Seringkali saat segala sesuatu terjadi kita tidak pernah dapat menerka dengan pasti, alasan hal-hal tersebut muncul dalam kehidupan ini. Baik itu peristiwa-peristiwa yang terasa begitu mendebarkan dan menyenangkan hati, maupun tragedi atau kesedihan yang terjadi dalam kehidupan. Namun biasanya pertanyaan tentang mengapa sesuatu harus terjadi dalam hidup, lebih jamak terdengar saat kesedihan dan tragedi terjadi dalam kehidupan. Ketika sesuatu yang diluar bayangan dan harapan kita terjadi begitu saja.
Pengkhotbah mencoba untuk menjawab pertanyaan abadi tersebut dengan sebuah kejujuran. Ia memulai refleksinya dengan berkata, “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (ay. 3).” Selanjutnya ia menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Dua peristiwa yang mempunyai spektrum berlawanan, tetapi tetap terjadi dalam dunia. Ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal. Ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk meratap dan ada waktu untuk menari. Segala sesuatu ada waktu dan musimnya sendiri untuk hadir dalam dunia. Persoalannya adalah kita seringkali hanya menginginkan satu jenis waktu/musim: sesuatu yang menghadirkan kemudahan, kenyamanan, dan kesenangan. Kita mengasosiasikan penyertaan Tuhan hanya pada hal-hal tersebut.
Padahal Tuhan ada dalam setiap peristiwa, masa, dan waktu. Baik itu saat tertawa ataupun menangis, Tuhan tetap hadir dalam hidup kita. Itulah kedaulatan Allah yang membuat kita takut akan Dia. Tidak seorang pun dapat menyelami pekerjaan Allah dan segala sesuatu yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Kita hanya bisa berpegang teguh pada janji penyertaan-Nya bahwa, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (ay. 11).”
Pada akhirnya berdasarkan refleksi pengkhotbah, tragedi terjadi dalam hidup kita karena memang sudah saatnya itu terjadi. Sebagaimana kebahagiaan dan tawa juga akan terjadi, jika sudah pada waktunya. Mengenai masa, waktu dan musim sepenuhnya berada pada kedaulatan Allah yang tidak dapat kita cerna cara kerja-Nya. Namun manusia dapat merasakan kelegaan karena Tuhan berjanji akan menghadirkan keindahan tepat pada waktunya. Itulah dasar untuk kita berharap dan menjalani kehidupan.
























