Oleh: Sigit Triyono
JAKARTA — Ruangan ibadah di GBI Sungai Yordan, Roxy Mas, Jakarta Pusat, pagi ini terasa berbeda. Tidak ada gemuruh suara jemaat menyanyi yang membahana, hanya suara musik dan teks karaoke rohani yang terpampang di layar LED. Tiga pemimpin pujian bergerak penuh penghayatan memeragakan bahasa isyarat. Dalam kesunyian yang khidmat itu, sebuah energi sukacita yang luar biasa justru memancar dengan begitu kuat.
Minggu, 28 Juni 2026, menjadi sebuah lembaran baru yang menggetarkan hati bagi saya. Untuk pertama kalinya, berdiri di depan mimbar yang tidak biasa: melayani ibadah Minggu bersama Komunitas Tuli (Tunarungu). Sebuah pengalaman berharga yang menembus batas-batas komunikasi verbal manusia.
Tepat pukul 09.00 WIB, ibadah dimulai. Ada pemandangan yang menyentuh sanubari di atas panggung dan di antara kursi jemaat. Sebanyak 39 jemaat hadir memenuhi ruangan. Menariknya, seluruh petugas ibadah—mulai dari pemimpin pujian, pendoa, pembawa persembahan, pembaca pengakuan iman, hingga penyampai berkat—adalah mereka yang tidak bisa mendengar.
Di balik kesunyian fisik mereka, ada bahasa hati yang lantang terdengar melalui gerakan tangan yang penuh penghayatan. Berdiri di samping saya, Ibu Ani dengan cekatan menerjemahkan setiap untaian kata ke dalam bahasa isyarat. Melalui jemari dan ekspresi wajah Ibu Ani, pesan firman Tuhan mengalir tanpa sekat.
Tema yang diangkat terasa begitu kontekstual dengan perjuangan hidup para jemaat: "Berdiri Teguh dan Setia." Berlandaskan dari kitab 1 Korintus 15:58:
"Karena itu, Saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab, kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (LAI-TB2).
Dari ayat tersebut, semua diajak untuk merenungkan tiga poin refleksi yang mendalam:
(1) Berdiri Teguh (Kaki yang Kokoh): Menatap dunia dengan iman yang kokoh, tidak mudah tumbang oleh badai kehidupan atau stigma. (2)Jangan Goyah/Tetap Setia (Hati yang Fokus): Menjaga hati agar tetap tertuju pada Sang Pencipta, meski di tengah keterbatasan duniawi. (3) Giat Selalu dalam Pekerjaan Tuhan (Tangan yang Bergerak): Bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk berhenti berdampak dan melayani sesama.
Bagi Komunitas Tuli, poin ketiga ini bukan sekadar teori. Gerakan tangan mereka hari itu adalah bukti nyata dari "tangan yang bergerak" untuk memuliakan Tuhan. Dan jerih payah mereka tidak sia-sia. Berkat Tuhan selalu menyertai.
Dua jam berlalu begitu cepat. Ketika ibadah usai pada pukul 11.00 WIB, suasana mencair dalam sesi ramah tamah dan foto bersama. Senyum lebar, tawa renyah, dan lambaian tangan hangat memenuhi ruangan. Tidak ada sekat, tidak ada rasa minoritas; yang ada hanyalah energi positif dan semangat yang membuncah.
Ibadah hari ini memberikan sebuah tamparan lembut sekaligus inspirasi besar bagi siapa saja yang mendengarnya: bahwa bersyukur dan melayani tidak butuh kesempurnaan fisik. Ibadah sejati lahir dari hati yang mau tunduk dan setia.
"Puji Tuhan," bersyukur atas khotbah terbaik yang justru saya terima dari keteguhan hidup jemaat Tuli hari ini.
























