Merayakan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang
Di balik pegunungan yang berbaris dan membentang di pedalaman Mamuju, Sulawesi Barat, bisikan angin pegunungan menyatu dengan gema nada syukur yang membahana. Ribuan umat merayakan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang (IMTK). Rangkaian acara yang berpuncak pada 31 Oktober 2026 diselimuti suasana rohani dan nuansa kebudayaan yang kental.
Umat dan tamu undangan yang hadir mengenakan busana adat khas Kalumpang, Kaya' Bei, berpadu dengan keelokan kain warisan budaya dunia Tenun Ikat Sekomandi. Kemeriahan acara dilengkapi dengan pagelaran seni tarian tradisional seperti Tari Sayo, alunan musik bambu, drama sosio-sejarah masuknya Injil, pameran budaya, hingga peresmian Monumen 100 Tahun IMTK setinggi lima meter yang menampilkan patung Yesus berdiri di atas bola dunia.
Ketua Sinode Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB), Pdt. Mardi Tamandalan, sebagai tuan rumah menyampaikan rasa syukur atas karya pemeliharaan Allah yang tak kunjung putus kepada GKSB dan seluruh masyarakat Kalumpang. Lebih lanjut beliau menyatakan,” Maksud pelaksanaan Perayaan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat dan anugerah-Nya, sekaligus mengenang perjalanan iman para pendahulu yang telah menerima dan menyebarkan Injil. Tujuannya adalah memperkuat komitmen umat Kristiani dan warga GKSB mengikuti ajaran Injil untuk terus hidup sesuai nilai-nilai Injil... Kita berharap pelaksanaan perayaan ini menjadi refleksi bagi umat Kristiani dalam memahami sejarah, rasa syukur atas karya penggagas, pendiri, pelanjut, dan pengembang gereja, serta meletakkan dasar yang kokoh untuk keberlangsungan gereja Tuhan pada saat ini dan masa depan..."
Pdt. Mardi juga menekankan pentingnya merawat adat istiadat setempat sebagai benteng kontrol sosial dan alat pemelihara iman keselamatan. Tepat sekali tema perayaan yang diangkat “Kami Berjalan dalam Terang Kehidupan" (bdk. Yohanes 8:12) serta tema GKSB tahun ini"Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran" (bdk. Efesus 5:8b-9). Melalui kehadirannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, umat diajak untuk berperan aktif dan menegaskan panggilan dan jati diri mereka sebagai orang-orang yang yang telah dipanggil keluar dari ‘kegelapan’ menuju ‘terang’ keselamatan Kristus.
Pada 1926, melalui pelayanan Pekabaran Injil Indische Kerk (IK), Tobara (Ketua Adat) Tamalea ke-22, yang bergelar Tobarak Tosondo Dilangi, Rinding Batu Pongkapadang (Toibalabassi) menjadi orang pertama yang menerima baptisan. Pembaptisan perdana ini kemudian diikuti oleh seluruh penduduk Tamalea pada saat itu.
Pengakuan percaya oleh pemangku adat ini menjadi pintu masuk bagi pekabaran Injil selanjutnya di pedalaman Mamuju. Sejak saat itu, pendaran cahaya Injil Kristus meretas batas-batas zaman, tumbuh, berakar, dan berbuah hingga menjadi Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB) yang menjadi institusi gerejawi tertua di Tanah Kalumpang.
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka yang hadir mewakili pemerintah pusat mengapresiasi keteguhan masyarakat Kalumpang dalam menjaga keimanan.
“Banyak hal yang bisa berubah, tapi saya mengapresiasi bagaimana para pendeta, warga Kalumpang menjaga agar terang dari 100 tahun lalu tetap menyala di masa kini. Menjaga agar keteguhan dari 100 tahun lalu tetap mengakar kuat. Menjaga agar keyakinan dari 100 tahun lalu tetap lestari,” ujar Wapres.
Wapres juga mengapresiasi penyelenggaraan perayaan yang tidak hanya berfokus pada perjalanan iman, tetapi turut mengangkat keluhuran budaya, tradisi, dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Menurutnya, ketiga hal tersebut merupakan bagian dari warisan para leluhur yang perlu terus dijaga. “Karena di balik setiap tradisi dan adat istiadat, tersimpan cerita tentang kehidupan, keimanan, penjagaan alam dari para leluhur kita. Tanah Kalumpang ini menyimpan jejak peradaban dari para pendahulu, menjadi tugas kita bersama untuk merawat dan melestarikannya,” tuturnya.
Kehadiran Wapres disambut antusias oleh masyarakat. Nuansa kekeluargaan begitu terasa, apalagi saat Wapres menyapa masyarakat menggunakan bahasa lokal Kalumpang di awal sambutannya, sontak disambut riuh dan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin. Sapaan dalam bahasa setempat itu tidak hanya menghadirkan suasana semakin akrab dan hangat, tapi juga menjadi bentuk penghormatan Wapres terhadap bahasa dan identitas budaya masyarakat Kalumpang. Usai memberikan sambutan Wapres Gibran meresmikan dan menandatangani monumen IMTK.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, selaku pemerintah daerah menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya terhadap masyarakat Kalumpang yang dinilainya ramah, lembut, serta mampu mengekspresikan nilai-nilai kitab suci ke dalam tingkah laku sehari-hari. Beliau memuji tingginya toleransi beragama dan kekayaan budaya lokal yang telah mendunia.
Dalam sambutannya beliau menegaskan,”Injil bukan hanya kitab suci, dia harus dibaca, dia harus dipahami, tapi juga harus bisa menjadi ekspresi. Tingkah laku kita bisa jadi bagian daripada hidup kita, dan masyarakat Kalumpang telah mengekspresikan seperti itu. Olehnya itu patut kita bersyukur dan rayakan 100 tahun Injil masuk Tanah Kalumpang ini. Saya juga bangga karena ternyata budaya Kalumpang, Sekomandi, Tari Sayo, dan lain sebagainya itu sudah menjadi bagian dan ciri khas dari budaya Sulawesi Barat... Pada saat kita memahami agama, maka pada saat itu pula kita akan memahami perbedaan. Indonesia tidak satu agama, dengan demikian dituntut persatuan, dan inti dari persatuan adalah rasa toleransi yang tinggi. Masyarakat Kalumpang sudah melaksanakan itu dengan baik."
Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selaku mitra pelayanan GKSB dalam penerjemahan dan penyebaran Alkitab, dalam sambutannya yang disampaikan melalui rekaman video menyampaikan selamat atas momentum emas ini dan menggarisbawahi pentingnya menjaga nyala api pekabaran Injil melalui kemitraan yang erat.
"Harapan kita bersama, peringatan satu abad ini menjadi peletakan dasar inspirasi yang kokoh agar semangat dan jiwa misi yang telah dirintis oleh para pendahulu 100 tahun lalu terus hidup dan bertumbuh di dalam hati setiap umat. Nyala api Injil hendaknya tidak berhenti sebagai sejarah, tetapi mewujud secara nyata dalam tindakan kasih, keadilan, serta kebaikan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara," tuturnya.
Perayaan 100 tahun tentunya bukan titik akhir atau sekadar panggung selebrasi historis. Peristiwa ini adalah sebuah kairos—waktu Tuhan yang kudus untuk memanggil setiap hati kembali kepada hakekat imannya.
Di tengah gelombang perubahan zaman, modernisasi, dan berbagai tantangan kebangsaan, gereja dan umat diajak untuk melihat kembali kepada fondasi utamanya: Alkitab sebagai firman Allah yang hidup. Mengasihi Kitab Suci tidak cukup hanya dengan menyimpannya di atas altar atau memenjarakannya dalam lembaran-lembaran hafalan. Mencintai Kitab Suci berarti membuka hati untuk dibentuk oleh Kebenaran-Nya, menjadikan ajaran-Nya sebagai pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kehidupan sehari-hari.
Semangat pekabaran Injil yang membakar semangat para pendahulu pada abad yang lalu saat menembus kerapatan hutan dan pegunungan Kalumpang harus tetap lestari dan membara di hati generasi Kalumpang pada hari ini. Dunia masa kini merindukan kesaksian hidup dari orang-orang yang membawa Kabar Baik, yang memancarkan terang, keadilan, dan kedamaian bukan hanya dalam ucapan namun juga tindakan.(diana/mks)
























