Manifestasi dari kasih bisa hadir dalam berbagai bentuk. Kadangkala wujudnya adalah sapaan lembut dan penuh afeksi, tetapi tidak jarang bahwa kasih juga hadir dalam larangan atau kata-kata tegas yang kita sampaikan kepada orang lain. Misalnya saja cara orang tua mengasihi anaknya, tidak hanya diwujudkan dalam pelukan hangat setiap pagi tetapi juga larangan untuk tidak pulang terlalu malam. Begitulah cara Tuhan mengasihi kita. Kadangkala kasih-Nya terwujud dalam didikan yang begitu keras dan menyentak kita.
Inilah yang hendak kembali ditegaskan oleh Yeremia dalam perikop yang kita baca. Pembuangan sebagian bangsa Yehuda ke tanah Babel dan kekalahan kerajaan Yehuda adalah sebuah fakta yang begitu menyayat hati. Ketakutan dan tangis merebak di seluruh negeri. Mereka seperti menderita luka yang tidak dapat disembuhkan. Secara manusiawi kita dapat mengatakan bahwa Yehuda sudah tidak tertolong lagi. Namun melalui nubuat Nabi Yeremia kita melihat bahwa dengan tegas Tuhan menyatakan bahwa dari ketidakberdayaan itulah Tuhan akan menolong mereka. Anugerah-Nya terasa semakin nyata.
Lagipula Tuhan mengingatkan bahwa apa yang bangsa itu alami merupakan konsekuensi dari ketidaktaatan mereka di masa lampau. Dengan demikian apa yang saat itu terjadi adalah juga bagian dari hikmat serta kebijaksanaan Allah. Lagipula dalam segala derita tersebut, Allah tidak pernah meninggalkan mereka dan suatu saat pemulihan itu akan terjadi. Pembuangan yang terjadi bagaikan sebuah tungku yang akan memurnikan bangsa pilihan Allah tersebut.
Sahabat Alkitab, saat tantangan dan pergumulan kehidupan datang sesungguhnya saat itulah menjadi masa yang tepat bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon hikmat serta kebijaksanaan-Nya. Mungkin saja Ia sedang mendidik kita untuk sabar atau menegur kita untuk lebih berserah kepada-Nya. Pesan apapun itu yang mencuat melalui pergumulan dan tantangan yang kita hadapi, hanya dapat kita pahami saat hati betul-betul berserah dan kembali kepada Tuhan. Sebab diujung dari setiap sapaan Allah bagi anak-anak-Nya, selalu ada janji pemulihan: bahwa kita tidak akan ditinggalkan, dan bahwa “luka yang paling parah” sekalipun akan menemukan kesembuhannya di dalam Dia.
























