Antara 22 hingga 26 Agustus 2026, kami menelusuri tiga kota—Salatiga, Solo, dan Semarang—demi mengemban dua misi: meliput proses penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Isyarat di Mennonit Training Center (MTC) Salatiga, serta menjumpai secara langsung komunitas tuli dan gereja-gereja yang mendedikasikan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Di Salatiga, kami menyaksikan secara dekat bagaimana kesunyian bertransformasi menjadi karya yang hidup. Di studio MTC yang tenang, empat pemuda tuli—Hizkia, Ale, Indra, dan Wildan—bekerja bahu-membahu mendampingi Mas Tri Harmaji, Pembina Penerjemahan dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
Tugas mereka jauh dari kata sederhana. Menerjemahkan Alkitab, yang dimulai dari Injil Lukas, ke dalam Bahasa Isyarat Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan kebanyakan dari kita, teman-teman tuli memahami dunia melalui isyarat visual. Kendalanya, banyak kosakata abstrak dan istilah teologis di Alkitab yang belum memiliki padanan dalam bahasa isyarat.
Diskusi mendalam sering kali mewarnai ruang kerja mereka. Mengalihbahasakan konsep perasaan atau istilah abstrak agar mudah dipahami namun tetap konsisten bisa memakan waktu hingga satu jam lebih untuk satu ayat saja. Saat Hizkia, Ale, dan Indra berdiskusi penuh semangat lewat gerak tangan dan ekspresi wajah, Mas Tri bersama Wildan menyimak dengan saksama untuk memastikan arah penerjemahan tetap presisi dan tidak melenceng dari arti sebenarnya di dalam Kitab Suci.
Kehadiran Wildan di dalam tim memberi warna yang sangat berkesan. Sebagai seorang muslim yang taat dan masih remaja, ia hadir dengan ketulusan luar biasa. Ketika ditanya alasannya bergabung membantu tim penerjemah, Wildan menyampaikan perasaannya melalui terjemahan Mas Tri:
“Saya ingin orang-orang Tuli Kristiani memiliki akses yang mudah ke Kitab Suci mereka. Menurut saya, akses pembinaan rohani untuk umat Kristen tuli masih tertinggal dibanding muslim tuli. Saya berharap setiap orang, dari agama apa pun di Indonesia, memiliki kebebasan dan kesetaraan dalam menjalankan ibadahnya.”
Meski masih duduk di SMK Umum dan menjadi satu-satunya siswa tuli di sekolahnya, Wildan juga aktif sebagai pengurus komunitas Tuli di Salatiga. Di sekolah, ia berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya lewat layar ponsel dan bahasa isyarat sederhana—bahkan tak jarang guru dan temannya antusias belajar isyarat darinya.
Kepekaan visual dan kreativitas Wildan kerap menjadi penyelamat tim. “Wildan sering jadi rujukan saya untuk menemukan istilah baru yang belum ada di kosakata bahasa isyarat,” puji Mas Tri. Kami bahkan menyaksikan sendiri bagaimana Wildan dengan cerdik dan efisien menemukan gerakan isyarat yang tepat untuk menggambarkan istilah "roti tidak beragi".
Latar belakang Ale dan Hizkia sedikit berbeda. Keduanya lahir dan tumbuh dalam keluarga Kristen. Mereka aktif di Komunitas Tuli Gereja Pengharapan Allah, Solo. Ale merupakan seorang sarjana teologi yang bekerja di bagian administrasi percetakan, sementara Hizkia bekerja sebagai penata letak (layout) di sebuah percetakan digital. Kendati rajin beribadah di gereja setiap Minggu, keduanya kerap memendam dahaga spiritual yang sama: mereka hadir, namun tak bisa mendengar dan memahami pesan khotbah yang disampaikan. Sampai suatu ketika, Pdt. Yoesoef dan istrinya, Ibu Asih, dari Gereja Pengharapan Allah Solo menggagas ibadah yang khusus melayani teman-teman tuli di gerejanya.
Karena itu, ketika diajak bergabung dalam proyek ini, keduanya menyambutnya dengan sukacita. Mereka merindukan momen di mana teman-teman tuli dapat memahami Alkitab secara mandiri dan menghidupi firman tersebut dalam keseharian.
Saat anak muda lain memilih memanfaatkan akhir pekan untuk bersantai, Ale, Hizkia, Indra, dan Wildan memilih jalan yang berbeda. Sabtu dan Minggu mereka dihabiskan di Salatiga. Di dalam ruang studio yang sunyi, tidak banyak suara keluar dari bibir mereka, tetapi tatapan mata yang tajam dan jemari yang menari lincah memperlihatkan ketekunan dan dedikasi yang mendalam untuk sebuah tugas mulia.
Dukungan penuh juga mengalir dari Ibu Asih, pembina komunitas Tuli Gereja Pengharapan Allah Solo. Ia menekankan bahwa penerjemahan ini baiknya menggunakan pendekatan parafrase—menyampaikan inti pesan cerita, bukan sekadar kata demi kata. “Banyak istilah abstrak dan perumpamaan di Alkitab yang rumit dan sulit dialihbahasakan ke dalam bahasa isyarat. Tim harus mampu menerjemahkannya dengan tepat tanpa mengikis esensi firman Tuhan,” ungkapnya.
Pentingnya proyek ini dirasakan pula oleh Pak Brent Baker, misionaris asal Amerika Serikat yang telah lebih dari 30 tahun melayani di Indonesia. Kami bertemu dengan beliau dalam ibadah untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) di Gereja ABK Eben Haeser, Salatiga. Baginya, kaum tuli yang belum tersentuh pelayanan ibadah yang inklusif ibarat 'suku yang terasing atau terabaikan'.
“Mereka hadir di gereja, tetapi seperti terasing karena tidak mengerti apa yang disampaikan. Untuk melayani mereka, Alkitab dalam bahasa dan media yang mereka pahami adalah kebutuhan mutlak. Kehadiran Alkitab Bahasa Isyarat ini akan menuntun mereka untuk bisa belajar sendiri dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan,” tuturnya menutup perbincangan. (keb)























