Beberapa waktu belakangan kita sering mendengar kata “blunder” berseliweran di linimasa media sosial kita ataupun kanal berita di televisi. Upaya mengkritisi beberapa kebijakan penguasa atau oknum-oknum yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma hukum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, blunder adalah kesalahan yang serius atau memalukan yang disebabkan oleh kebodohan, kecerobohan, atau kelalaian. Kalau begitu bukankah seringkali kita juga terjebak dalam tindakan-tindakan blunder. Terutama tindakan yang digerakkan oleh hawa nafsu serta keangkuhan kita sebagai manusia.
Inilah yang terjadi pada Kerajaan Yehuda di masa awal karya nabi Yeremia. Yehuda tengah menghadapi krisis baik itu karena kemerosotan kondisi dalam negeri di bidang ekonomi, sosial-politik, serta spiritualitas. Belum lagi ancaman-ancaman kerajaan-kerajaan kuat di sekitar Yehuda. Sayangnya pada krisis yang hebat tersebut Yehuda meminggirkan Allah dan ketetapan-Nya. Penyembahan kepada berhala semakin menguat, selain itu para pemimpin bangsa justru mengharapkan bantuan dari negara-negara asing seperti Asyur dan Mesir. Padahal keduanya jelas-jelas meremehkan Yehuda dan hanya ingin memanfaatkannya saja.
Namun itulah tindakan blunder Yehuda. Ia tidak menghargai status yang selama ini telah dimilikinya yakni sebagai bangsa terpilih, umat Tuhan, dan anak-Nya yang terkasih. Alih-alih berlaku sebagai “anak”, Yehuda justru bertindak sebagai budak dengan tunduk pada kuasa-kuasa di luar Allah (ay. 14-15). Apa yang dilakukan Yehuda bukan sekedar kesalahan diplomasi melainkan tindakan memberontak terhadap Allah. Mereka tidak lagi mengandalkan-Nya sebagai satu-satunya penolong.
Bukankah keblunderan Yehuda justru seringkali kita perbuat? Kita berharap pada “kuasa-kuasa” lain di luar Allah, apapun itu bentuknya. Janji setia Allah dan bukti atas tindakan-Nya di sepanjang sejarah umat manusia seolah-olah angin lalu belaka bagi manusia yang merasa dirinya lebih hebat dari apapun. Hanya dengan pertobatan yang sungguh kita bisa kembali pada relasi yang benar dengan-Nya. Kebebalan dan bertahan pada “keblunderan” hanya membuat keadilan Allah dinyatakan kepada kita. Sekarang pilihannya terletak pada kita semua.



















