Ada nasihat yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan seseorang. Kata-kata itu mungkin diucapkan dalam percakapan sederhana di rumah, tetapi maknanya terus menyertai perjalanan hidup. Tidak jarang, nasihat seperti itu datang dari seorang ibu, sosok yang mengenal anaknya bukan hanya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai harapan yang dipercayakan Tuhan. Bagian penutup dalam Kitab Amsal dibuka dengan suasana yang hangat seperti itu. Di sana tercatat “Inilah perkataan Lemuel, raja Masa,” yang sebenarnya merupakan ajaran yang ia terima dari ibunya. Dengan cara yang indah, kitab ini menempatkan suara seorang perempuan sebagai sumber hikmat yang membimbing seorang pemimpin.
Sang ibu memanggil anaknya dengan ungkapan penuh kedekatan, “anakku, anak kandungku, anak nazarku”. Kata-kata itu mengingatkan bahwa kehidupan sang raja tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk oleh doa dan pengharapan. Karena itu ia memperingatkan agar kekuatan dan kewibawaannya tidak disia-siakan oleh hawa nafsu atau kesenangan yang merusak pertimbangan. Dalam sejarah Alkitab, kegagalan banyak pemimpin sering berawal dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Ketika seorang pemimpin kehilangan kejernihan hati dan pikiran, keadilan mudah diabaikan, dan mereka yang paling lemahlah yang pertama merasakan akibatnya.
Nasihat itu kemudian menyinggung bahaya mabuk dan kehilangan kendali diri. Seorang raja yang tenggelam dalam kesenangan akan mudah melupakan hukum yang seharusnya melindungi orang miskin. Karena itu sang ibu mengingatkan bahwa kekuasaan menuntut kejernihan pikiran dan keteguhan hati. Kepemimpinan yang bijaksana tidak hanya diukur dari kerasnya perintah disampaikan, tetapi dari kemampuan menjaga diri agar tetap setia pada keadilan.
Puncak nasihat ini sangat jelas: “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu.” Mereka yang miskin dan tertindas sering tidak memiliki suara dalam ruang keadilan. Sang raja dipanggil untuk berbicara bagi mereka, membela hak orang yang lemah, dan menegakkan keadilan bagi yang papa. Menariknya, pada bagian akhir kitab ini peran perempuan justru tampil dalam cahaya yang sangat positif. Jika sebelumnya perempuan kadang dipakai sebagai gambaran tentang godaan yang menyesatkan, di sini seorang ibu menjadi pengajar hikmat bagi raja, dan setelahnya akan digambarkan sosok perempuan yang cakap dan penuh kebajikan.
Sahabat Alkitab, nasihat seorang ibu ini mengingatkan kita bahwa hikmat sejati tidak berhenti pada kata-kata yang bijak. Hikmat menjadi nyata ketika seseorang berani menggunakan pengaruh dan suaranya untuk menegakkan keadilan. Tidak semua orang memegang kuasa seperti seorang raja atau presiden, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk bersuara. Dalam dunia yang sering memberi ruang lebih besar kepada yang kuat, firman Tuhan mengajak kita untuk bertanya: apakah suara kita turut menghadirkan keadilan bagi mereka yang lemah, atau justru kita memilih diam ketika ketidakadilan terjadi? Di situlah hikmat diuji, bukan hanya dalam apa yang kita pikirkan, tetapi dalam keberanian kita berpihak pada yang benar.
























