Ibu Asih namanya. Lengkapnya Sri Sumarsih. Sehari-hari Bu Asih bekerja sebagai pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tuna Rungu di Gilingan, Solo. Bu Asih adalah pembina dan pengasuh Komunitas Tuli di Gereja Pengharapan Allah (GPA) di Solo. Gerejanya sudah lama memberikan pelayanan khusus bagi kaum tuli dan setiap Minggu sore menyelenggarakan Ibadah Khusus Tuna Rungu.
Menjadi guru SLB adalah jalan sunyi yang dipilihnya sejak remaja. “Saat duduk di bangku SMA, hasil tes psikologi mengarahkan saya untuk mengambil studi lanjut di bidang pendidikan. Nah, saya mengambil program studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), karena saya sadar program studi ini tidak banyak diminati orang. Dari awal saya sudah tahu Pendidikan Khusus nantinya melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Maka, selepas SMA saya mantap melanjutkan kuliah di jurusan PLB.
Suami Ibu Asih adalah seorang pendeta yang punya kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), terutama kaum tuli. Namanya Pdt. Yoesoef. Suatu hari, Pdt. Yoesoef bertanya kepada istrinya,”Coba tanyakan kepada siswa-siswamu yang anak Kristen tuna rungu. Apakah mereka bisa memahami isi khotbah atau pengajaran saat ikut orang tuanya ke gereja?”
Ternyata murid-murid tulinya yang beragama Kristen tidak paham isi ibadah di gerejanya. Mereka hanya menjalankan ibadah karena mengikuti orang tuanya semata. Tapi mereka tidak mengerti isi pujian, doa maupun khotbah di gereja. Sejak saat itulah, tumbuh kerinduan di hati Pdt. Yoesoef untuk melayani anak-anak tuli tersebut. Ibu Asih mengumpulkan siswa-siswi SLB yang tuli, dan kemudian mengadakan persekutuan bersama.
“Kami mulai mengadakan persekutuan untuk anak-anak tuli di rumah saya. Kemudian beberapa orang tua mereka mulai tertarik dan mendukung pelayanan kami. Mereka meminta kami untuk mengadakan persekutuan bergiliran di rumah para orang tua siswa tuli,”tuturnya.
Sejak 2017, Pdt. Yoesoef mulai aktif menyelenggarakan pelayanan untuk anak-anak tuli di Gereja Pengharapan Allah (GPA). Pdt. Yoesoef diberikan kepercayaan secara penuh waktu untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya para teman tuli. Tentu saja Bu Asih, sebagai guru dan orang yang berpengalaman mendampingi kaum tuli, mendampingi secara aktif pelayanan suaminya.
Saat GPA mulai menyelenggarakan ibadah khusus komunitas tuli, warga jemaat pada umumnya merasa heran dan asing. Banyak dari mereka bertanya: kok bisa? Ternyata teman-teman tuli tidak mampu mendengar namun tetap bisa beribadah. Namun, pelan tapi pasti jemaat memberikan dukungan penuh pelayanan untuk komunitas tuli. “Terutama Senior Pastor kami, Ps. Liem Pik Jiang, beliau sangat mendukung dan support pelayanan bagi komunitas tuli di GPA,” tutur Bu Asih penuh semangat.
Menjalankan pelayanan untuk Komunitas Tuli tentu saja tidak selalu mudah. “Pada masa-masa awal ketika kami melayani mereka, mereka tak jarang susah memahami materi-materi kerohanian yang kami sampaikan,”katanya.”Hal ini malah menyemangati diri kami untuk berusaha membuat materi yang memudahkan mereka memahami pengajaran Kristiani. “
“Keimanan itu kan menyangkut hal-hal yang abstrak. Tantangan, yang pertama adalah bagaimana berupaya supaya mereka bisa memahami apa yang kita sampaikan. Kemudian tantangan yang kedua, menjaga komitmen mereka. Teman-teman tuli sangat kompak, ketika salah satu dari mereka agak kendor atau malas atau mundur, hal itu bisa mempengaruhi teman-temannya yang lain,”lanjutnya.
“Tantangan yang ketiga, ketika anak-anak itu masuk dalam komunitas Tuna Rungu yang tidak se- sepaham, artinya yang di luar Kristiani. Tantangan kami adalah bagaimana membuat mereka tetap kuat di dalam iman kepada Tuhan Yesus.”
Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Isyarat bagi Bu Asih sangat penting. “Anak-anak tuli sangat bergantung pada isyarat visual, pemata. Jadi mereka lebih respek dengan komunikasi yang mengandalkan penglihatan, dibanding hanya mendengar atau membaca,”tutur Bu Asih kembali.
Puluhan tahun melayani siswa-siswi tuna rungu maupun komunitas tuli di gereja, Bu Asih merasa paling bersyukur melihat anak-anak asuhnya bertumbuh secara rohani. “Saya sungguh bersyukur melihat mereka bertumbuh semakin dewasa, bukan hanya berhenti sebagai bayi rohani. Semua itu bisa saya lihat dari perubahan sikap mereka, perkataan mereka dan ibadah pribadi mereka. Paling tidak beberapa sikap itu yang bisa saya pantau,”katanya.
Untuk memantau pertumbuhan rohani anak-anak tuna rungu, Ibu Asih juga berkoordinasi dengan orang tua ABK. Ia sadar tidak mungkin memantau anak-anak asuhnya selama 24 jam penuh. ”Saya berharap para orang tua bisa memantau ibadah pribadi anak-anak mereka, bagaimana mereka berdoa, bagaimana mereka bergaul, bagaimana mereka membaca dan belajar Kitab Suci,”katanya. ”Saya sendiri juga memantau aktivitas anak-anak melalui grup WA. Melalui grup WA saya memberi mereka kesempatan kepada anak-anak untuk mengirimkan ayat-ayat yang mereka temukan hari itu. Kalau ada yang perlu penjelasan, maka saya jelaskan kepada mereka melalui grup WA tersebut. ”
Berkomunikasi lewat WA dengan teman-teman tuli perlu kreativitas tersendiri. Bu Asih harus pandai mencari padanan kata yang mendekati istilah yang dijelaskan. “Padanan kata yang sederhana akan mudah dipahami anak-anak. Karena saya sudah lama mengajar anak-anak tuna rungu, maka saya bisa mengukur, kata-kata yang mudah dipahami atau belum bisa dimengerti oleh mereka.” Selain melalui padanan kata, Bu Asih sering memberikan contoh-contoh visual tentang hal yang diterangkan agar anak-anak asuhnya lebih mudah mengerti.
Saat mengetahui Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sedang mengerjakan penerjemahan Perjanjian Baru (PB) ke dalam bahasa Isyarat, Bu Asih sangat senang dan mendukung pelayanan ini. ”Saya sangat senang dan berharap penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Isyarat akan memudahkan teman-teman tuli untuk mempelajari dan memahami firman Tuhan,”tuturnya. ”Usul saya, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Isyarat, bukanlah penerjemahan kata demi kata, tetapi esensi dan makna dari kalimat atau tema perikop Alkitab tersebut.”
Bu Asih menyebut banyak istilah-istilah dan kata dalam Alkitab yang sulit dipahami oleh teman-teman tuli. Terutama ketika menjelaskan tentang perumpamaan. Kadang-kadang mereka kacau dalam memahami maknanya. ”Tim penerjemah perlu pandai dan tepat dalam menerjemahkan dengan tepat tanpa menyimpang dari esensi atau makna sebenarnya dari firman Tuhan tersebut,”lanjutnya.
Setelah puluhan tahun melayani teman-teman tuli, Bu Asih memandang semua hal yang dikerjakannya merupakan wujud rasa syukurnya kepada Tuhan. ”Tuhan udah memberi banyak anugerah kepada saya, terutama keselamatan. Saya juga rindu untuk menyampaikan keselamatan itu kepada banyak orang, khususnya bagi para tuna rungu. Tidak semua orang diberikan kesempatan dan mau melayani mereka,”katanya.”Saat Tuhan Yesus memberikan anugerah untuk bisa melayani teman-teman tuli, saya akan menjalankan dan memanfaatkannya sampai nafas saya yang terakhir, sampai benar-benar saya tidak berdaya untuk melayani mereka, sampai Tuhan memanggil saya pulang.”
Ia berharap semakin banyak jemaat yang ikut mendukung dan mau terlibat pelayanan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, hal utama yang perlu segera dikerjakan adalah regenerasi pelayan. Banyak orang menganggap pelayanan kepada kaum tuli sangat penting dan perlu terus dilakukan. Namun, dalam kenyataannya begitu sulit mencari pelayan-pelayan baru.
”Pelayan yang dicari adalah mereka yang bersedia melayani dengan hati. Teman-teman tuli sangat peka dengan orang-orang di sekitar mereka. Jika orang melayani mereka tidak dengan segenap hati, mereka juga menjaga jarak. Maka, yang dicari bukan sekadar mampu, tapi dengan sepenuh hati mau dan setia menjalankan pelayanan ini,”lanjutnya.”Sama seperti Kristus sudah melayani kita dengan sepenuh hati-Nya, bahkan dengan seluruh hidup-Nya dikorbankan untuk kita.”(keb)























