Seminar Alkitab | Lady Mandalika
Pertanyaan “Kitab Suci atau Kitab Patriarki?” lahir dari kegelisahan konkret atas realitas dominasi dan diskriminasi yang masih terus berlangsung, baik dalam masyarakat maupun dalam kehidupan gereja. Diskriminasi tidak lagi sekadar dibicarakan dalam kategori sederhana laki-laki versus perempuan, melainkan dalam pola-pola patriarkal yang telah mengakar dan memengaruhi kebijakan gerejawi, kebijakan sosial, bahkan cara umat memahami iman dan Kitab Suci. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pertanyaan ini menjadi semakin relevan: bagaimana nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dalam Alkitab dibaca dan dihidupi, ketika pada saat yang sama nilai-nilai patriarkal juga hadir dalam teks dan tradisi penafsirannya?
Kegelisahan ini bukanlah reaksi emosional atau sekadar tuntutan posisi setara bagi perempuan. Ia berangkat dari kesadaran bahwa pengalaman keagamaan kita dibentuk oleh cara kita membaca Kitab Suci. Jika pembacaan tersebut melanggengkan dominasi dan kekerasan, maka iman pun dapat menjadi alat legitimasi penindasan. Karena itu, pertanyaan ini merupakan panggilan untuk kembali meninjau relasi antara teks, konteks, dan praksis kehidupan beriman.
Tafsir Feminis Sebagai Kerangka Analisis
Dalam diskursus teologi kontemporer, pertanyaan ini telah lama diajukan oleh para teolog feminis, yakni mereka yang memiliki keprihatinan terhadap penafsiran yang berpihak pada keadilan dan kesetaraan. Tafsir feminis bukanlah upaya “mencari celah” demi mengangkat perempuan ke posisi dominan, melainkan sebuah pendekatan hermeneutis yang kritis terhadap pembacaan Alkitab yang diskriminatif.
Para teolog feminis menyoroti bahwa tidak hanya penafsiran yang bisa bersifat patriarkal, tetapi juga teks-teks itu sendiri dibentuk dalam konteks historis patriarkal. Alkitab tidak lahir dari ruang hampa; ia merupakan kesaksian iman yang tumbuh dalam budaya, struktur sosial, dan relasi kuasa tertentu. Karena itu, nilai-nilai yang mewarnai teks, termasuk nilai patriarkal, perlu dibaca secara kritis. Sikap kritis ini bukan berarti menolak Kitab Suci, melainkan mengupayakan pembacaan yang bertanggung jawab, yang tidak begitu saja melanggengkan nilai diskriminatif dan kekerasan.
Dengan demikian, tafsir feminis menjadi kerangka analisis, sebuah “pisau bedah” hermeneutis yang berakar pada pengalaman konkret perempuan dan kelompok rentan. Ia membuka kemungkinan penafsiran alternatif yang membebaskan dan menekankan keadilan bagi seluruh ciptaan.
Teks yang Membebaskan atau Melegitimasi Penindasan?
Secara normatif, Kitab Suci dimengerti sebagai kesaksian tentang karya keselamatan Allah: jalan keadilan, pembebasan, dan pemulihan. Namun dalam praktiknya, teks-teks Alkitab kerap dipakai untuk membenarkan kekerasan domestik, membungkam suara perempuan, atau melegitimasi kepemimpinan yang opresif. Ayat-ayat tertentu dikutip untuk mendukung tindakan represif, baik dalam keluarga maupun dalam politik.
Fenomena ini memperlihatkan ambivalensi penggunaan teks: di satu sisi mewartakan keselamatan, di sisi lain dapat menjadi alat legitimasi ketidakadilan. Ketika teks dipakai untuk membenarkan penindasan, pertanyaan kritis perlu diajukan: kabar apakah yang sedang diwartakan? Apakah itu kabar Injil (kabar baik bagi semua) atau justru reproduksi nilai patriarki?
Jika nilai diskriminatif dan kekerasan yang disuarakan, maka kekhawatiran bahwa Alkitab diperlakukan sebagai “Kitab Patriarki” menjadi relevan. Di sinilah urgensi pembacaan yang sensitif terhadap keadilan menjadi nyata.
Perjuangan yang Belum Selesai
Kita tentu layak bersyukur atas perkembangan zaman yang menunjukkan arah semakin baik. Kini perempuan dapat mengakses pendidikan, termasuk pendidikan teologi, serta terlibat dalam pelayanan. Namun hal tersebut tidak serta-merta menandakan berakhirnya persoalan ketidaksetaraan. Pertanyaan yang lebih mendalam perlu diajukan: sejauh mana perempuan memiliki ruang untuk mengekspresikan teologi yang berdialog dengan pengalaman konkret mereka? Sejauh mana mereka diakui sebagai subjek, bukan sekadar pelengkap dalam struktur gereja?
Selain itu, pergumulan ini tidak terbatas pada perempuan. Kelompok disabilitas, anak-anak, kelompok rentan, komunitas adat, serta seluruh ciptaan yang terdampak krisis ekologis juga menjadi korban praktik diskriminatif. Tafsir feminis dalam perkembangannya bergerak ke arah interseksional, membaca keterkaitan antara gender, ekonomi, ekologi, dan relasi kuasa yang saling berkelindan.
Kompleksitas Teks dan Interseksionalitas
Teks Alkitab bersifat kompleks. Di dalamnya terdapat dinamika sosial, ekonomi, politik, dan ideologis. Karena itu, pembacaan yang bertanggung jawab perlu memperhatikan seluruh aspek tersebut. Tafsir interseksional menolak reduksionisme, misalnya hanya menekankan aspek keselamatan spiritual tanpa melihat ketidakadilan sosial yang menyertainya.
Pendekatan ini juga berkembang dalam bentuk ekofeminisme, yang melihat keterkaitan antara penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi alam. Dengan demikian, pembacaan Alkitab tidak hanya berfokus pada relasi laki-laki dan perempuan, tetapi juga pada relasi manusia dengan seluruh ciptaan.
Ragam Respons terhadap “Teks Patriarki”
Respons terhadap teks-teks yang dianggap patriarkal beragam. Pertama, ada yang tetap menerima otoritas Alkitab namun mengkritik penafsiran yang opresif. Kedua, ada yang menolak otoritas Alkitab dan menyebutnya sebagai “kitab patriarki”. Ketiga, ada pendekatan yang memilih mengeksplorasi ulang simbol, metafora, dan figur perempuan dalam teks. Keempat, ada yang mengembangkan tafsir pembebasan yang bersahabat dengan semua ciptaan.
Teks yang memuat kisah kekerasan tidak serta-merta menjadi legitimasi untuk menolak keseluruhan Kitab Suci. Sebaliknya, kisah-kisah tersebut dapat menjadi bahan refleksi kritis: apa yang tidak boleh diulangi? Bagaimana kita belajar dari kegagalan masa lalu?
Membangun Perspektif Alternatif: Perempuan sebagai Subjek
Membangun tafsir alternatif berarti merekonstruksi sejarah penafsiran yang selama ini dominan berpusat pada tokoh laki-laki. Tokoh-tokoh seperti Abraham, Daud, atau Salomo sering menjadi pusat perhatian, sementara perempuan dan kelompok rentan diposisikan sebagai objek pelengkap.
Contoh menarik dapat ditemukan dalam kisah istri Simson dalam Kitab Hakim-hakim (Hakim-hakim 14-15). Tafsir yang dominan kerap menuduhnya sebagai pengkhianat karena membocorkan jawaban teka-teki. Namun pembacaan kritis menunjukkan bahwa ia dan keluarganya berada di bawah ancaman pembakaran. Tangisannya bukan manipulasi, melainkan ekspresi keputusasaan. Ia adalah korban dinamika kuasa dan perebutan ekonomi-politik antara Simson dan bangsanya. Dengan perspektif ini, ia dipulihkan sebagai subjek yang memiliki agensi dan pergumulan nyata.
Pendekatan serupa dapat diterapkan pada konteks Indonesia, ketika komunitas rentan menjadi korban perebutan kuasa dan kepentingan ekonomi, seperti dalam polemik proyek food estate di Papua yang juga mendapat perhatian dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Tafsir alternatif membantu gereja membaca realitas tersebut sebagai panggilan etis untuk membela keadilan.
Metafora tentang Allah dan Kritik atas Dominasi
Pembacaan kritis juga perlu diarahkan pada metafora tentang Allah. Jika Allah terus-menerus dipahami hanya sebagai “Bapa” dalam pengertian maskulin, padahal Alkitab menghadirkan beragam metafora (batu karang, gunung, bahkan gambaran keibuan) maka reduksi ini berpotensi mengukuhkan dominasi simbolik laki-laki. Kritik terhadap metafora bukanlah penolakan iman, melainkan upaya memperkaya pemahaman teologis sesuai dengan keluasan kesaksian Kitab Suci.
Merayakan Kepelbagaian dan Dialog Lintas Komunitas
Perkembangan terkini dalam hermeneutika menunjukkan pentingnya pembacaan lintas komunitas (cross-communitarian reading). Kelompok perempuan Kristen dan agama lain, misalnya, dapat berdialog mengenai teks dan pengalaman iman mereka. Praktik ini dirintis oleh sejumlah teolog Indonesia, yang mendorong pembacaan pelintas batas sebagai ruang solidaritas dan pembelajaran bersama.
Pendekatan dialogis ini menegaskan bahwa tafsir bukan milik satu kelompok eksklusif, melainkan proses kolektif yang memperkaya gereja dan masyarakat.
Penutup
Pertanyaan “Kitab Suci atau Kitab Patriarki?” pada akhirnya bukanlah upaya mendiskreditkan Alkitab, melainkan panggilan untuk bertanggung jawab dalam menafsirkannya. Kitab Suci menjadi “kitab patriarki” ketika ia dibaca dan diwartakan dengan nilai diskriminatif. Namun ia tetap menjadi Kitab Suci ketika dibaca dengan kepekaan terhadap keadilan, keselamatan, dan kesetaraan.
Tanggung jawab ini bersifat kolektif, bukan hanya milik pemimpin agama atau akademisi teologi, tetapi seluruh umat. Dengan membangun perspektif alternatif, mengkritisi tafsir dominan, dan merayakan kepelbagaian pembacaan, gereja dipanggil untuk mewartakan kabar baik yang sungguh membebaskan: kabar keselamatan bagi perempuan, laki-laki, dan seluruh ciptaan tanpa diskriminasi.
























