HERMENEUTIKA TRAUMA

Artikel | 16 Okt 2026

HERMENEUTIKA TRAUMA


Narasumber: Prof. Pdt. Septemmy E. Lakawa, Th.D.

Editor: Vince Ellysabeth

 

Trauma tidak selalu berakhir ketika peristiwa yang menyebabkannya telah berlalu. Pengalaman traumatis dapat menetap dalam ingatan, memengaruhi kondisi fisik dan mental, bahkan mengubah cara seseorang memahami dirinya dan membangun hubungan dengan orang lain. Trauma juga tidak terbatas pada pengalaman individual, tetapi dapat dialami secara kolektif akibat kekerasan, kecelakaan, prosedur medis, maupun stigma sosial. Persoalannya, bagaimana teologi memahami pengalaman penderitaan yang tidak kunjung terselesaikan tersebut? Melalui pendekatan Hermeneutika Trauma, Prof. Pdt. Septemmy E. Lakawa, Th.D. menawarkan cara membaca Alkitab yang menempatkan pengalaman trauma sebagai perspektif penafsiran, sekaligus membuka kemungkinan bagi konstruksi teologi yang berorientasi pada pemulihan.

 

Dalam perkembangannya, studi trauma melibatkan sejumlah pemikir dengan penekanan yang berbeda. Sigmund Freud memahami trauma melalui pendekatan psikologis, sedangkan Cathy Caruth mengembangkan perspektif tersebut untuk membaca kembali sejarah dan mendefinisikan trauma sebagai suara luka. Judith Herman memandang trauma sebagai peristiwa yang mengancam kehidupan. Sementara itu, Shelly Rambo, teolog yang mengembangkan studi trauma di Boston University, memahami trauma sebagai penderitaan yang tidak kunjung pergi atau penderitaan yang masih tersisa.

 

Menurut Rambo, trauma menghadirkan tantangan terhadap konstruksi teologi yang cenderung mengabaikan atau menghapus luka. Kecenderungan tersebut berhadapan dengan kenyataan bahwa pengalaman traumatis dapat terus memengaruhi kehidupan seseorang, sekalipun peristiwa yang menyebabkannya telah berlalu. Karena itu, teologi perlu memberikan ruang bagi pengalaman penderitaan yang belum terselesaikan, bukan semata-mata menekankan kesembuhan sebagai akhir dari seluruh pergumulan manusia.

 

Hermeneutika Trauma dan Rekonstruksi Makna

Hermeneutika pada dasarnya merupakan proses pemaknaan terhadap realitas. Dalam perspektif trauma, proses tersebut dilakukan dengan mendialogkan pengalaman masa lalu dan masa kini melalui pendekatan yang bersifat multidimensional, multiarah, dan interdisipliner. Salah satu contoh pengembangannya dalam studi biblika dapat ditemukan pada karya yang disunting oleh Boase dan Frechette. Hermeneutika trauma tidak hanya memanfaatkan kajian teologi, tetapi juga studi trauma, konteks sosial-historis, seni, dan berbagai disiplin lainnya.

 

Salah satu persoalan mendasar dalam pengalaman traumatis adalah terganggunya kemampuan seseorang untuk menyusun kembali ingatan dan menuturkan pengalamannya. Pemikiran filsuf Judith Butler memperlihatkan bahwa tidak semua peristiwa dapat segera dipahami atau diberi makna. Trauma justru dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan untuk memaknai pengalaman yang dialaminya. Dalam konteks tersebut, hermeneutika trauma berupaya menyediakan kerangka teologis baru agar pengalaman traumatis tidak berakhir pada kehilangan makna, tetapi membuka kemungkinan bagi proses pemulihan.

 

Pemulihan sendiri tidak dapat dipahami secara tunggal. Judith Herman mengembangkan tiga tahapan pemulihan trauma, yakni penciptaan rasa aman, pemberian ruang untuk mengingat dan menuturkan pengalaman, serta pemulihan hubungan sosial yang terputus. Ketiga tahapan ini menegaskan bahwa pemulihan membutuhkan proses yang memperhatikan dimensi psikologis, sosial, dan spiritual secara menyeluruh.

 

Hermeneutika Retak sebagai Metode Penafsiran

Dalam pengembangannya, terdapat empat model hermeneutika trauma yang ditawarkan, yaitu hermeneutika retak (hermeneutics of rupture), hermeneutika tak tertutur, hermeneutika daya lenting, dan hermeneutika yang tertinggal atau tersisa. Salah satu model yang digunakan secara khusus dalam pembacaan Markus 5 adalah hermeneutika retak.

 

Istilah rupture merujuk pada kondisi ketika sesuatu mengalami keretakan sehingga tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kata “retak” digunakan secara analogis untuk menggambarkan gangguan terhadap susunan makna yang telah dianggap mapan. Melalui keretakan tersebut, terbuka kemungkinan untuk menemukan perspektif yang sebelumnya terabaikan. Dengan demikian, hermeneutika retak berfungsi menyelidiki, mempertanyakan, dan mengganggu klaim iman maupun narasi keagamaan yang mengabaikan pengalaman trauma.

 

Pendekatan ini juga memanfaatkan konsep elision, yakni sesuatu yang tidak tersuarakan, tetapi sesungguhnya tetap hadir. Dalam penafsiran Alkitab, suara atau pengalaman yang selama ini dianggap tidak penting justru dapat menjadi perspektif utama untuk membaca keseluruhan narasi. Proses tersebut memungkinkan rekonfigurasi makna sekaligus menghasilkan pemahaman teologis yang lebih peka terhadap pengalaman kelompok yang tersisihkan.

 

Membaca Markus 5 melalui Perspektif Veronika

Sebagai penerapan hermeneutika retak, Markus 5:25-34 dapat dibaca kembali melalui pengalaman perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun. Pembacaan ini diawali dengan mempertanyakan kebiasaan mengidentifikasi tokoh tersebut berdasarkan penyakitnya. Penyebutan “perempuan yang sakit pendarahan” berpotensi melanggengkan stigma karena mereduksi identitas seseorang menjadi kondisi medis yang dialaminya.

 

Dalam suatu tradisi, perempuan tersebut dikenal dengan nama Veronika. Penggunaan nama ini bukan dimaksudkan sebagai kepastian identitas historis, melainkan sebagai upaya mengembalikan pengakuan terhadap keutuhan pribadinya. Dengan demikian, hermeneutika trauma bekerja melalui proses disorientasi, rekonfigurasi, dan destigmatisasi terhadap cara pembacaan yang telah dianggap lazim.

 

Melalui pendekatan naratif, Markus 5 dapat dipahami sebagai lanskap retak yang dibangun melalui dua unsur, yakni postur retak dan plot retak. Postur retak terlihat melalui perbandingan antara orang Gerasa yang kerasukan roh jahat dan Veronika. Orang Gerasa digambarkan bersuara nyaring, bergerak, serta berhadapan langsung dengan Yesus. Sebaliknya, Veronika mendekati Yesus dari belakang, membungkuk, dan menyentuh jubah-Nya tanpa terlebih dahulu menarik perhatian.

 

Perbedaan antara berdiri dan membungkuk, bersuara dan membisu, serta berhadapan dan membelakangi memperlihatkan kontras pengalaman kedua tokoh tersebut. Dalam perspektif hermeneutika retak, kesenyapan Veronika merupakan bagian penting dari narasi yang perlu diperhatikan. Suara yang tidak terdengar justru mengungkapkan pengalaman perempuan yang selama ini dibatasi oleh stigma sosial dan religius.

 

Pengalaman Veronika juga memperlihatkan keterkaitan antara penyakit fisik dan trauma. Selama dua belas tahun, ia mengalami pendarahan, menjalani berbagai pengobatan, dan menghabiskan seluruh hartanya tanpa memperoleh kesembuhan (Markus 5:26). Dalam konteks sosial-religius yang menghubungkan darah dengan kenajisan, kondisi tersebut menempatkannya dalam situasi rentan terhadap diskriminasi dan pengucilan. Tubuh yang seharusnya menjadi bagian akrab dari kehidupannya justru dapat dirasakan sebagai sumber penderitaan.

 

Pembacaan ini turut mempertimbangkan kemungkinan bahwa Veronika menyentuh jumbai pakaian Yesus, dengan merujuk pada ketentuan mengenai jumbai pakaian dalam Bilangan 15:37-41. Tindakan tersebut memperlihatkan ketegangan antara jarak sosial-religius dan keinginan kuat untuk memperoleh kesembuhan. Meskipun berada dalam situasi yang membatasi keberadaannya di ruang publik, Veronika memperlihatkan daya lenting melalui keberaniannya mendekati Yesus.

 

Plot Retak dan Kerapuhan Sang Pemulih

Plot retak tampak ketika Veronika menyentuh jubah Yesus dan seketika mengalami kesembuhan. Pada saat bersamaan, Yesus menyadari adanya tenaga yang keluar dari diri-Nya, kemudian berpaling dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” (Markus 5:30). Keserentakan kedua peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam rekonfigurasi narasi penyembuhan.

 

Dalam kisah ini, Veronika bukan sekadar objek pertolongan, melainkan subjek yang mengambil inisiatif bagi pemulihannya sendiri. Berbeda dengan gambaran penyembuhan ketika Yesus terlebih dahulu menyentuh orang sakit, justru Veronika yang menyentuh jubah-Nya. Kuasa yang keluar dari tubuh Yesus, yang berkaitan dengan istilah Yunani δύναμιν (dýnamin), dapat dipahami sebagai gambaran energi pemulihan yang diterima Veronika.

 

Peristiwa tersebut juga menghadirkan gambaran Yesus sebagai vulnerable healer, yakni pemulih yang mengalami kerapuhan. Kuasa keluar dari tubuh-Nya tanpa terlebih dahulu diarahkan secara sadar kepada Veronika. Yesus kemudian berpaling untuk mengetahui siapa yang telah menyentuh-Nya. Gambaran ini membuka perspektif teologis bahwa pemulihan tidak semata-mata berlangsung melalui relasi kuasa, tetapi juga melalui perjumpaan antara kerapuhan sang pemulih dan kerapuhan orang yang mengalami penderitaan.

 

Menariknya, peristiwa pemulihan tersebut berlangsung tanpa diketahui oleh orang banyak maupun para murid. Hanya Yesus dan Veronika yang merasakan apa yang terjadi. Teori witnessing dari Dori Laub, seorang penyintas Holocaust, menekankan pentingnya kesaksian dalam proses pemulihan trauma. Ketika Yesus berpaling dan mengakui pengalaman Veronika, Ia sekaligus menjadi saksi atas pemulihan perempuan tersebut.

 

Pemulihan sebagai Pembebasan

Melalui pembacaan terhadap Markus 5 dan perbandingannya dengan Lukas 8, tampak bahwa pemulihan memiliki dimensi yang lebih luas daripada penyembuhan medis. Keragaman istilah yang digunakan dalam narasi tersebut mengungkapkan pemulihan yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Dengan demikian, pemulihan tidak berhenti pada cure, tetapi bergerak menuju healing yang menyentuh keseluruhan keberadaan manusia.

 

Ketika Yesus menyapa Veronika sebagai anak dan mengakui imannya, perempuan tersebut memperoleh pengakuan atas martabat dan keberadaannya. Pemulihan tidak hanya membebaskannya dari penyakit, tetapi juga membuka kemungkinan untuk keluar dari stigma dan struktur sosial yang selama ini membatasi kehidupannya.

 

Hermeneutika trauma dengan demikian menghadirkan kritik terhadap praktik keagamaan yang mereduksi seseorang menjadi penyakit atau penderitaannya. Melalui kisah Veronika, pembacaan ini menegaskan bahwa pemulihan menuntut kesediaan untuk mendengarkan suara yang terbungkam, mengakui kemampuan penyintas untuk bertindak, dan menghadirkan bela rasa dalam relasi kemanusiaan. Teologi tidak cukup hanya berbicara mengenai pemulihan, tetapi juga perlu terlibat dalam praksis yang memungkinkan pemulihan tersebut berlangsung secara utuh. Dalam perspektif ini, pemulihan sekaligus merupakan pembebasan, yakni pembebasan dari stigma, diskriminasi, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang merampas martabat manusia.

 

Artikel ini disadur dari Seminar Alkitab. Tonton versi video lengkapnya di YouTube LAI: https://www.youtube.com/live/uvTLHG-hHLw?si=gR9O2MO131stCetv 

You may also like

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia