Seberapa jauh kita rela berpegang dan menegakkan kebenaran? Dalam pemikiran yang utopis, mereka yang menyatakan kebenaran seolah-olah akan dirayakan dan didukung oleh banyak sekali orang. Sementara itu realitanya, mereka yang menyatakan kebenaran memang akan didukung oleh banyak orang, tetapi orang-orang yang tidak menyukai kebenaran itu disuarakan seringkali jumlahnya lebih banyak. Mereka rela melakukan segala sesuatu agar kebenaran itu dibungkam dan kejahatan tetap dapat bertumbuh subur.
Itulah konsekuensi yang harus diterima Yeremia saat ia menyampaikan kabar penghukuman kepada segenap penduduk Yehuda. Tembikar yang dihancurkan dan tidak dapat kembali pulih menjadi simbol penghukuman yang membekas dan tidak mudah lepas dari benak siapapun. Termasuk Imam Pashur bin Imar, seorang kepala pengawas di Rumah Tuhan. Yeremia dibungkamnya dengan menggunakan kekerasan. Nabi itu dipukul dan dipasung di pintu Gerbang Benyamin Atas di Rumah Tuhan. Sehari semalam Nabi Yeremia dipasung. Keesokan harinya setelah Pashur melepaskannya, Yeremia sama sekali tidak bungkam melainkan tetap menyuarakan kebenaran dengan lantang.
Yeremia menyatakan perlawanannya secara terbuka kepada Pashur. Namanya diubah oleh Yeremia menjadi “kegentaran dari segala jurusan” Sebuah gambaran akan masa depan yang akan diterima pashur beserta teman-temannya yang menolak kebenaran dari Allah. Mereka akan dimusnahkan dengan pedang dan seluruh Yehuda ke dalam tangan raja Babel.
Sahabat Alkitab, menyuarakan kebenaran memang sulit. Apalagi kita pernah hidup dalam sebuah masa dimana mereka yang berani berkata dan bertindak benar justru menjadi musuh bersama. Namun janganlah takut dan gentar karena mereka yang menjadi rintangan bagi dinyatakannya kebenaran akan menerima pernyataan keadilan Allah. Tugas kita sebagai seorang Kristen adalah tetap menyuarakan kebenaran apapun resikonya melalui kata-kata dan perbuatan kita.
























