang “keistimewaan” Alkitab

Menilai mana kitab suci yang “lebih istimewa” bukanlah hal yang mudah, karena setiap tradisi keagamaan memiliki cara dan standar sendiri dalam memperlakukan teks sucinya. Oleh sebab itu, penjelasan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan Alkitab dengan kitab suci agama lain, melainkan untuk menerangkan bagaimana proses penerjemahan Alkitab dilakukan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

 

LAI sebagai perpanjangan tangan gereja

Sejak berdiri pada 9 Februari 1954, LAI memahami dirinya bukan sekadar sebagai penerbit, melainkan sebagai perpanjangan tangan gereja-gereja di Indonesia dalam tugas penerjemahan dan penerbitan Alkitab. Karena itu, setiap terjemahan, termasuk Alkitab bahasa daerah, dikerjakan dalam kerangka pelayanan gerejawi dan untuk kepentingan umat.

 

Kerja tim yang kolektif dan interdisipliner

Penerjemahan Alkitab di LAI selalu dilakukan secara kolektif. Tim penerjemah terdiri dari para pendeta dan teolog dengan latar belakang studi biblika, sedapat mungkin berpendidikan strata ketiga (S3), yang memiliki kemampuan membaca teks-teks sumber dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani. Dalam proses ini, perbedaan penafsiran justru menjadi sarana saling menguji dan mempertajam pemahaman, sejalan dengan prinsip “besi menajamkan besi” (Amsal 27:17).

 

Selain ahli biblika, LAI juga melibatkan pakar bahasa dan khususnya dalam penerjemahan Alkitab bahasa daerah, para pemerhati budaya setempat. Keterlibatan ini penting agar terjemahan setia pada teks sumber sekaligus dapat dipahami secara wajar dalam konteks budaya penerima.

 

Konsultasi Regional dan Nasional

Setiap terjemahan diuji melalui proses konsultasi berlapis. Dalam pembaruan Terjemahan Baru, LAI menyelenggarakan enam konsultasi regional yang kemudian dilanjutkan dengan satu konsultasi nasional di Caringin, Jawa Barat. Konsultasi nasional ini melibatkan para uskup, pimpinan sinode, serta pimpinan organisasi gerejawi aras nasional dari berbagai tradisi dan denominasi.

 

Masukan dari berbagai kalangan (akademik, pastoral, dan jemaat) dipertimbangkan secara serius. Proses ini menunjukkan bahwa penerjemahan Alkitab tidak dikerjakan secara tergesa-gesa, melainkan melalui dialog panjang dan mendalam.

 

Terjemahan sebagai karya bersama umat

Karena dikerjakan secara kolektif, terjemahan Alkitab tidak pernah dilekatkan pada nama pribadi tertentu. Tidak ada terjemahan atas nama individu. Setiap penerjemah, termasuk pimpinan tim, bekerja sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas. Keistimewaan proses ini terletak pada keseriusan, keterbukaan, dan tanggung jawab bersama untuk meminimalkan kesalahan serta menjaga kualitas terjemahan.

 

Dengan cara inilah LAI mengupayakan agar Alkitab, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, menjadi Firman Tuhan yang dapat dibaca, dipahami, dan dihidupi secara bertanggung jawab oleh gereja dan umat di Indonesia.

 

Pertanyaan 7

Apakah Alkitab menganut geosentrisme atau heliosentrisme?

 

Jawaban:

Alkitab menggunakan bahasa pengalaman manusia sehari-hari, yang mencerminkan pemahaman kosmologis pada zamannya. Bahasa seperti “matahari terbit” dan “matahari terbenam” masih digunakan hingga kini, meskipun secara ilmiah kita memahami gerak bumi mengelilingi matahari. Alkitab tidak dimaksudkan sebagai buku sains, melainkan sebagai kesaksian iman tentang Allah Sang Pencipta. Karena itu, Alkitab dan ilmu pengetahuan perlu ditempatkan pada koridor masing-masing, sehingga keduanya dapat berdialog secara sehat.

 

Pertanyaan 8

Teks apa yang digunakan sebagai dasar penerjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

 

Jawaban:

Perjanjian Lama pada umumnya diterjemahkan dari teks Masoret, khususnya Codex Leningrad. Septuaginta digunakan sebagai rujukan tambahan pada bagian-bagian yang sulit atau kabur. Untuk Perjanjian Baru, penerjemahan didasarkan pada kompilasi ribuan naskah Yunani kuno serta kutipan para Bapa Gereja, yang dianalisis dengan metode filologi modern dan teknologi digital. Semua pertimbangan penerjemahan selalu kembali pada teks-teks kuno, bukan pada terjemahan modern semata.

 

Pertanyaan 9

Mengapa Matius 27:28 dalam TB2 diterjemahkan ‘jubah merah’, sementara Injil Markus menyebut ‘jubah ungu’?

 

Jawaban:

Perbedaan ini bersumber dari istilah Yunani yang digunakan. Injil Matius memakai kata κοκκίνος (kokkínos), yang menunjuk pada warna merah tua, sedangkan Injil Markus menggunakan πορφύρα (porphýra), yang mencakup spektrum warna ungu hingga merah keunguan. TB2 memilih menerjemahkan sesuai istilah masing-masing teks sumber, sehingga perbedaan ini mencerminkan ketepatan terhadap bahasa Yunani, bukan pertentangan makna.


Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia